09.01.2010 19:25:12 WIB
Oleh JAJANG R. KAWENTAR
LANTARAN kurangnya penjelasan mengenai perkembangan seni rupa di Sumatra Selatan, apresiasi terhadap seni rupa menjadi lemah. Padahal sejak prasejarah hingga hari ini, seni rupa merupakan rumpun seni terdepan dalam membangun kebudayaan "Batanghari Sembilan". Maka seni rupa Sumsel butuh juru bicara.
"Oleh karena itu, media massa, lembaga kesenian, serta lembaga pendidikan harus turut menginformasikan semaksimal mungkin perkembangan seni rupa di Sumsel. Misalnya, sampai saat ini tidak ada data pasti mengenai jumlah para perupa, apalagi catatan atau data mengenai kegiatan seni rupa di Sumsel," kata Edy Fahyuni, saat diskusi di Sarang Semut, Jalan Pelita, Sekip Ujung, Palembang, Sabtu (09/01/2010).
"Tepatnya, Sumsel butuh juru bicara," kata Edy Fahyuni.
Selain itu, para perupa jangan terlalu tergantung dengan lembaga-lembaga kesenian yang ada. "Semangat penghidupan kantong-kantong kebudayaan atau kesenian seperti di masa Orde Baru, tampaknya tetap harus dipertahankan atau dihidupkan kembali. Reformasi tidak membawa perubahan yang positif terhadap lembaga-lembaga kesenian sebagai mitra pemerintah," kata Teguh Wong.
Para perupa di Sumsel juga diharapkan lebih terbuka memanfaatkan akses informasi dan fasilitas publik sebagai media berkesenian. "Ya, sejauh itu menguntungkan rumpun seni rupa itu. Misalnya memanfaatkan teknologi, fasilitas publik, atau fasilitas yang disediakan berbagai pihak lainnya," kata Marta Astra.
