24.04.2011 16:05:12 WIB
Oleh Taufik Wijaya
SEORANG jurnalis yang hebat itu yang bagaimana? Beberapa kawan bertanya, apakah seperti Adam Malik, seorang jurnalis yang berprestasi di dunia politik? Apakah seperti Gunawan Muhammad yang menjadi konglomerat media massa?
Saya hanya mengatakan jurnalis yang hebat itu, seorang jurnalis yang saat ajal menjemputnya masih merencanakan, meliput, menyusun, atau menulis atau memproduksi sebuah berita. Artinya, seorang jurnalis yang hebat adalah seseorang yang setia dengan pekerjaannya. Setia dengan tugasnya sebagai seorang pewarta.
Jadi, jurnalis yang menjadi politikus, konglomerat, dan meninggalkan dunia jurnalistik, dapat dikatakan telah gagal menjadi seorang jurnalis. Artinya, jika dia melakoni profesi yang lain, dan tetap mengerjakan tugas jurnalistik, tentunya dengan standard jurnalistik, dia tetap saja disebut seorang jurnalis.
Pernyataan saya tersebut didukung oleh Andreas Harsono, seorang jurnalis dan penggiat HAM International. “Junalis itu sama seperti dokter, seniman, yang artinya dia tetap diakui selama masih menjalankan fungsinya,” kata Andreas.
DALAM berbagai kegiatan pelatihan jurnalistik pascareformasi 1998, selalu muncul pertanyaan seperti ini, “Jika Anda sebagai jurnalis mengetahui atau diberitahu seseorang untuk melakukan pengeboman atau pembunuhan, apakah Anda akan membiarkan hal tersebut terjadi, dan menjadikannya sebagai sebuah berita eksklusif, atau Anda akan buru-buru memberitahu soal rencana tersebut?”
Pertayaan sederhana itu, memakan waktu perdebatan selama hampir lima jam, dalam sebuah pelatihan jurnalistik di Denpasar Bali tahun 2000 lalu. Sebagian mengatakan itu sebuah “rezeki” bagi seorang jurnalis buat mendapatkan berita yang eksklusif. Menariknya, pendapat ini diiyakan hampir sebagian jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia. Sementara yang berpendapat akan melaporkannya ke pihak keamanan diejek sebagai “informan polisi”.
Saya dan sejumlah kawan memilih melaporkan rencana tersebut ke pihak kepolisian. Alasan saya, seorang jurnalis pada dasarnya melindungi kepentingan umum dan rakyat, dan terkhusus kemanusiaan.
Artinya melalui pemberitaan yang dibuat seorang jurnalis, diharapkan mampu memengaruhi sebuah kebijakan atau perilaku masyarakat dan pemerintah dalam menjaga dan melindungi kemanusiaan. Bukan sebaliknya. “Jika dunia ini damai, saya pikir jurnalis tidak diperlukan lagi. Makanya di surga, tidak ada ajaran agama yang menjelaskan adanya manusia yang berfungsi sebagai jurnalis. Mungkin peranan itu sudah diambil malaikat sebagai pewarta kalam Allah,” ujar saya yang membuat saya peserta dan fasilitator tertawa.
Perdebatan itu tidak diakhiri kesimpulan yang benar maupun yang salah. Hanya sejumlah fasilitator, para jurnalis dari Eropa, Indonesia, dan Amerika Serikat, menyatakan dirinya lebih berpihak pada kemanusian dibandingkan sebuah berita eksklusif tapi menghacurka kemanusiaan.
Namun, adegan perdebatan atau diskusi itu kembali muncul ketika saya mendengar kabar adanya kemungkinan keterlibatan jurnalis sebagai tim pelaku teror bom buku.
Jika memang motifnya ingin mendapatkan berita yang eksklusif, saya pikir dia bukanlah seorang jurnalis, sebab dia terlibat dalam sebuah kejahatan kemanusiaan. Tapi bila sebaliknya, dia terlibat lantaran didasarkan penilaiannya terhadap kondisi kemanusiaan di Indonesia saat ini, perdebatan kita terhadap fungsi jurnalis kembali terbuka.
