20.02.2010 23:37:13 WIB
Oleh PUTU WIJAYA
(Pada 4-10 Oktober 2010 akan digelar Mimbar Teater Indonesia yang akan menampilkan dan mendiskusikan naskah-nakash teater milik Putu Wijaya. Penggerak kegiatan itu, Halim HD kemudian meminta artikel dari Putu Wijaya mengenai biografi karyanya. Dan artikel ini kemudian disebar sebagai pengetahuan atau bahan untuk mendapatkan ide atau kritik).
CERITA nenek tentang Pandawa Lima, Korawa, Rama, Sinta dan Rahwana, sejak usia dini, menghidupkan dunia bayangan dalam diri saya. Dunia maya itu bertumbuh subur ketika saya mulai membaca komik R.A Kosasih dan cerita-cerita wayang di majalah Terang Bulan.
Sementara pertunjukan wayang yang selalu disertakan kalau ada “petoyan” (upacara keluarga), membuat epos Mahabharata dan Ramayana itu seperti nyampur dengan realita.
Saya suka sekali nongkrong kalau ada orang “membasan”. Membasan adalah pembacaan lontar yang dinyanyikan. Kemudian beberapa orang interprtetor memberikan penafsirannya. Sering terjadi diskusi, pameran wawasan dan kebijakan dalam mencerna makna cerita yang berakhir sebagai pengalaman yang mencerdaskan. Tak jarang juga jadi lucu, melenceng rada cabul sehingga membuat semua tertawa. Dalam berbagai upacara, kegiatan “teater membasan” memilih tema sesuai dengan hajat yang berlangsung. Bisa sampai tengah malam atau pagi, sekuat yang melakukannya. “Teater membasan” adalah adalah bagian dari pembelajaran moral, penyampaian tuntunan dalam masyarakat.
Wayang menghadapkan dunia pada saya sebagai dua sisi kehidupan yang berlawanan dan senantiasa bertempur. Kanan - kiri, atas - bawah, baik–buruk, neraka-surga, khayangan- mercapada, dewa-manusia, manusia–raksasa. Dua bertentangan yang terus bertempur tanpa ada akhir.
Anehnya yang diposisikan benar seperti Pandawa, belum tentu dapat surga. Belakangan saya temukan hulunya pada apa yang disebut orang Bali “rwa bhineda”. Dua yang berbeda. Dua yang bertentangan tetapi selalu hadir bersama, untuk saling mengimbangi sehingga tercipta harmoni. Dalam teater Bali (Calonarang), pertarungan abadi kekuatan putih (barong) lawan kekuatan hitam (rangda) pada Calon Arang, kemenangan-kekalahan silih berganti antara kedua pihak. Tidak ada janji apa-apa. Tidak selalu yang putih akan menang. Tergantung. Yang menang adalah siapa yang jadi pemenang, tetapi tidak ada jaminan hasil itu berulang di pertarungan berikutnya. Pikiran itu buat saya dahsyat dan membingkai saya terus sampai sekarang.
Saya jadi tertarik pada posisi di tengah, itu berarti hal-hal menyimpang. Yang abu-abu atau yang mendua. Saya menemukan kenyamanan pada Bima yang jujur tapi kasar dan kadang-kadang bodoh. Kemudian Bhagawan Bhisma, yang rela mengorbankan segalanya demi kebagiaan adiknya dan tidak mencvari kemenangan. Bahkan pada Begawan Dhorna yang dimaki semua orang. Saya bersimpati pada Dhorna muda yangh awalnya bernama Bambang Kumbayana. Hidungnya yang bengkok dan segala perilaku jahatnya adalah luapan bawah sadar dendam karena ia pernah dihajar habis dalam sebuah kesalah-pahaman yang membuatnya jadi busuk.
Tokoh setengah raksasa, Dewi Arimbi istri Bima juga menjadi mitra saya. Kemudian Kumbakarna yang begitu jujur, polos dan tak ragu membela negaranya walau pun ia tahu itu salah dan berakhir dengan kematian. Yang tak bisa saya tolak adalah saya tidak suka pada Khresna, meskipun dia titisan Wisnu. Saya anggap Khresna itu licik dan perekayasa segala demi master plan para dewa yang tidak boleh diganggu gugat. Kelak saya tuangkan semua itu dalam novel “Perang” (Pustaka Grafiti Pers).
