18.02.2010 05:47:54 WIB
Oleh ZOFEEN EBRAHIM
KARACHI (IPS) – TAK lama seorang pengunjung melangkah masuk ke dalam ruangan, sebuah adegan surealis terbentang: suara tawa, tatapan penuh senyum dan semangat, jabat tangan yang berbaur dengan bau tubuh manusia yang kecut dan tak tertahankan bercampur dengan bau obat yang menyengat.
Sekelompok perempuan berkumpul di sekeliling pengunjung itu. Mata mereka bersinar dan wajah menebar senyuman saat mereka mengulurkan jabat tangan erat, yang hanya bisa diusir oleh Waseem Fatema, perawat bertubuh gemuk berusia 40-an tahun.
Edhi Centre for the Mentally Ill Women di Karachi Utara merupakan rumah bagi perempuan yang menderita berbagai bentuk gangguan mental atau emosional, bebarapa di antaranya menjalani perawatan jangka panjang, ada yang tidak. Mereka membutuhkan kasih sayang dan pengertian yang besar. Sebab, kalau tidak, mereka mengalami kerusakan mental dan emosional, menjadi bagian dari perempuan yang tak mampu memenuhi harapan masyarakat.
Lebih dari seribu perempuan tinggal di sana, beberapa yang muda berusia lima tahun dan yang tua 70 tahun, atau bahkan lebih tua. Anak-anak, yang baik secara fisik maupun mental ditantang, tinggal di sebuah fasilitas yang dijalankan oleh Edhi. Beberapa dari mereka dibawa ke sana oleh orangtua mereka, yang selalu mengatakan tak mampu lagi menjaga anak-anak mereka.
Edhi mendapatkan sumbangan, termasuk “zakat” atau sebagian harta seseorang, dari berbagai sektor masyarakat Pakistan. Dia juga menjalankan fasilitas terpisah bagi laki-laki, yang terletak di luar batas kota. Sarana dan pelayanan itu diberikan secara gratis.
Dibangun di atas tanah lebih dari 10 hektar pada 1986, lembaga ini awalnya dihuni 50 sampai 60 perempuan yang mengalami masalah kesehatan mental. Saat ini jumlahnya naik hingga 1.600 lebih. Pada 2009 saja, sekitar 380 perempuan yang masuk lembaga ini. Dari jumlah itu, sebanyak 212 orang yang dihentikan, 80 dari mereka yang berusia di atas 60 tahun meninggal tanpa pernah dibesuk
keluarga mereka.
"Ketika saya gabung lima tahun lalu, hanya ada 450 pasien," kata Dr Naseem Attique, berusia 55 tahun, dokter umum pusat terapi itu. Hanya seorang psikiater yang datang seminggu sekali untuk memeriksa kondisi di bangsal itu.
Menurut Dr Murad Moosa Khan, kepala departemen psikiatri di Rumah Sakit Universitas Aga Khan di Karachi, perbandingan psikiater dengan pasien bukan main: 1 berbanding setengah hingga satu juta orang.
"Sebagian besar (dari mereka) dibawa ke sini oleh anak-anak mereka," kata suster Fatema, yang telah bertugas selama 10 tahun lebih. "Saya melihat kelegaan di mata mereka (putra dan putri) ketika melepaskan beban mereka kepada kami," katanya dengan kesal.
Fatema berpendapat: "Jika mereka diberi perawatan yang sama seperti yang kami berikan di sini, sebagian besar akan hidup normal. Sayangnya, anak-anak mereka tak punya banyak kesabaran atau waktu."
"Merawat dianggap sebagai kegiatan perempuan dalam masyarakat tradisional," kata Haris Gazdar, seorang ekonom di Karachi. "Karena ekonomi berkembang dan sebagian besar orang terhisap ke dalam pasar tenaga kerja, waktu perempuan jadi terbatas," katanya. Akibatnya adalah tak ada yang peduli dengan orang lanjut usia dan sakit mental. Hal ini kian meningkat di masyarakat saat ini,
kata Gazar.
