21.08.2009 19:24:52 WIB
Oleh ADIS OKTAVIANI
BUDAYAWAN dan sejarawan Palembang Djohan Hanafiah mengatakan kemungkinan adanya harta karun di sungai Musi, cukuplah besar. Sebab sebagai kota tua, dan sungai Musi sudah ratusan tahun digunakan masyarakat, kemungkinan tersebut cukuplah besar. “Tapi yang paling mungkin di muara Sungai Musi, sebab saat itu begitu banyak kapal yang karam di sana," katanya, saat dihubungi melalui telepon, Jumat (21/08/2009).
"Selain di muara juga di daerah hilir sungai Musi, seperti Palembang, sebab sejak dahulu menjadi pusat aktifitas masyarakat. Kalau di hulu rasanya kurang sebab aktifitas manusia lebih sedikit,” lanjutnya.
Logikanya, kata Djohan, bisa saja selama ratusan tahun ada harta benda milik warga yang kecemplung atau hilang di sungai Musi. Itu belum lagi ditambah dengan harta benda dari kapal yang tenggelam. “Kan tidak semua benda berharga yang jatuh dapat ditemukan saat dicari. Kemungkinan masih tersimpan di dalam lumpur sungai Musi sangatlah mungkin,” ujarnya.
Kenapa di pesisir bagian hilir sungai Musi yang ditelusuri para pencari harta karun? “Ya, sebab sepanjang tepian itu aktifitas warga lebih lama atau banyak. Baik di masa kerajaan Sriwijaya maupun Kesultanan Palembang Darussalam,” katanya.
Sebagai informasi, sebelum penjajah Eropa datang ke Nusantara, Palembang merupakan kota terbesar dan teramai di nusantara. Berbagai suku bangsa di nusantara maupun di dunia, khususnya dari India dan Tiongkok, berdatangan ke Palembang melalui sungai Musi. Di Palembang mereka melakukan perdagangan, seperti rempah-rempah, keramik, emas, atau benda-benda berharga lainnya.
Peranan Palembang mulai berkurang, setelah kolonial Hindia Belanda menjadikan kampung Sunda Kelapa di ujung Utara-Barat pulau Jawa itu menjadi Batavia atau Jakarta.