Tergila-gila pada wayang, saya minta dibuatkan wayang-wayang dari karton. Dengan membentangkan sprei di antara dua pilar rumah, saya ajak pembantu mendalang dengan cerita yang saya tentukan. Tetap pada tokoh-tokoh baku yang dikenal, tapi dengan akhir seperti yang saya inginkan. Pernah saya mengajak teman-teman untuk memainkan komik, mempergunakan properti pelepah pisang dan saya memilih menjadi Bima.
Saya rasakan konflik akan terus-menerus hadir dalam kehidupan. Hitam bertambah hitam dan putih kian putih. Di sana kelabu menjadi katup penghubung Tokoh-tokoh campuran, setengah manusia, setengah dewa, setengah raksasa, setengah baik, setengah buruk yang mengaburkan batas hitam dan putih, menjadi harapan. Saya tertarik pada yang ambigu. Pada ketidakpastian saya temukan posisi netral untuk menentukan pilihan sesuai dengan kebutuhan. Belakangan saya anggap itu pancaran ajaran kehidupan Bali yang disebut desa-kala-patra. Semuanya sesuai dengan tempat (desa), waktu (kala) dan patra (suasana). Dalam belahan buruknya, sikap itu menjadi ilmu bunglon, oportunis yang maunya menemepel pada yang menang. Tapi sudut baiknya membuat orang menjadi moderat dan toleran.
Ketika bioskop mulai hadir di Tabanan (kota kelahiran saya), saya jadi pencandu film. Khayalan dalam dunia bayangan, tertampung dalam layer putih. Yang maya menjadi semakin nyata, ketika sesekali gedung biskop itu dipakai untuk pertunjukan sandiwara. Rombongan artis Persari pernah main sandiwara di gedung bioskop Nusantara (sekarang menjadi mall) dengan pemain antara lain Raden Mochtar. Raden Mochtar sangat terkenal di Bali lewat film Bengawan Solo. Bertahun-tahun kemudian, ketika main film pertama kali (Malin Kundang), saya satu layar dengan bintang kawakan itu. Bahkan dalam salah episode sinetron Keluarga Rachmat (PPFN) saya menyutradarai beliau.
Yang semula hanya bagian dari cerita, menjelma. Kontak antara imajinasi dan kenyataan semacam itu berulang. Satu ketika di kelas 3 SD setelah nonton matine film karton Snow White pada hari raya Galungan, saya dapat giliran bercerita di depan kelas. Tiba-tiba saya yang tidak tergolong pasih bicara di depan orang banyak, bercerita sampai bel kelas berbunyi. Saya campurkan antara Snow White dan imajinasi spontan saat itu yang dirangsang oleh reaksi dan ketawa teman-teman sekelas. Kejadian itu membuat saya sendiri tercengang.
Ada kekuatan yang entah di mana semula tersimpan, muncul bila suasananya matang. Diulangi tidak bisa. Dipelajari tidak mungkin karena sepertinya bukan ilmu. Belakangan ini menyebabkan saya sering mempercayakan sesuatu pada naluri. Khususnya di dalam menulis. Data dan pengalaman tidak selamanya memudahkan saya untuk bekerja. Apalagi kalau terlalu banyak. Sebaliknya tanpa semua itu, dalam kekosongan tiba-tiba sering menggelepar sesuatu yang bila tertangkap dan diolah dengan intens menjadi sebuah kejutan yang bagi saya sendiri pun mengherankan.
Ketika saya mulai menjadi penulis, kosong itu adalah sekutu saya nomor satu. Popo Iskandar pernah merensi novel saya Bila Malam Bertambah Malam dan mengatakan, penulis seakan-akan tidak mempersiapkan, atau tidak tahu apa yang akan terjadi pada akhir novelnya. Dan itu betul. Bahkan saya kemudian menjadikannya semacam pola bekerja. Kalau saya tahu apa yang akan terjadi, saya yakin, paling sedikit sejumlah pembaca juga mesti sudah tahu. Itu yang benar-benar saya hindari. Itulah yang kemudian saya pakai menyeleksi ide yang mana layak ditulis. Saya ingin menulis sesuatu yang tidak saya ketahui sebelumnya, dan mengembangkannya sedemikian rupa sehingga terjamin tetap hanya saya yang tahu.
