Internasional

Tim Basket Perempuan dalam Ancaman Syariat

coba

21.10.2011 21:22:06 WIB

Oleh Shafi'i Mohyaddin Abokar

MOGADISHU (IPS) – KETIKA kelompok militan Al-Shabaab mengancam kapten tim basket perempuan Somalia, Suweys Ali Jama, dan memberikannya dua opsi: berhenti main basket atau dibunuh, dia memutuskan tak memilih salah satu.

“Pada akhirnya toh saya akan mati –tak ada yang dapat membunuh saya kecuali Allah. Saya takkan menghentikan profesi saya selama saya masih hidup,” kata Jama kepada IPS.

“Sekarang saya pemain. Bahkan jika pensiun, saya ingin menjadi pelatih. Saya akan berhenti main basket jika saya mati.”

Kelompok militer jaringan Al-Qaeda itu mengendalikan sebagian besar Somalia dan menduduki hampir separuh ibukota Mogadishu hingga penarikan pasukan yang mengejutkan pada 6 Agustus. Namun keberadaan kelompok itu masih tersisa. Al-Shabaab mengklaim bertanggungjawab atas serangan di ibukota pada 4 Oktober lalu yang menewaskan setidaknya 70 orang.

Kini Jama dan anggota timnya menerima ancaman pembunuhan dari kelompok militan Islam itu, memandang partisipasi perempuan dalam olahraga sebagai “tak Islami.”

Pada Agustus 2006 Somali Islamic Courts Union (ICU), lembaga peradilan Syariah, mengeluarkan larangan perempuan Somalia bermain olahraga, menyebutnya “warisan kebudayaan Kristen lama.” Saat itu ICU mengendalikan Mogadishu tapi kehilangan kontrol atas kota itu pada Desember 2006.

Al-Shabaab, sayap bersenjata ICU, tak mengubah pendirian mereka mengenai larangan itu.

Aisha Mohamed, wakil kapten tim nasional basket perempuan Somalia, mengatakan para militan juga mengancamnya.

“’Anda punya dua kesalahan. Pertama, Anda seorang perempuan dan Anda bermain olahraga yang dilarang dalam hukum Islam. Kedua, Anda mewakili klub militer yang merupakan boneka kaum kafir. 'Jadi Anda adalah target kami di manapun Anda berada,’ ancam kaum Islamis kepada saya melalui telepon. Tapi saya masih setia pada profesi saya,” kata Mohamed kepada IPS.

Mohamed salah satu anggota tim nasional yang berasal dari klub olahraga militer Somalia, Horseed. Ibu Mohamed adalah mantan anggota tim nasional perempuan dan bermain olahraga sejak kecil.

Basket adalah olahraga terpopuler kedua di Somalia setelah sepakbola. Keduanya, bersama bola tangan, adalah olahraga yang dimainkan perempuan. Namun perempuan mendapatkan gaji sedikit sebagai pemain basket profesional.

“Saya manusia dan saya takut, tapi saya tahu hanya Allah yang mampu membunuh saya,” kata Mohamed, 21 tahun, menirukan pernyataan Jama.

Tim basket ini pun berlatih untuk Arab Games di Qatar Desember mendatang di balik tembok antipeluru yang aman di lapangan basket milik akademi polisi Somalia.

Suatu hari di bawah langit biru yang cerah, dengan mengenakan baju olahraga dan kaos longgar serta jilbab, mereka berlari-lari di lapangan di tengah kehadiran ratusan polisi.

Usai lari-lari, mereka berbaris dan mulai menembakkan bola ke jaring basket. Selama sepekan mereka berlatih dua jam sehari dan hanya libur pada Kamis dan Jumat.

Pada sore hari, begitu meninggalkan lokasi latihan, mereka sudah mengganti baju olahraga dengan pakaian dan jilbab yang menutupi seluruh badan. Mereka juga memakai Yashmak, sehelai kain yang menutupi wajah mereka.

Tim nasional basket perempuan Somalia terbentuk pada 1970 dan ikut dalam kompetisi Afrika dan regional selama bertahun-tahu meski tak pernah sekalipun juara, ujar Ketua Komite Nasional Olimpiade Aden Hajji Yeberow.

Namun larangan tahun 2006 terhadap kegiatan perempuan dalam lapangan olahraga telah menyendat perkembangan tim bakset perempuan di negara Afrika Timur ini, ujar Wakil Sekretaris Jendral Federasi Bolabasket Somalia Abdi Abdulle Ahmed.

“Larangan kaum Islamis itu mendorong beberapa perempuan (menghentikan kegiatan olahraga), karena ketakutan,” ujar Ahmed kepada IPS.

Ketua Federasi Bolabasket Somalia Hussein Ibrahim Ali berkata, setiap kali perempuan mulai bergiat dalam olahraga basket, terjadi upaya mengatur olahraga ini lagi.

Larangan itu, yang menyebabkan hampir 200 perempuan meninggalkan kegiatan olahraga karena takut dibunuh, hanyalah satu peristiwa di Somalia. Dua dekade perang saudara adalah peristiwa lainnya. Sejak pertengahan Juli, kemarau menyapu negara ini, dan kelaparan dideklarasikan di wilayah Somalia selatan.

Ali menambahkan, minimnya sponsor dan jaminan keamanan merupakan pembunuh terbesar olahraga di Somalia.

“Ketika dunia tahu bahwa Somalia dalam penderitaan dan para perempuan kami bermain di turnamen internasional, ini akan menjadi publisitas yang berarti bagi seluruh negeri dan, khususnya, untuk federasi bola basket,” kata Ali.

Pelatih basket perempun Ali Sheik Muktar mengatakan, dia berharap timnya bisa sukses di Arab Games nanti.

“Memiliki tim perempuan sangat berarti bagi Somalia,” ujar Ali.*



Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

Komentar


Berita Terkait