Anwar Kazmi, sekretaris Abdul Sattar Edhi, yang terkenal dermawan di Pakistan dan pendiri Yayasan Edhi, yang menjalankan fasilitas mental, mengatakan sebagian besar pasien di pusat kesehatan mental itu berasal dari kelas menengah ke bawah. "Alasan utama kenapa mereka di sini dan tidak
dengan orang yang mereka cintai adalah kemiskinan," katanya.
Untuk keluarga besar yang tinggal di permukiman padat, biasanya punya satu atau dua kamar di dalam rumah, "merawat orang yang sakit mental dalam jangka panjang bisa ditanggung seluruh keluarga, terutama jika ia satu-satunya orang lanjut usia dalam keluarga itu," katanya.
Namun Dr Khan menolak kemiskinan sebagai alasan utama kenapa perempuan dibawa ke rumah sakit jiwa seperti Edhi. "Kemiskinan hanya menjadi permainan ketika keputusan untuk membuang mereka sudah diambil,” katanya.
"Anda pikir saya akan berada di sini jika orang tua saya masih hidup?" tanya Farida Noorani, berusia 39 tahun, yang telah menghabiskan 10 tahun di bangsal rumah sakit Edhi. "Adik ipar saya yang mengirim saya ke sini," katanya, sambil menambahkan kedua saudara laki-lakinya datang dan berkunjung setiap bulan.
"Saudara-saudaranya cukup baik," kata Fatema dalam wawancara terpisah dengan IPS. "Bila mereka mau, mereka bisa menjaganya dengan sangat baik.”
Dr Attique mengatakan, sangat sedikit yang pergi atau dikeluarkan dari Edhi. Dari jumlah tersebut, mayoritas kembali ke pusat terapi. Untuk setiap 10 orang yang dikeluarkan, delapan kembali kambuh lagi, seringkali dengan kondisi jauh lebih buruk dari sebelumnya.
“Sebagian besar penderita datang dari bermacam tingkatan masalah kejiwaan dan pengobatan. Ketika mereka sembuh, ada yang diambil kembali oleh keluarga mereka. Tetapi dalam banyak kasus, pengobatan akan dihentikan meski tindakan kami ditentang," kata Attique.
Dr Khan mengatakan, status yang diberikan kepada perempuan dalam "masyarakat kami yang patriarkal" telah menggiring sejumlah perempuan ke institusi kejiwaaan seperti Edhi, bahkan ketika kondisi kejiwaan mereka tak memerlukan tempat perawatan semacam itu.
"Perempuan diperlakukan sebagai warga negara kelas dua dan makhluk rendah. Karenanya ketika mereka mengidap sejenis penyakit jiwa, mereka dibuang,” katanya.
"Terkadang perempuan begitu saja diberi label 'sakit jiwa' untuk menghindari ancaman terhadap kehormatan keluarga," kata Dr Asha Bedar, seorang psikolog klinis.
Hal ini terutama berlaku untuk perempuan yang tak layak menyandang "citra ideal" oleh masyarakat, termasuk perempuan yang "melawan adat-istiadat dan tradisi" atau yang dianggap "ternoda", kata Bedar.
"Ini bisa terjadi pada perempuan dari segala usia, yang melenceng dari harapan masyarakat atau menolak pernikahan sesuai keinginan keluarga, tinggal sendiri, bercerai, menikah karena pilihan sendiri, bersikap terhadap kekerasan rumah tangga, tak punya anak, dan sebagainya,” katanya.
Sadia Yasmeen, berusia 39 tahun, sudah tinggal di Edhi selama 12 tahun. "Saya di sini karena berseteru soal harta (warisan) setelah ayah saya meninggal. Enam saudara perempuan dan satu saudara laki-laki saya, tak ingin saya menikah sehingga mereka membawa saya ke sini. Tapi mereka tak pernah sekali pun mengunjungi saya. Bahkan saya tak tahu apakah ibu saya masih hidup," katanya. Dia mengajar Quran ke pemuda-pemuda or yang tinggal di pusat perawatan itu.