Dalam kehidupan orang Bali ada yang disebut “puyung maisi” (kosong berisi). Kosong itu penuh. Penuh itu kosong. Ini hampir sama dengan pergi itu pulang. Pulang itu pergi. Permainan kata ini boleh ditangkap sebagai lelucon, tetapi dapat juga dimaknakan sebagai senjata ampuh.Dengan senjata berpikir begitu, setiap peristiwa menyembunyikan kebalikannya. Semua datang serentak/komplit, meski pun hanya separuhnya yang terlihat. Tinggal mampukah kita untuk menangkap, memaknakan dan barangkali memanipulasi kebalikan yang tak nampak itu, menjadi nyata sehingga berubah jadi kekuatan. Saya senang sekali mempergunakan “akrobatik” itu dalam menghadapi khususnya kesulitan.
Di kelas dua SMA saya bertemu dengan Kirjomuljo. Ibu Gedong Bagoes Oka, direktur sekolah saya mengundangnya untuk menyutradarai komedi satu babak “Badak” karya Anton Chekov, terjemahan Nasyah Djamin. Dalam beberapa kali latihan, saya kagum dan heran melihat Kirjo dalam memberikan saya instruksi-instruksi. Akhirnya saya tanyakan langsung, apakah semua perintah-perintah itu sudah dia persiapkan dari rumah, sebelum latihan. Kirjo menjawab tidak. Itu muncul begitu saja, melihat kehadiran dan apa yang saya lakukan. Waktu itu terbuka pikiran saya pada apa yang kemudian saya tekuni: penyutradaraan.
Di kesempatan lain, masih dengan Kirjo, raja penyair (1960-an) asal Jogja itu, kembali membuat saya tertegun. Melihat teman sekelas saya yang kaya, berbakat menulis dan punya mesin ketik, dia memberi komentar. Kalau saya jadi kamu, saya akan berjuang. Kata berjuang yang sebelumnya pada saya lekat dengan revolusi phisik, tiba-tiba berubah. Kalau ditelusuri, ternyata menulis memang berjuang. Dari mencari ide, menyeleksi mana yang pantas ditulis, bagaimana menuliskan, mempublikasikan dan kemudian bahkan mengantarkan masuk ke benak orang, bila tadinya salah masuk, semuanya berjuang.
Beberapa tahun kemudian, ketika menjadi wartawan/redaksi di majalah EKSPRES lalu TEMPO, saya menemukan beberapa “jurus” lain. Di situ disepakati bahwa menulis adalah mengutarakan sesuatu dengan menarik dan bisa “diterima” buat semua lapisan pembaca. Bila mentri dan presiden, professor, doktor dan mahasiswa dapat menikmati bagaimana agar tukang beca, sopir, bromocorah, pelacur dan anak-anak juga bisa menerima. Opini baru boleh ditembakkan setelah memberikan informasi paling tidak dari dua sumber yang berbeda. Berbicara seperti orang bodoh yang lugu, tapi cerdik dan terkendalil Menghormati kecerdasan pembaca, membuat yang sulit menjadi ringan dan yang enteng jadi berisi. Dengan dead line plus jumlah karakter tulisan tidak bisa ditawar, karena majalah tidak mengenal nyambung ke halaman belakang, menulis seperti memasak. Penulis bukan hanya pencipta tetapi juga koki. Seperti membuat bangunan yang bisa dinikmati oleh penghuninya. Menulis tak hanya menyampaikan in formasi dan opini tetapi menjaga kenyamanan dan tidak ada yang hilang di jalan. Ada ekonomi, menejemen, tatak dan strategi, ada kalkulasi dan perhitungan bahkan psikologi. Memakai takaran dan desiplin.
Kehidupan jurnalistik membuat saya mengganti desiplin. Terbiasa di bawah pengawasan editor akhirnya saya menghidupkan fungsi editor di dalam diri sendiri untuk menjamin kretivitas selalu terkendali.
Tulisan tidak dibuat untuk diri sendiri atau kawan-kawan yang sepaham. Semuanya untuk pembaca, tanpa harus mengabdi kepada mereka. Sementara pasar juga tidak bisa diabaikan, institusi itu menuntut harus hirau pada persaingan. Bagus saja tidak cukup, harus sigap menangkap peluang supaya menang. Saya tidak suka kata menang, karena konsekuensinya mesti ada yang kalah. Kemenangan tidak akan terjadi tanpa ada yang kalah.
