25.05.2011 00:25:22 WIB
Oleh Putra Kurusetra
DUA klub Indonesia merasakan garangnya Chonburi FC jika bermain di kandangnya. Korban pertama PSMS Medan dalam babak 16 besar AFC Cup 2008 dengan skor 4-0, serta Persipura Jayapura dalam babak penyisihan Grup H AFC Cup beberapa waktu lalu dengan skor 4-1. Dua kekalahan itu, lantaran PSMS Medan maupun Persipura bermain terbuka.
Jadi, belajar dari dua kekalahan tersebut, tampaknya para pemain Sriwijaya FC harus mampu memainkan ritme permainan, dengan mengupayakan lebih banyak menguasai bola, serta melakukan serangan apabila kondisi lebih menguntungkan dan memungkinkan. Jika bola lepas, para pemain harus melakukan penjagaan ketat di lini tengah dan belakang, sehingga para pemain Chonburi FC yang dikenal bermain cepat dan ngotot tidak dapat mengembangkan diri.
Kuncinya para pemain Sriwijaya FC harus penuh perhitungan dalam menyerang, ngotot dan cepat menutup ruang gerak para pemain Chonburi FC.
Pola permainan Chonburi yang banyak mengandalkan permainan cepat dan ngotot, membuat stamina mereka menurun di menit-menit akhir. Jika para pemain Sriwijaya FC mampu menjaga tenaga dan ritme, ada baiknya pada menit-menit akhir melakukan serangan frontal ke gawang Chonburi FC yang kemungkinan dijaga Kosin, memanfaatkan faktor kelelahan para pemain lawan.
Atau, cara lainnya yakni mencuri gol cepat di awal pertandingan, sebelum para pemain Chonburi FC sudah panas dan fokus. Hal ini terjadi pada saat kekalahan Chonburi FC saat dijamu Persipura, yang mana tiga gol kemenangan tercipta pada 10 menit babak pertama dan lima menit di akhir babak kedua.