Sembilan Elemen Jurnalis
Saya sengaja mengutip pemikiran Bill Kovach, seorang jurnalis terkemuka dari Amerika Serikat. Alasannya, yang saya mengerti sampai saat ini, Eropa dan Amerika Serikat merupakan induk dari jurnalisme modern yang banyak diterapkan sekarang, termasuk di Indonesia. Kutipan ini saya ambil dari tulisan yang menarik dari Andreas Harsono tentang buku Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, “The Elements of Journalism” yang sangat terkenal.
Yang pertama soal kebenaran. Kebenaran yang dimaksud yakni kebenaran fungsional. Kebenaran fungsional ini dapat direvisi, sifatnya tidak mutlak seperti kebenaran dalam sebuah ajaran agama. Misalnya kebenaran fungsional yang dilakukan polisi, peradilan, sekolah. Tapi kebenaran itu senantiasa bisa direvisi. Misalnya seseeorang terdakwa bisa dibebaskan karena tak terbukti salah. Polisi maupun hakim dapat keliru. Hal ini pula yang dilakukan jurnalisme.
Kovach dan Rosenstiel menerangkan elemen kedua dengan bertanya, “Kepada siapa jurnalis harus menempatkan loyalitasnya? Pada perusahaannya? Pada pembacanya? Atau pada masyarakat?”
Pertanyaan itu penting karena sejak 1980-an banyak wartawan Amerika yang berubah jadi orang bisnis. Ini memprihatinkan karena jurnalis punya tanggungjawab sosial yang tak jarang bisa melangkahi kepentingan perusahaan di mana mereka bekerja. Namun, uniknya terkadang tanggungjawab sosial itu sekaligus sumber dari keberhasilan perusahaan mereka.
Contohnya pada 1893 seorang pengusaha membeli harian The New York Times. Adolph Ochs percaya bahwa penduduk New York capek dan tak puas dengan suratkabar-suratkabar kuning yang kebanyakan isinya sensasional. Ochs hendak menyajikan suratkabar yang serius, mengutamakan kepentingan publik. Kini harian itu sukses.
Pada 1933 Eugene Meyer membeli harian The Washington Post dan menyatakan di halaman suratkabar itu, “Dalam rangka menyajikan kebenaran, suratkabar ini kalau perlu akan mengorbankan keuntungan materialnya, jika tindakan itu diperlukan demi kepentingan masyarakat.” Harian itu juga sukses.
Elemen ketiga, yakni disiplin dalam melakukan verifikasi.
Disiplin mampu membuat jurnalis menyaring desas-desus, gosip, ingatan yang keliru, manipulasi, guna mendapatkan informasi yang akurat. Disiplin verifikasi inilah yang membedakan jurnalisme dengan hiburan, propaganda, fiksi atau seni.
Kovach dan Rosenstiel menawarkan lima konsep dalam verifikasi:
- Jangan menambah atau mengarang apa pun;
- Jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun pendengar;
- Bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi Anda dalam melakukan reportase;
- Bersandarlah terutama pada reportase Anda sendiri;
- Bersikaplah rendah hati.
Keempat, independensi. Kovach dan Rosenstiel berpendapat, jurnalis boleh mengemukakan pendapatnya dalam kolom opini (tidak dalam berita). Mereka tetap dibilang wartawan walau menunjukkan sikapnya dengan jelas. Kalau begitu wartawan boleh tak netral?
Menjadi netral bukanlah prinsip dasar jurnalisme. Impartialitas juga bukan yang dimaksud dengan objektifitas. Prinsipnya, jurnalis harus bersikap independen terhadap orang-orang yang mereka liput. Jadi, semangat dan pikiran untuk bersikap independen ini lebih penting ketimbang netralitas. Namun jurnalis yang beropini juga tetap harus menjaga akurasi dari data-datanya. Mereka harus tetap melakukan verifikasi, mengabdi pada kepentingan masyarakat, dan memenuhi berbagai ketentuan lain yang harus ditaati seorang wartawan.
Kesetiaan pada kebenaran inilah yang membedakan jurnalis dengan juru penerangan atau propaganda. Kebebasan berpendapat ada pada setiap orang. Tiap orang boleh bicara apa saja walau isinya propaganda atau menyebarkan kebencian. Tapi jurnalisme dan komunikasi bukan hal yang sama.
Independensi ini juga yang harus dijunjung tinggi di atas identitas lain seorang jurnalis. Ada wartawan yang beragama Kristen, Islam, Hindu, Buddha, berkulit putih, keturunan Asia, keturunan Afrika, Hispanik, cacat, laki-laki, perempuan, dan sebagainya. Mereka, bukan pertama-tama orang Kristen, baru wartawan. Mereka yang pertama adalah wartawan.
