Lingkungan Hidup

Terhadap Bencana Alam, Jangan Sombong dan Banyak Bersedekah

coba

11.04.2011 21:14:09 WIB

HAMPIR sebagian besar masyarakat Sumatra Selatan begitu yakin Negeri Batanghari Sembilan ini terbebas dari berbagai bencana alam yang cukup mematikan, seperti tsunami, gempa bumi dan gunung meletus. Namun keyakinan tersebut, tampaknya jangan terlalu berlebihan, sebab jika Allah SWT menghendaki semuanya akan terjadi terhadap segala apa yang diciptakanNya.

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha
Kaya lagi Maha Terpuji. (Al-quran surat Al-hadiid:22-24)

Belum lama ini, peringatan adanya bencana gempa bumi besar disampaikan Staf Khusus Presiden Bidang Sosial dan Bencana Andi Arief di Palembang. Menurut dia, berdasarkan prediksi tim ahlinya, kemungkinan akan terjadi gempa besar di sekitar Gunung Dempo dan Danau Ranau.

Adapun alasannya, saat ini Patahan Sumatra yang melintas dari Utara hingga Selatan Pulau Sumatra kembali memberikan reaksi berupa gempa bumi. Beberapa titik menunjukkan gejala gempa bumi dengan skala besar, seperti di Sumatra Barat, Sumatra Selatan, dan Lampung. Misalnya di wilayah Gunung Dempo dan Danau Ranau.

Selain itu, berdasarkan peta kuno gempa bumi, telah terjadi gempa bumi vulkanik di wilayah Gunung Dempo dan Danau Ranau, dengan buktinya berupa tertimbunnya berbagai benda purbakala di bawah tanah akibat tertimbun. Benda-benda purbakala peninggalan Tradisi Megalitik Bukitbarisan Pasemah. Bahkan Danau Ranau, terbentuk akibat gempa vulkanik sekitar dua juta tahun yang lalu.

“Bencana alam berupa gempa bumi merupakan sesuatu yang pasti. Tapi kita hanya tidak tahu waktu terjadinya. Kita hanya tahu tanda-tanda akan terjadi. Allah memastikan hal tersebut. Yang dapat dilakukan kita menghindar menjadi korban dari bencana tersebut, dan hanya Allah yang dapat menyelamatkan kita. Baik dengan membuka pikiran kita maupun memberikan keajaibanNya. Oleh karena itu, melihat sebuah bencana kita harus melihatnya dari akal dan iman. Keduanya tidak dapat dipisahkan,” kata Andi Arief, yang di masa Orde Baru dikenal sebagai aktifis mahasiswa yang kritis.


Jaga Moral, Jaga Akal
Seperti yang selalu disampaikan Allah SWT, janganlah manusia sombong atas apa yang telah diberikanNya, termasuk terhindar dari berbagai bencana alam. Oleh karena itu, setiap manusia di Sumatra Selatan, terkhusus di Pagaralam dan sekitar Danau Ranau, janganlah sombong dengan kondisi yang ada saat ini. Mereka hendaklah berkaca diri dengan segala perilaku selama ini.

Menurut K.H. Sodikun, seorang ulama Palembang yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatra Selatan, agar terhindar dari berbagai bencana, hendaklah pemimpin dan masyarakat harus banyak bersedekah.

“Rasulullah Saw pernah bersabda, salah satu cara agar manusia terhindar dari bencana yakni dengan banyak-banyak bersedekah. Maka dengan adanya informasi itu, sudah selayaknya seluruh pemimpin dan masyarakat di Sumatra Selatan melakukan hal tersebut,” katanya.

“Para pejabat di pusat pun harus melakukan hal tersebut. Jangan hanya sibuk mengurusi haknya, tanpa memperhatikan kewajibannya sebagai manusia yakni bersedekah,” ujarnya.

Selain banyak bersedekah, kata Sodikun, setiap manusia di Sumatra Selatan juga mohon ampun, bertaubat, tidak melakukan perbuatan yang mendatangkan dosa, serta melakukan ibadah secara benar dan rutin.

“Tentunya hal ini juga diiringi doa atau permohonan kita kepada Allah, agar Allah tidak menimpakan musibah tersebut kepada kita, rakyat Indonesia,” ujarnya.

Tapi, kata Sodikun, bencana alam itu merupakan hakNya Allah. Takdir. Sehingga hanya Allah yang tahu kapan sebuah bencana akan ditakdirkannya.

Sementara mengenai seorang pendaki gunung dari Wiqwam Universitas Sriwijaya, Anhar, menilai adanya informasi mengenai akan adanya gempa besar di sekitar Pagaralam, Sumatera Selatan, merupakan momen penting bagi pemerintah dan masyarakat di Pagaralam untuk menjaga kondisi alam di sekitar Gunung Dempo.

“Terlepas nantinya bencana itu terjadi atau tidak, tapi informasi tersebut memberikan kita kesadaran atas kondisi alam di Pagaralam,” kata Anhar.

Dijelaskan Anhar, selama beberapa tahun terakhir, hutan di lereng Gunung Dempo mulai habis. “Tidak ada lagi hutan dengan tumbuhan tua, saat sebagian menjadi wilayah pemukiman dan perkebunan. Apabila terjadi gempa vulkanik, saya pikir lahar yang keluar akan begitu cepat sampai ke kota Pagaralam atau daerah lain di sekitarnya, sebab sudah tidak ada lagi penghalangnya,” kata Anhar.

Oleh karena itu, kata Anhar, sudah saatnya pemerintah maupun masyarakat di Pagaralam tidak lagi menebangi hutan di lereng Gunung Dempo untuk pemukiman, perkantoran, dan perkebunan. “Sebagai gunung berapi yang aktif, seharusnya semua pihak waspada sehingga setiap pembangunan lebih baik difokuskan pada daerah yang jauh dari lereng Gunung Dempo,” ujarnya.

Artinya, pemerintah Pagaralam setiap kebijakannya harus menimbang soal keselamatan dari dampak bencana alam. “Bisa saja prediksi itu bukan besok atau lusa terjadi, mungkin lima tahun lagi, tapi apakah itu berarti korban dapat dihindarkan apabila tidak ada antisipasi dari sekarang? Kan tidak, keselamatan tetap harus dilakukan sejak dini,” ujar Anhar, seorang aktifis sebuah kelompok pendaki gunung dari Universitas Sriwijaya.

Anhar sendiri berharap, prediksi adanya gempa besar di Pagaralam atau di sekitar Gunung Dempo, tidak terjadi dalam waktu dekat, sehingga pemerintah maupun masyarakat dapat mempersiapkan segala tindak keselamatan termasuk pula menjaga keseimbangan alamnya. (abdurrachman cw)

Komentar


Berita Terkait