30.09.2010 14:58:31 WIB
Oleh Danilo Valladares*
GUATEMALA CITY (IPS) – DI El Salvador, Honduras, dan Guatemala, ungkapan “de rodillas ante las pandillas” bukan hanya sebuah sajak menarik tentang geng-geng anak muda yang membawa negara-negara itu ke pangkuan mereka. Ia juga sebuah deskripsi yang tepat dari realitas hari ini: kelompok-kelompok kriminal ini, lahir dan berkembang dalam kekerasan, memiliki kekuasaan besar.
Maras, seperti gang-gang anak muda di ketiga negara yang lebih dikenal dengan Segitiga Utara Amerika Tengah, meningkatkan aktivitas kekerasan mereka dalam beberapa pekan terakhir. Pemerintah berusaha menemukan cara untuk mengatasi situasi itu.
Ancaman kematian dari gang Mara Salvatrucha (MS-13) dan Mara 18 (M-18), musuh bebuyutan, terhadap perusahaan-perusahaan bus yang sebagian memiliki angkutan umum berhenti pada 7-9 September di San Salvador, sebuah kota berpenduduk 1,5 juta jiwa.
Satu orang terbunuh, lebih dari 80 orang ditangkap, dan tiga bus dihancurkan selama pemogokan yang diperintahkan dan dilakukan geng-geng itu untuk memprotes UU baru yang memutuskan menjadi anggota maras adalah sebuah kejahatan.
UU baru itu, yang mulai diberlakukan pada 19 September setelah presiden dari sayap kiri Mauricio Funes menandatanganinya pada tanggal itu, menghukum hingga 10 tahun bagi anggota-anggota geng.
UU juga menyatakan geng-geng ilegal dan memberi kewewenangan pada jaksa dan hakim untuk membekukan rekening bank dan menyita aset-aset anggota-anggota geng yang diperoleh dengan cara ilegal.
Tapi Jeannette Aquilar dari Koalisi Amerika Tengah untuk Pencegahan Kekerasan Pemuda mengatakan kepada IPS bahwa UU baru itu “takkan efektif karena tak menangani akar masalahnya. Ia hanyalah sebuah respon atas tuntutan publik untuk langkah-langkah lebih keras terhadap kejahatan tapi tak memberi solusi.”
Lebih jauh lagi, “UU ini menjebloskan setiap orang dalam kantong yang sama –anggota gang berusia 40 atau lebih dan anak-anak berusia sembilan dan sepuluh tahun,” kata Aquilar, yang menyebutnya sebagai “sebuah kesalahan besar karena tak bisa disamakan antara orang yang berpengalaman serta seorang anak yang baru mengenal kehidupan geng dan punya kesempatan lebih baik dalam reintegrasi sosial.”
Dalam beberapa tahun terakhir, rekrutmen oleh geng-geng, yang biasanya menargetkan anak usia 9-12 tahun, meluas hingga orangtua maupun anak muda.
Selain kekacauan yang disebabkan pemogokan-paksa bus selama tiga hari di San Salvador, 18 orang tewas dalam sebuah serangan pada pabrik sepatu di kota San Pedro Sula di barat laut Honduras pada 7 September. ?
Polisi mengatakan, tembakan meletus dalam perang gerilya antara geng MS-13 dan MS-18. ?
Segitiga Utara Amerika Tengah memiliki tingkat pembunuhan paling tinggi di dunia, tulis laporan tahunan Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), yang dirilis pada 23 Juni.?
Badan PBB itu melaporkan, tingkat pembunuhan antara tahun 2003 dan 2008 rata-rata 61 per 100.000 penduduk di Honduras, 52 per 100.000 di El Salvador, dan 49 per 100.000 di Guatemala.?
Ini dibandingkan rata-rata global kurang dari 8 per 100.000 pada 2004.?
Sumber kekerasan lain di negara-negara itu, selain geng-geng anak muda, adalah kelompok obat-obatan dan berbagai kejahatan terorganisasi, juga pasukan paramiliter yang dibentuk pensiunan dan anggota aktif dari kepolisian dan militer. ?
Honduras punya UU antigeng, yang berlaku sejak 2003. Tapi UU itu gagal menekan persoalan geng-geng anak muda, dan sebaliknya mendorong maras memasuki berbagai aktivitas kejahatan lainnya.
Pastor Jesuit Ismael Moreno mengatakan kepada IPS, akibat UU antigeng di Honduras, yang “memberi stigma kepada anak muda dengan tato atau berpakaian longgar”, maras “mengalami semacam mutasi.” ?
“Sekarang mereka lebih diasosiasikan dengan kejahatan terorganisasi ketimbang aktivitas kejahatan biasa,” kata Moreno, yang terlibat dalam kerja sosial di perkampungan kumuh.
Menteri Keamanan Honduras Óscar Álvarez sependapat. “Mereka menjadi angkatan kerja dan pasukan cadangan bagi kejahatan teroganisasi,” katanya kepada IPS.?
Di San Pedro Sula dan ibukota, Tegucigalpa, seluruh lingkungan dikendalikan oleh geng-geng, yang bertindak seolah-olahnya tempat mereka sendiri, ujar penduduk setempat.
Lourdes Pineda seorang penata rambut berusia 22 tahun, yang tinggal di deka Bella Vista di Tegucigalpa. “Setelah jam tujuh malam, Anda tak akan melihat orang-orang di jalanan. Tak seorang pun pergi ke mana pun, karena maras keluar dan mengambil kendali,” katanya. ?
