Budaya

Dempo Sang Pembuka Peradaban Baru

coba

24.05.2011 01:37:59 WIB

Oleh Wawan Septawan dan Sutrisman Dinah*)

DI sudut bangunan yang dijadikan pos komando Ekspedisi Bukit Barisan wilayah Gunung Dempo, terpampang peta topografi yang menggambarkan kontur lekukan permukaan bumi. Gambar rupabumi ini dilengkapi lingkaran merah, kuning, biru, yang menunjukkan jarak radius pusat kawah puncak Merapi.

Gunung Dempo memiliki dua puncak, Dempo dan Merapi. Puncak tertinggi Dempo, dalam berbagai literatur, tercatat 3.159 meter dari permukaan laut (mdpl). Sebenarnya titik tertinggi berada di puncak Merapi yakni 3.290 mdpl, di bagian inilah terdapat kawah kaldera atau kawah yang terbentuk akibat letusan gunung berapi.

“Lingkaran ini menunjuk radius dari kawah dan tingkat bahaya akibat letusan yang mungkin ditimbulkan,” kata Mayor Donny Pramono (34), komandan Ekspedisi Bukit Barisan Wilayah Gunung Dempo, akhir pekan lalu.

Kota Pagaralam (sekitar 200 kilometer barat Palembang), merupakan kawasan padat penduduk, berada di radius tak lebih 15 kilometer dari kawah Merapi. Di kawasan Pagaralam ini pula ditemukan berbagai sisa peninggalan budaya megalitik yang tersebar di bagian timur gunung Dempo.

Hasil penelitian tim Balai Arkeologi Palembang, temuan sebaran megalit berbagai bentuk itu merupakan situs terbesar di dunia. Dunia mengakui, dataran tinggi Pasemah (sebagian menyebutnya ada sebutan lain Besemah) --wilayah administratif Pagaralam dan Lahat—merupakan situs megalit terbesar, kata arkeolog dari Balar Palembang, April lalu.

Pertanyaan kritisnya, bagaimana mungkin sebuah peradaban ini seperti hilang seolah tanpa jejak yang melanjutkan tradisi ukir batu yang berlangsung masa itu.

Kepala Balar Palembang, Nurhadi Rangkuti MSi, mengeyampingkan asumsi bahwa peradaban Sriwijaya musnah akibat letusan Gunung Dempo. “Terlalu spekulatif kalau dikatakan demikian (keruntuhan Sriwijaya), tidak cukup bukti temuan dan catatan sejarah dengan menarik kesimpulan demikian,” kata arkeolog Nurhadi Rangkuti.

Ekspedisi yang dimotori Kopassus (Komando Pasukan Khusus) TNI-AD ini, menurut Donny, juga melakukan pendataan potensi sumber daya alam yang melibatkan tim ahli geologi dan kegunung-apian (vulkanologi) dari Institut Teknologi Bandung dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Kawasan Gunung Dempo dan sekitarnya termasuk wilayah yang rentan bencana alam. Selain letusan gunung berapi Dempo, Pagaralam berada di garis patahan Semangka. Secara teori, patahan Sumatera inilah yang dapat memicu bencana gempa bumi. Patahan ini membentang dari Aceh sampai ke Teluk Semangka (Lampung).

Tidak ada catatan data ilmiah letusan dahsyat Gunung Dempo, namun diperkirakan letusan pernah terjadi pada pertengahan abad ke-18. Pakar vulkanologi, Dr Surono alias Mbah Rono, mencatat bahwa justeru gempa bumi berkekuatan besar di Gunung Dempo terjadi pada tahun 1838.

Untuk saat ini, menurut Surono, kawah Gunung Dempo yang sudah terbuka memang kecil kemungkinan terjadi letusan besar. Karakteristik letusan preaktik (semburan lumpur) akan menjadi abu sampai ke permukaan, seperti yang terjadi tahun awal 2009 lalu.

Sebelumnya, staf Presiden SBY bidang bantuan sosial dan bencana, Andi Arief mengingatkan masyarakat Sumsel, terutama Pagaralam, agar tetap meningkatkan kewaspadaan. Bila suatu saat Dempo meletus, warga relatif lebih siap untuk menghindari jatuhnya korban yang lebih besar.

Apalagi di bawah permukaan bumi, tersimpan kekuatan besar yang dipicu Patahan Semangka. Menurut ahli gempa LIPI Dr Danny Hilman, gempa 7,1 Skala Richter terjadi di Suoh (Liwa, lampung Barat) pada tahun 1994. Sehingga bukan hanya Pagaralam yang perlu waspada, tetapi juga warga yang bermukim di kota Palembang.

“Kita sosialisasikan, supaya masyarakat Pagaralam waspada bila Dempo meletus,” kata Donny Pramono. Begitupula temuan data tentang potensi sumber daya alam, untuk masukan bagi pemerintah untuk dikelola untuk masyarakat, katanya.*

*) Wartawan Sriwijaya Post

Foto: news.infogue.com

Komentar


Berita Terkait