Elemen kelima yakni memantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas. Memantau kekuasaan bukan berarti melukai mereka yang hidupnya nyaman. Mungkin kalau dipakai istilah Indonesianya, “jangan cari gara-gara juga.” Memantau kekuasaan dilakukan dalam kerangka ikut menegakkan demokrasi.
Salah satu cara pemantauan ini adalah melakukan investigative reporting –sebuah jenis reportase di mana si wartawan berhasil menunjukkan siapa yang salah, siapa yang melakukan pelanggaran hukum, yang seharusnya jadi terdakwa, dalam suatu kejahatan publik yang sebelumnya dirahasiakan. Sayangnya di Amerika Serikat, saya kira juga di Indonesia, label investigasi sering dijadikan barang dagangan. Kovach dan Rosenstiel menceritakan bagaimana radio-radio di sana menyiarkan rumor dan dengan seenaknya mengatakan mereka melakukan investigasi. Susahnya, para pendengar, pemirsa, dan pembaca juga tak tahu apa investigasi itu.
Elemen keenam adalah jurnalisme sebagai forum publik. Kovach dan Rosenstiel menerangkan zaman dahulu banyak suratkabar yang menjadikan ruang tamu mereka sebagai forum publik di mana orang-orang bisa datang, menyampaikan pendapatnya, kritik, dan sebagainya. Di sana juga disediakan cerutu serta minuman.
Logikanya, manusia itu punya rasa ingin tahu yang alamiah. Bila media melaporkan, katakanlah dari jadwal-jadwal acara hingga kejahatan publik hingga timbulnya suatu trend sosial, jurnalisme ini menggelitik rasa ingin tahu orang banyak. Ketika mereka bereaksi terhadap laporan-laporan itu maka masyarakat pun dipenuhi dengan komentar –mungkin lewat program telepon di radio, lewat talk show televisi, opini pribadi, surat pembaca, ruang tamu suratkabar dan sebagainya.
Elemen ketujuh jurnalisme harus memikat sekaligus relevan. Ironisnya, dua faktor ini justru sering dianggap dua hal yang bertolakbelakang. Laporan yang memikat dianggap laporan yang lucu, sensasional, menghibur, dan penuh tokoh selebritas. Tapi laporan yang relevan dianggap kering, angka-angka, dan membosankan.
Padahal bukti-bukti cukup banyak, bahwa masyarakat mau keduanya. Orang membaca berita olah raga tapi juga berita ekonomi. Orang baca resensi buku tapi juga mengisi teka-teki silang. Majalah The New Yorker terkenal bukan saja karena kartun-kartunnya yang lucu, tapi juga laporan-laporannya yang panjang dan serius.
Kovach dan Rosenstiel mengatakan jurnalis macam itu pada dasarnya malas, bodoh, bias, dan tak tahu bagaimana harus menyajikan jurnalisme yang bermutu.
Menulis narasi yang dalam, sekaligus memikat, butuh waktu lama. Banyak contoh bagaimana laporan panjang dikerjakan selama berbulan-bulan terkadang malah bertahun-tahun. Padahal waktu adalah sebuah kemewahan dalam bisnis media.
Elemen kedelapan adalah kewajiban jurnalis menjadikan beritanya proporsional dan komprehensif. Kovach dan Rosenstiel mengatakan banyak suratkabar yang menyajikan berita yang tak proporsional. Judul-judulnya sensional. Penekanannya pada aspek yang emosional.
Elemen kesembilan. Jurnalis punya pertimbangan pribadi tentang etika dan tanggungjawab sosial. “Setiap individu reporter harus menetapkan kode etiknya sendiri, standarnya sendiri dan berdasarkan model itulah dia membangun karirnya,” kata jurnalis televisi Bill Kurtis dari A&E Network.
Menjalankan prinsip itu tak mudah karena diperlukan suasana kerja yang nyaman, yang bebas, di mana setiap orang dirangsang untuk bersuara. “Bos, saya kira keputusan Anda keliru!” atau “Pak, ini kok kesannya rasialis” adalah dua contoh kalimat yang seyogyanya bisa muncul di ruang redaksi. [*]
*) Jurnalis dan pekerja seni