Siapa yang mau atau siap kalah, selain Begawan Bhisma? Menjadi penulis dan sekaligus wartawan jadi tidak m udah. Banyak penulis yang merasa kebebasan berekspresinya dibatasi atau disiksa atau ditata-tata ketika mereka bergabung dalam jurnalisme. Tetapi saya sudah terbiasa hidup dalam Puri di Bali yang penuh dengan aturan. Larangan dan desiplin buat saya bukan pemasungan, tetapi justru stimulan untuk mengasah kemampuan meningkat. Tentu tidak selamanya begitu. Karena lingkungan yang busuk, tidak hanya jurnalisme, akan langsung mempengaruhi ekselarasi dan kapasitas. Saya tidak begitu saja terjun jadi warttawan. Sebelum masuk (awalnya ke majalah Ekspres) saya lihat lingkungan apa yang yang akan saya temui di sana. Dengan siapa-siapa saya akan bergaul. Bahkan seorang teman mengatakan bahwa, jurnalisme dapat mengganggu. Suasana kantor akan membuat kita menjadi birokrat dan mental bawahan. Saya hanya ingin bergaul dengan orang seperti Goenawan Mohamad, Salim Said, Bur Rasuanto yang waktu itu ada di Ekspres. Setelah satu tahun jadi wartawan, saya terlatih tidak lagi menulis menunggu hembusan “mood”. Menulis adalah “ bekerja” sama seperti buruh, tani, atau sopir yang banting tulang mempertaruhkan jasmaninya. Ada tidak ada yang ditulis, harus menyetor tulisan. Berita ada yang datang sendiri, tapi lebih banyak harus diburu. Sejak itu, diskripsi menulis menjadi seperti orang berburu. Bukan menuangkan apa yang sudah direncanakan, tetapi lebih banyak mengejar, menangkap dan memberangus binatang perburuan yang liar. Ini sama dengan petualangan-petualangan Old Shaterhand dan Winetou dalam buku-buku Karl May atau komik Tarzan yang saya gauli waktu anak-anak.
Setiap kali berhadapan dengan mesin ketik dan kemudian komputer, seperti pekerja tambang yang ngebor bumi untuk mencari temuan berharga. Harus dapat. Bahwa kadang bagus kadang buruk, itu tak bisa diketahui sebelum terjadi. Pengalaman membelajarkan, bagus dan buruk tidak tergantung seratus persen dari temuan itu sendiri, tapi bagaimana kita mengolahnya. Bagaimana kita membuatnya atau menyulapnya jadi baru, menarik, berharga dan menjadi penting. Seperti nonton wayang. Ceritanya sudah kita tahu. Watak-watak pelakunya tidak akan berkembang lagi. Tetapi bagaimana dalang menceritakannya, membuat semuanya menjadi seperti berbeda.
Sudut pandang, carang memaparkan, tiba-tiba menjadi target perburuan. Jadi bukan tema, cerita, konflik, muatan informasi, akurasi, bahkan pesan moral yang kemudian menghabiskan pikiran dan perasaan dalam menulis, tapi pencarian sudut bidik yang tepat. Karena sudut pandang itulah yang akan membuat “hasil perburuan” (karya) jadi otentik, khas, unik, orisinal. Berbeda dengan yang lain walau pun atas subyek yang sama.
Setelah menulis novel Telegram dan Pabrik serta Aduh dan Sandiwara, Bu Gedong mencarikan saya sponsor untuk hidup di dalam masyarakat komunal Ittoen, Yamashina, Kyoto, Jepang. Ittoen adalah “penampungan” bagi mereka yang telah mati jiwanya. Di situ emosi tidak ditolerir. Angotanya semua memakai pakaian hitam dan mengabdi pada kerja serta kesederhanaan.Hidup adalah melaksanakan semua kesimpulan atas semua pertanyaan yang sudah dijawab oleh Tenko-san, pendirinya.
Masyarakat komunal Ittoen pernah dituduh komunis, mungkin karena mereka memang tidak mengenal hak-milik pribadi. Tapi kelompok itu sangat spiritual. Mereka menggabungkan Gandisme dan Buddha Zen. Setiap hari bangun pukul lima, membersihkan rumah dan halaman, kemudian bersama-sama melakukan prosesi sembahyang, lalu bernyanyi memasuki ruang makan. Tak berbicara selama makan, sampai berada di luar ruang. Kemudian bekerja di sektor masingp-masing (saya di ladang). Tengah hari pulang naik sepeda, makan. Lalu kembali lagi bekerja sampai pukul lima. Upacara lagi diteruskan makan bersama. Lalu pulang k eke tempat masing-masing. Jam sepuluh listrik dimatikan, semua harus tidur.
