Budaya

Setahun Kepergian "Mang Djohan"

coba

15.04.2011 01:30:51 WIB

Oleh Taufik Wijaya

HARI ini setahun yang lalu, masyarakat Sumatra Selatan, khususnya Palembang, ditinggalkan putra terbaiknya yakni budayawan HRM Djohan Hanafiah. Dia meninggal dunia di RSCM Jakarta, Kamis (15/04/2010) dini hari sekitar pukul 01.15 karena sakit jantung koroner, setelah sempat dirawat selama 12 hari.

Djohan Hanafiah kelahiran Palembang 5 Juni 1939 meninggalkan seorang putra dan tiga putri. Istrinya, Hj Nafisah, meninggal tahun 2008 lalu. Ayahnya, HM Ali Amin SH (95) mantan Gubernur Sumsel dan Bengkulu.

Sebelum dirawat di Jakarta, almarhum sempat diopname di RSMH Palembang selama 15 hari karena mengalami sesak napas dan dokter merujuknya ke RSCM Jakarta. Sempat dioperasi, tapi mengalami pendarahan.

Djohan Hanafiah sering disebut sebagai "bapak penggali sejarah dan budaya Palembang", sebab dialah sosok yang banyak menulis artikel, buku, serta menjadi narasumber mengenai sejarah dan budaya Palembang.

Salah satu teori Djohan Hanafiah yang sudah diterima di kalangan akademisi yakni soal “Palembang buntung”. Tenryata ujaran “Palembang buntung” itu menunjukkan akar budaya Palembang yang arti negatifnya buntung atau tidak selesai, merupakan perwujudan dari perpaduan dua kebudayaan yakni Melayu dan Jawa.

Djohan dilahirkan di Palembang pada 5 Juni 1939 dari pasangan Raden Muhammad Ali Amin dan Raden Ayu Ning Fatimah.

Pada tahun 2004 lalu, Djohan menerima penghargaan Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Megawati Soekarnoputri.

Dalam pertemuan terakhir dengan saya, akhir Maret 2010, di rumahnya di Jalan Cipto Palembang, saat sakit jantung menyerangnya, Djohan menegaskan soal rencana kami sebelumnya yakni membuat Institute Djohan Hanafiah. Institute ini berupa perpustakaan atau pusat data mengenai semua pemikiran dan karya Djohan Hanafiah.

“Kalau tidak ada tempat, rumah ini dapat dijadikan kantornya,” kata Djohan.

Selain soal lembaga tersebut, Djohan Hanafiah, saya dan beberapa teman dari Balai Arkeologi Palembang seperti Nurhadi Rangkuti, Retno Poerwati, Erwan Suryanegara, Rahman Zeth, serta lainnya tengah mempersiapkan lembaga Srivijaya Society. Organisasi ini menjadi pusat informasi dan pendidikan mengenai sejarah dan budaya Sriwijaya (Srivijaya).

Walikota Palembang Eddy Santana Putra sangat tertarik dan mendukung pembentukan organisasi ini. Tapi, lantaran kondisi kesehatan Djohan Hanafiah saat itu memburuk, pembahasan lebih lanjut tertunda. Dalam kondisi sakit itu, Djohan juga menyebutkan Aman Ramli Hasan Basri bersedia menjadi anggota dewan penasehat organisasi tersebut.

Pesan terakhir sebelum Djohan pergi selamanya, ketika saya dimintanya menggantikan dirinya sebagai narasumber dalam sarasehan pendidikan karakter yang diselenggarakan Dikti.

Setelah kegiatan itu, ketika saya dan budayawan Jalaluddin, berbincang di lobi hotel Swarna Dwipa Palembang, Djohan Hanafiah menelepon, “Siapkanlah pertemuan buat mambahas Srivijaya Society, minggu depan kita bahas. Senin (12/04/2010) Mamang operasi, jadi antara Jumat atau Sabtu Mamang pulang ke Palembang, Minggu kita bisa rapat. Salam buat Pak Jalal (Prof. Dr. Jalaluddin),” katanya.

Selamat jalan mang Djohan. Percayalah, engkau tak akan cepat berlalu sebab engkau adalah sejarah.
*) Pekerja seni dan jurnalis

Komentar

14.04.2011 19:48:18 WIB | evi susanti kgs.dentjik :

semoga niat baik ini dapat wujud terlaksana....amiin


15.04.2011 01:56:20 WIB | rois arios :

selamat jalan Mang, aku kan berusaha mewujudkan permintaan Mamang, menerbitkan biografi yg sdh 2 tahun tertunda. terima kasih buat segalanya. amin.



Berita Terkait