29.12.2011 01:12:53 WIB
Oleh Ashfaq Yusufzai
PESHAWAR (IPS) – TALIBAN menghancurkan sekolah, mengebom toko musik, dan melakukan eksekusi keji di wilayah perbatasan Pakistan-Afghanistan. Namun yang tak bisa dimaafkan, mereka juga menghancurkan makam kuno, tempat para mistikus Sufi yang dihormati dikebumikan.
“Tiga tahun lalu, saya menjadi pendukung Taliban karena saya percaya mereka Muslim sejati. Tapi pengrusakan makam orang-orang suci yang dihormati membuat saya dan orang lain sedih,” kata Afaq Ali, pemilik toko di Kyber Agency.
Ali bereaksi atas penghancuran makam Syekh Bahadar Baba dan Syekh Nisa Baba dalam serangan terpisah di Khyber Agency pada 9 Desember.
“Serangan ini tak bisa diterima dan orang-orang yang memberi bantuan keuangan kepada Taliban di masa lalu kini membenci mereka,” kata Ali kepada IPS. “Orang tak menghormati mereka lagi.”
Sejak 2005, Taliban melancarkan serangan tanpa henti dengan menghancurkan makam para mistikus dan penyair karena ziarah ke makam tersebut dinilai “tak Islami” oleh kalangan puritan Wahabi.
Sekitar 25 makam di seluruh Pakistan, kebanyakan usianya berabad-abad, hancur dalam serangan tersebut.
“Taliban yang punya beberapa faksi dan kelompok Wahabi menentang orang-orang mengunjungi makam, dan serangan ini dirancang untuk menakut-nakuti para peziarah,” kata Mufti Ghulam Nabi, imam di Peshwar, menjelaskan kepada IPS.
“Kecuali kaum Wahabi, semua kelompok lain menghormati orang Sufi dan penyair terhormat.”
Maulana Ghulam Rasool, ulama lain, berkata kelompok utama Tehreek Taliban Pakistan menentang penodaan dan pengrusakan makam orang-orang suci dan penyair, tapi Taliban yang berhubungan dengan kelompok Ahle Hadith (Wahabi) menentang mereka yang berziarah ke makam ini.
“Kelompok ini menganggap ziarah ke makam ‘tak Islam’. Mereka berpandangan orang seharusnya meminta berkah langsung kepada Allah. Berziarah ke makam sama saja menyamakan mereka dengan Allah,” katanya.
“Serangan terhadap makam sangat merusak citra Taliban,” ujar Rasool menambahkan.
Fundamentalisme Wahabi berasal dari Arab Saudi, dan pemerintah Saudi memberikan dana kepada pengikut kelompok itu untuk membangun masjid dan lembaga lainnya.
Hingga 28 Mei 2005, penghancuran makam Bari Imam di Islamabad oleh pelaku bom bunuh diri, menewaskan 20 orang –serangan terhadap makam Sufi itu tak diduga sama sekali.
Pada 2006, Taliban Pakistan merebut makam suci Haji Sahib Turangzai di Mohmand Agency dan menjadikannya markas mereka.
Pada 2008, para militan melancarkan perang mereka, meledakkan makam-makam penting seperti Abdul Shakoor Baba di Chamkani, Peshawar.
Pada 5 Maret 2009, ketika mazar (petilasan makam berkubah yang besar dan sangat indah) di Peshawar, dibangun abad ke-17 sebagai kuburan penyair sufi Abdul Rahman Baba, diledakkan, orang mulai secara terbuka mengutuk Taliban atas penodaan tersebut.
“Menyerang makam orang-orang yang dihormati menunjukkan bahwa Taliban bukanlah Muslim. Mereka melakukannya untuk menyenangkan musuh-musuh Islam,” kata Saeed Bibi, ibu rumahtangga berusia 26 tahun, kepada IPS. “Sekarang saya menentang keras Taliban.”
Pemerintah Pakistan berusaha melindungi lebih banyak lagi makam Sufi penting. Makam Pir Baba orang suci yang sangat dihormati, dibangun abad ke-16, di distrik Buner, provinsi Khyber Pakhtunkhwa, selamat dari upaya bumi-hangus pada 2009 karena pasukan keamanan segera turun tangan.
Namun tiga pelaku serangan bunuh diri meledakkan makam Data Darbar yang terkenal di Lahore, Juli 2010, menewaskan sedikitnya 40 orang.
“Kami mengalokasikan 800.000 dolar untuk membangun kembali makam-makam yang rusak dan menempatkan personel keamanan secara permanen di sekitarnya untuk mencegah serangan berikutnya,” kata Mian Iftikhar Hussain, menteri informasi Khyber Pakhtunkhwa.
“Kami menerima surat dari Taliban yang memperingatkan kami agar menghentikan kaum perempuan berziarah ke makam,” kata Umar Shah, penjaga makam penyair dan mistikus abad ke-20 Amir Hamza Khan Shinwari di Khyber Agency, yang pernah diserang pada Juli 2011.
“Kaum militan berpikir perempuan yang datang ke makam keramat sedang memuaskan diri dalam kegiatan amoral,” kata Shah. “Ini tak benar karena kaum perempuan datang ke sini untuk mendapatkan berkah.”
“Menyerang makam keramat para penyair menunjukkan bahwa Taliban menentang budaya dan sastra. Orang-orang sangat mencintai budaya lokal dan siapapun yang menghancurkan makam keramat penyair adalah musuh Islam dan budaya lokal,” kata penyair Muhammad Abdullah.
Abdullah berkata, pandangan penyair dan mistikus yang dikutuk Taliban. “Yang pertama mendukung toleransi dan yang terakhir ektsrimis. Mereka dua kutub yang terpisah.”
Lembaga Sastra Khyber di Peshawar ikut aktif menyelamatkan makam penyair dari serangan Taliban.
“Kami telah membentuk sebuah komite relawan yang menjaga setiap makam yang berbeda sepanjang malam. Pemerintah mendukung kami,” kata Ali Kamran, seorang aktivis dalam lembaga itu.*
Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik
