Internasional

Anak-anak Palestina Jadi Target

coba

25.06.2011 21:50:53 WIB

Oleh Mel Frykberg

SILWAN, WILAYAH PENDUDUKAN YERUSALEM TIMUR – “BAPAK, tolong aku! Jangan biarkan mereka membawaku pergi,” teriak Ahmed Siyam, 12 tahun, ketika sekitar 50 tentara Israel bersenjata lengkap dan polisi menyeretnya dengan tangan terborgol dan mata tertutup.

Bulan lalu Ahmed ditarik dari tempat tidur pada pukul 04.00 oleh pasukan keamanan Israel yang dipimpin agen Shin Bet dari badan intelijen dalam negeri Israel. Dia dibawa ke kantor polisi Russian Compound di Yerusalem Barat. Dia dituduh melemparkan batu ke tentara Israel dan polisi selama bentrokan dengan anak-anak Palestina di daerah sekitar Silwan yang mudah bergejolak di Yerusalem Timur.

Silwan menjadi tempat yang kerap terjadi perselisihan dan konfrontasi kekerasan antara pemukim ilegal Israel, tentara dan polisi Israel yang melindungi mereka, dan anak-anak Palestina.

Ratusan warga Palestina diusir dari rumah mereka di Yerusalem Timur untuk memberi tempat bagi para pemukim Israel. Banyak rumah warga Palestina dirusak dan puluhan lainnya terancam, karena otoritas Israel memindahkan para pemukim Israel –semuanya ilegal menurut hukum internasional.

Ketika kali pertama tentara datang, Daoud, ayah Ahmed, awalnya menolak membuka pintu dan menuntut polisi memberikan surat perintah penggeledehan atau penangkapan.

“Tapi mereka mengancam akan mendobrak pintu jika saya tak membukanya. Mereka menanyakan saya di mana Ahmed dan saya balik bertanya kenapa mereka menginginkannya. Mereka bicara agar saya tutup mulut dan menyerang saya,” kata Daoud kepada IPS.

“Mereka kemudian masuk ke kamar Ahmed dan menyeretnya keluar dan memasukkannya ke mobil polisi di luar. Mereka tak bilang ke mana akan membawanya dan secara fisik menghalangi saya mendampingi Ahmed.”

“Pagi berikutnya, setelah dengan gelisah menelpon ke sana-sini, saya mendapat informasi Ahmed ditahan di Russian Compound. Ketika saya pergi ke sana, mereka tak mengizinkan saya masuk dan bahkan menyangkal anak saya ada di sana. Akhirnya setelah saya menghubungi pengacara saya, saya bisa melihatnya beberapa jam kemudian. Dia terlihat trauma dan menangis,” kenang Daoud.

“Saya takut. Saya tak tahu di mana saya berada dan tangan saya diborgol sangat kuat di belakang tubuh saya. Di sebuah kantor polisi mereka tak mau memberi saya air ketika saya memberitahu mereka bahwa saya sangat haus. Dan ketika saya ingin pergi ke toilet mereka menendang saya.
Mereka menanyai saya selama berjam-jama dan menuduh saya melempar batu yang saya tolak,” ujar Ahmed kepada IPS.

Dua minggu lalu sepupu Ahmed, Ali Siyam, berusia 7 tahun, ditangkap dalam kondisi yang sama dan juga dituduh melempar batu. Ketika ayahnya, Muhammad, berusaha menghentikan puluhan petugas keamanan Israel menyeret anaknya, kepalanya dipukuli dengan punggung senjata dan kemudian harus menjalani perawatan di rumahsakit.

Bibi Ali ditembak kakinya dengan peluru karet berlapis baja ketika dia mencoba campur tangan dan dia juga memerlukan perawatan rumahsakit. Orangtua Ali dilarang menemani anaknya ke kantor polisi. Ketika mereka pergi ke Russian Compound, polisi menyangkal bahwa Ali berada dalam penahanan mereka.

Ketika pengacara Israel Lea Tzemel mencoba mengunjungi Ali, klien mudanya, di penjara, penjaga keamanan tak memberikannya izin masuk. Ketika dia memaksa melewati penjaga, dia ditahan. setelah berargumen, dia mendapat akses untuk menjenguk anak itu. Ali dibebaskan beberapa jam kemudian.

Sementara itu, Ahmed awalnya dijatuhi tahanan rumah selama sebulan dan dilarang masuk sekolah karena polisi masih melakukan penyelidikan. Dia dijadwalkan hadir di pengadilan bulan depan dengan dakwaan melempar batu. Apakah dia bersalah atau tidak, tetap bisa dipertanyakan karena teknik interogasi Israel yang dilakukan terhadap anak-anak Palestina.

Lembaga Pembelaan Anak Internasional (Defence International for Children/DCI) cabang Palestina melaporkan bahwa polisi Israel membuka 1.267 kasus pidana terhadap anak-anak Palestina antara November 2009 dan Oktober 2010 atas pelemparan batu di Yerusalem Timur. Kelompok HAM Israel B'tselem melaporkan 31 anak-anak itu berasal dari Silwan.

“Lima puluh persen anak-anak diinterogasi tanpa kehadiran orangtua mereka atau seorang pengacara dan banyak yang diancam dan diserang,” kata Gerard Horton, seorang pengacara dari DCI, kepada IPS.

“Banyak dari anak-anak menjerit karena ditampar dan didorong, terkadang ditendang dan dihajar, selama interogasi dan dipaksa membuat pernyataan yang akurasinya disangsikan. Beberapa diancam lagi dengan kekerasan,” kata Horton.

“Anak-anak ini diambil dari rumah mereka di tengah malam, banyak yang diborgol dan ditutup matanya,” kata Horton. “Mereka kemudian diinterogasi berjam-jam keesokan harinya dan saat ini mereka mengalami trauma dan bingung, dan tidak mampu menahan tekanan.”

Situasi anak-anak Palestina di Tepi Barat lebih buruk lagi karena pemberlakuan hukum militer. Anak-anak bisa ditahan hingga delapan hari sebelum mereka dihadapkan ke seorang hakim militer.

“Kami menangani satu kasus di mana tiga anak disetrum sementara tangan mereka diikat di belakang punggung mereka oleh polisi Israel selama interogasi di salah satu permukiman. Yang lainnya diancam bahwa rumah mereka akan diledakkan, dan beberapa lainnya diancam akan diperkosa,” kata Horton kepada IPS.

Lebih dari 25 anak-anak Palestina ditangkap di Silwan selama beberapa minggu terakhir.

Milad Ayyash, berusia 17 tahun, ditembak mati pada bulan Mei oleh penjaga keamanan pemukim Israel yang menyatakan anak itu terlibat bentrokan.

Tahun lalu sebuah video menunjukkan seorang pemukim Israel dari Silwan sengaja mengubah arah mobilnya ke arah anak Palestina, yang diduga melemparkan batu, dan memicu kemarahan ketika sebuah perusahaan motor Israel menggunakan video itu dalam sebuah iklan untuk mempromosikan kekuatan mobil itu. Anak lelaki itu dirawat di rumahsakit karena patah tulang dan selanjutnya ditangkap. Tak ada tuduhan yang diajukan terhadap pengemudi itu.*

Translated by Basil Triharyanto
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerja sama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

Komentar


Berita Terkait