Bedar mengatakan, kondisi perempuan yang mengalami gangguan jiwa atau emosional tak hanya ditemukan di Edhi. "Perempuan-perempuan ini juga ditemukan di rumah sakit jiwa dan tempat penampungan perempuan yang ditinggalkan keluargan maupun dikirim ke sana untuk ‘disembuhkan’," katanya. "Mereka dibius atau takluk oleh permintaan anggota keluarga.”
"Bahkan di klinik praktik saya, bukan hal tak lazim anggota keluarga membawa gadis (berusia 16 sampai 20 tahun) kepada saya karena mereka menolak tuntutan keluarga," seperti pada kasus kerja paksa atau kawin paksa.
"Perempua yang berakhir di fasilitas seperti Edhi masuk kategori ‘penyimpangan’ yang tak bisa ditoleransi," kata Bedar.
"Saat perempuan-perempuan muda ini benar-benar menunjukkan gejala-gejala psikiatri (seperti kecenderungan bunuh diri), membutuhkan (bantuan profesional), tapi ini sering kali disebabkan kondisi khusus dan tuntutan terhadap mereka. Pada kasus lain, penyakit kejiwaan sangat nyata tapi akibat keadaan di mana perempuan itu tinggal," ujarnya.
Yang lainnya tampak normal. Contohnya, Rashida Anees, berusia 55 tahun, yang telah berada di pusat perawatan Edhi selama 11 tahun. "Begitu kakak saya kembali dari Afrika Selatan, dia akan datang dan membawa kami pulang," katanya blak-blakan. Tapi dia, mantan guru di salah satu sekolah paling bergengsi di Karachi, Mama Parsi, belum sekali pun menerima telepon dari
kakaknya.
Konsitusi Pakistan memungkinkan seorang perempuan berusia 18 tahun atau lebih untuk menikah atas pilihan sendiri. Tapi pada praktiknya perempuan sering dihukum berat atau bahkan dihukum mati karena dianggap menyimpang dari tradisi. Perempuan yang membuat aib keluarga lebih mudah menjadi target “pembunuhan atas nama kehormatan”, sebuah praktik yang telah dilarang pada 2004 dan bisa dikenai hukuman mati. Namun pelakunya jarang dihukum.
Juga tak lazim gadis muda belum menikah sebelum usia 18 tahun karena calon suaminya berjanji akan membayar hutang-hutang ayahnya. Dalam situasi seperti ini, perempuan bisa dengan mudah menyerah lalu mengalami depresi, cemas, dan gangguan psikosomatik, yang menurut Bedar umum terjadi di kalangan perempuan Pakistan.
"Ketika gadis di masyarakat diajarkan untuk percaya bahwa mereka inferior mereka jadi merasa kurang berharga ketimbang anak laki-laki. Sehingga potensi mereka hanya berharga bila berada di ‘domain perempuan’ –seperti ruang domestik” dan ini mempengaruhi kesehatan emosional dan mental serta kesejahteraan mereka, katanya.
"Tak heran jika gejala depresi, cemas, dan masalah relasi, citra diri, percaya diri, keinginan bunuh diri sering terjadi di kalangan perempuan dan gadis dalam masyarakat kami."
Di seluruh Pakistan, Khan mengatakan ada sekitar 34 persen populasi yang menderita depresi dan kecemasan, dan sekitar satu hingga dua persen psikosis, disebabkan oleh sejumlah faktor.
Bagi perempuan, faktor-faktor itu mencakup budaya yang memaksa mereka masuk ke dalam situasi tersebut, yang dalam pandangan masyarakat, perlu tempat perawatan kesehatan jiwa seperti pusat perawatan Edhi.*
Transled by Basilius Triharyanto
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS
--
Imam Shofwan
Pantau Foundation
Jl. Raya Kebayoran Lama 18 CD Jakarta Selatan 12220.
Phone, +6221 7221031 Fax, +6221 7221055
Mobile, +6281392352986
Website: www.pantau.or.id
Weblog: bungimam.blogspot.com
Foto: National Geographic