Tiga bulan saya bertani sebelum diperbolehkan ikut keliling bersama rombongan sandiwara mereka yang beranama “Swaraj”. Pertunjukan kami menghibur orang-orang tua dan anak sekolah. Dengan truk penuh dekor berpindah dari satu sekolah ke sekolah yang lain saya dibelajarkan pada “kerja adalah ibadah”. Teater bukan kesenangan tapi pekerjaan, kata salah seorang anggota Swaraj. Pembelajaran itu membuat saya tak mampu bertahan. Negeri sekaya ini, mengapa harus hidup menyiksa diri, keluh saya. Saya ingin belajar kabuki, mengapa mesti membuat pertunjukan anak-anak. Usia saya ketika itu 29 tahun. Saya marah dan frustasi. Hanya 7 bulan bertahan, saya minta pulang. Tetapi setelah kembali ke Indonesia seluruh ethos kerja di Ittoen itu tanpa bisa dicegah membakar saya, sampai sekarang.
Bila negeri sekaya Jepang penduduknya masih menyiksa dirinya untuk bekerja keras, kita sudah sepantasnya malu. Dengan taraf hidup yang sangat rendah dan kekayaan alam yang sudah semakin menipis, kita masih saja lalai, kasep dan lamban. Kita memerlukan desiplin dan kemampuan bersinergi sebagai sebuah tim. Hanya tekad, tangan besi dan kestuan total yang memungkinkan kita membuat lompatan besar setelah begitu jauh tertinggal. Lalu saya melihat dengan sungguh-sungguh pada apa yang kita sebut “kelompok orang”, “sejumlah orang” atau “masyarakat”, yang selalu bergesekan dengan individu.
Ittoen adalah semacam tempat “pembunuhan diri” individu. Di sekitar 400 anggota komunitas pada waktu itu, sebagian besar adalah anak kecil dan orang tua. Yang muda-muda lebih senang hidup menikmati kebebasan di luar komune. Meskipun kaya, karena menjadi semacam “pendidikan” bagi karyawan baru dari berbagai perusahaan besar yang memberikan donasi, penduduk Ittoen hidup sederhana. Saya dapat gaji 3000 yen sebulan (1972/73). Setiap malam minggu saya pergi ke Kyoto, membeli secangkir kopi di sebuah café dan mendengarkan musik sampai pagi. Subuh saya duduk di tepi sungai, lalu pulang naik kereta.
Pembunuhan kebebasan individu demi kemenangan komunal, saya lihat sama dengan keterpasungan pribadi dalam kehidupan kelompok untuk mewujudkan aspirasi gotong-royong. Konflik itu akan terus menggelinding seperti yang terjadi pada barong dan rangda dalam calonarang. Temuan perburuan ini kemudian menjadi langganan saya berkali-kali dalam menuliskan banyak lakon sekembalinya ke Indonesia. Saya tak pernah menulis tentang Jepang secara harpiah. Tetapi banyak sekali yang kemudian saya tulis, adalah temuan di Jepang, lewat Ittoen. Di Itooen itulah, di atas tatami, kadangkala di atas truk, saya mulai menuliskan lakon ANU dan novel LHO.
Duapuluh tahun setelah meninggalkan Ittoen, saya kembali. Ittoen sudah berubah. Nampaknya tidak seketat ketika dulu saya datang. Instruktur saya di ladang dan juru bicara Ittoen, Ayako Ishayama yang lancar berbahasa Inggris, masih seperti dulu. Swaraj juga begitu saja. Sayalah yang berubah. Saya tidak lagi merasakan desiplin, tanpa milik pribadi dan bekerja untuk komune ala Ittoen itu sebagai sebuah kekejaman. Itu adalah therapi buat kehidupan yang sudah semakin tidak bermoral. Tetapi untuk kembali ke sana dan menjalani lagi hidup menyiksa diri dengan kerja, saya tidak tertarik. Saya menyukai hidup biasa dengan segala lebih-kurangnya. Saya merasa lebih nyaman berada dalam “pertempuran bebas”, konflik non spiritual, karena di situ dimungkinkan menjadi bagian abu-abu.
