22.12.2011 13:10:17 WIB
Oleh FLORENCIA MARCELINA RAMADHONA
SETELAH sembilan tahun meninggal dunia, Koko Bae akan menerima penghargaan Anugerah Batanghari Sembilan dari Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS). Penghargaan ini akan diberikan oleh Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin.
“Ya, tahun ini DKSS akan memberikan penghargaan kepada Koko Bae,” kata seorang sumber di DKSS, Kamis (22/12/2011). Penghargaan ini akan dilakukan di Hotel Swarna Dwipa, Palembang, pada Jumat (23/12/2011) malam.
Siapa sebenarnya Koko Bae? Di tahun 1980-an hingga 1990-an, nama Koko Bae cukup dikenal di Palembang maupun di Indonesia. Dia merupakan seorang perupa yang juga seorang penyair, dan cerpenis. Dia berulangkali melakukan pameran tunggal dan menerbitkan buku.
"Koko unik dan nyentrik," kata Triono Junaidi, seorang pekerja sastra di Palembang, mengenang Koko Bae dalam sebuah perbincangan beberapa waktu lalu.
"Karyanya merupakan pendobrak kemapanan, meski harus melukis dengan darah," kata Triono Junaidi yang akrab dipanggil "Teje".
Dan menurut Teje cara berkarya Koko Bae bukan tanpa alasan atau konsep, "Dia memiliki konsep. Dan seni memang universal, tapi memiliki sikap dan karakteristik seperti yang ditampilkan Koko Bae," ujarnya.
Sembilan tahun lalu atau tepatnya 27 Februari 2002, Koko Bae atau Surya Gunawan meninggal dunia dalam usia relative muda yakni 46 tahun karena komplikasi berbagai penyakit.
Koko Bae dilahirkan di Palembang pada 8 Oktober 1956 dengan nama Surya Gunawan.
Saat meninggal dia meninggalkan istri bernama Emmy, dan seorang anak bernama Legit Liberty Larassari.
Koko Be bukan hanya dikenal sebagai pengarang puisi, cerita pendek, dan cerita bersambung. Dia juga dikenal sebagai pelukis. Lukisannya banyak menampilkan tema-tema tentang sungai Musi.
Khusus puisi, Koko Bae melahirkan sejumlah buku. Antara lain:
o Gado-gado Koko Bae (1976)
o Resah (1978)
o Petuah (1980)
o Sajak Calon Presiden 2100 (1982)
o Aku Koko Bae (1991)
o Aku adalah Ikanmu (1992)
o Cap Jempol (1993)
o Jejak (1993)
Sementara cerita bersambungnya yang dimuat harian Sriwijaya Post berjudul "Pasar". Semasa hidup, Koko Bae berencana menerbitkannya dalam sebuah buku sebagai novel.