“Mereka mendistribusikan obat-obatan dan polisi mengetahuinya,” katanya. “Moreros (anggota-anggota geng) yang tahu Anda tak melakukan apapun, mereka mempeduli Anda, jika Anda menganggapnya demikian. Tapi Anda lebih baik tak keluar sesudah jam tujuh atau delapan malam, karena jika mereka tak mengenal Anda, mereka akan menembakmu.”
Data statistik tak ada. Tapi pada 1998, diperkirakan 60.000 orang menjadi anggota geng-geng di Honduras –artinya, saat ini angkanya bisa lebih tinggi lagi.?
Situasi di Guatemala juga mengkhawatirkan. Contohnya, sopir bus dibunuh hampir setiap hari, karena menolak membayar uang “perlindungan” kepada geng-geng itu.?
Data kepolisian menunjukkan bahwa tahun ini, 57 sopir, 30 kondektur dan asisten lainnya, serta 36 penumpang dibunuh pada bulan Juli. Dan tahun lalu, 146 pekerja transportasi dibunuh, menurut Mutual Support Group (GAM), sebuah organisasi HAM lokal.?
Organisasi masyarakat sipil memperkirakan, jumlah anggota geng anak muda, sebagian berasal dari keluarga berantakan, mendekati 20.000 orang di Guatemala.?
Sejalan dengan legislasi “tanpa toleransi” yang berlaku di Honduras dan El Salvador, Partai Patriot yang konservatif di Guatemala mengajukan RUU dalam Kongres bulan ini yang akan menghukum anggota-angota geng. ?
Menurut anggota Kongres dari Partai Patriot, Gudy Rivera, RUU itu “didesain untuk mencegah aktivitas kelompok-kelompok ilegal, dengan menghukum kelompok-kelompok yang terus melakukan kejahatan.” ?
Sementara itu, Presiden Guatemala Alvaro Colom yang berasal dari sosial demokrat menekankan harmonisasi UU antigeng di negaranya dengan yang ada di El Salvador dan Honduras untuk menekan masalah itu sebagai sebuah blok.
Tapi RUU dari Partai Patriot mendapat kritikan dari organisasi-organisasi sosial. Emilio Goubaud, direktur Alianza para la Prevencion del Delito (APREDE) atau Aliansi untuk Pencegahan Kejahatan, mengatakan RUU itu, seperti undang-undang antigeng di El Salvador dan Honduras, hanyalah “tindakan represif yang tak menawarkan solusi masalah.”?
“RUU itu sama sekali tak punya fokus sosial; semua yang akan dilakukan adalah melemparkan orang-orang ke penjara dan memperkeras hukuman yang mereka berikan, dan ia sepenuhnya akan gagal karena tak menyerang penyebab masalah tapi dampaknya,” kata aktivis Guatemala kepada IPS.?
Goubaud mengatakan, yang dibutuhkan anak muda adalah pekerjaan, pendidikan, dan layanan kesehatan. “Sayangnya, kejahatan teroganisasi menemukan potensi mereka, dan menjadi pilihan yang lebih menguntungkan, karena tak ada akses ke peluang nyata bagi perkembangan mereka” sebagai warga negara, katanya. ?
Sebuah kajian “Maras dan Geng-geng di Amerika Tengah”, yang diterbitkan pada 2008 oleh sebuah program yang memfokuskan “kebijakan publik regional untuk mencegah kekerasan anak muda”, menemukan bahwa UU “tanpa toleransi” dan taktik tangan besi hanya memicu aktivitas geng-geng itu, yang sekarang menjadi pekerja murah untuk mafia obat-obatan dan kelompok kejahatan teroganisasi lainnya, misalnya sebagai kolektor atas pembayaran “biaya perlindungan” dari orang-orang setempat, penjaga toko, dan sopir-sopir bis. ?
Untuk meningkatkan keselamatan publik, negara harus memperkuat sistem peradilan dan kapasitas polisi untuk menyelidiki kejahatan, sesuatu yang tak bisa dicapai melalui UU antigeng yang keras, ujar Zoel Franco dari Institut Studi Perbandingan dalam Ilmu Pidana (ICCPG) Guatemala, kepada IPS. ?
Masalah geng-geng anak muda juga meluas ke selatan Meksiko, terutama di negara bagian Chiapas yang miskin. Maras Amerika Tengah melakukan pemerasan, perampokan, dan pemerkosaan terhadap pekerja migran dalam perjalanan mereka dari utara ke Amerika Serikat, dan terlibat aktivitas kejahatan lainnya seperti perdagangan obat-obatan, ujar Komisi Nasional HAM Meksiko. ?
Maras sebenarnya lahir di Kalifornia sesudah hampir satu juta orang Salvador melarikan diri ke Amerika Serikat selama perang sipil di El Salvador tahun 1980-1992 dan sebagian besar menetap di perkampungan miskin di Los Angeles, tempat kekerasan geng tersebar luas. Setelah konflik bersenjata, otoritas Amerika Serikat mulai mendeportasi ribuan anggota geng ke El Salvador, di mana eskalasi kekerasan meningkatkan angka pembunuhan selama perang. ?
Maras kemudian mulai menyebar ke Honduras dan Guatemala, dan selanjutkan ke selatan Meksiko.?*
*Thelma Mejía di Teguciglpa dan Edgardo Ayala di San Salvador berkontribusi pada artikel ini.
Translated by Basilius Triharyanto
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerja sama IPS dan Yayasan Pantau
Foto: aditya-oodditty.blogspot.com