Ketika pertama kali ke Jakarta pada 1967, saya menulis: Jakarta, aku cinta padamu. Saya menemukan “sawah” saya di ibukota. Tapi di Jakarta saya ketemu kembali cerita lama: susah mengumpulkan orang untuk latihan drama. Teater mengesalkan, karena memerkukan kehadiran semua pemain, paling tidak sebagian di saat latihan. Apalagi waktu pementasan. Tapi justru kesulitan itu kemudian mengantarkan saya pada semboyan kerja: Bertolak Dari Yang Ada, yang saya praktekkan sampai sekarang.
Pada tahun 1975, pulang dari mengikuti International Writing Program di Iowa City, AS, selama 8 bulan, saya singgah ke Prancis, main dalam Festival teater di Nancy. Saya tampil selama tiga hari di sebuah tenda sirkus dengan kelompok Tempt Fort (sepasang suami-istri dari Prancis Selatan yang berkelana dengan boneka-boneka raksasa) Kembali ke Jakarta saya adakan latihan drama mulai tengah malam, agar tak ada alasan untuk tidak hadir. Siapa yang datang itulah yang ikut. Apa yang ada itulah yang kemudian ditampilkan. Setelah 4 bulan latihan, saya mementaskan LHO di Teater Arena TIM. Pementasan visual tanpa cerita itu 25 tahun kemudian saya saya ulangi ketika membawa Yel ke 4 kota kota di Amerika dalam KIAS (1990). Sejak itu saya mulai jarang menulis lakon , karena pertunjukannya hanya gambar, gerak dan musik.
Karena tak ada ceritanya, saya semakin pasti menyebut pementasan saya “tontonan”. Nama jenis itu sudah saya pakai sejak mementaskan ADUH (1974) kemudian saya lekatkan terus untuk setiap pertunjukan, Bahkan dalam penulisan naskah, hasrat membuat “tontonan” lebih utama dari bertutur atau memaparkan opini. Tujuan dari tontonan bukan menyampaikan cerita, tetapi mengganggu. Membuat penonton tergerak untuk memikirkan sekali lagi keputusan, opini atau sikap yang sudah
diambilnya. Bukan dengan memberikan resep baru, tetapi hanya membimbangkannya sesaat. Bagi saya kebimbangan adalah suci. Dengan kebimbangan itu apa pun yang kemudian diputuskan akan lebih kuat dan mantap.
Saya mengakui kemampuan saya bukan menghibur tapi mengganggu. Sejak itu saya memakai istilah “teror mental” sebagai target semua tulisan dan pentas. Teror mental, tidak sebagaimana yang diartikan oleh beberapa teman yang sinis mempertanyakan, teror apa lagi yang bisa kita buat dengan teater kalau kenyataan (bom, keonaran) sudah begitu garang. Teror tidak harus selalu garang. Bisa sangat santun, sepi, sederhana, tetapi akibat batinnya pada (tidak selamanya semua orang) seseorang menghilangkan keseimbangan. Misalnya ketika seorang pengantin berbisik pada pasangannya di saat disahkan berbisik mesra: sebenarnya aku sudah menikah denghan orang lain.
Di Madison, ketika mementaskan GEEZ (GERR, Universitas Wisconsin 1986) bersama Phillips Zarilli, saya diminta untuk membuat semacam statemen untuk koran. Lalu saya bilang bahwa: yang saya tulis (sutradarai) adalah seperti anggur. Bukan lakon itu sendiri yang penting, tetapi akibatnya yang kemudian terjadi pada orang yang menikmatinya. Lama sebelumnya, ketika membacakan cerpen di toko buku Eipstein di Iowa City (1974), saya akhiri pembacaan dengan merobek cerpen itu. Semuanya untuk menunjukkan cerpen itu sendiri bukan yang tepenting, dihancurkan, diinjak-injak (saya lakukan di Perth) tak apa, karena utamanya apa yang terjadi dalam diri pembaca/pendengar/pemirsa.
Saya berangkat ke Madison atas undangan Fulbright. Untuk mengajar dan menjadi artist in residence. Sebelum berangkat ke situ, saya gentar. Saya pikir tak ada yang bisa saya ajarkan, karena saya juga bukan guru. Ketika berada di sana, di samping mengajar sastra Indonesia, saya juga deprogram untuk membuat pementasan dengan para mahasiswa dalam kelas mahasiswa yang memepalajari teater Timur yang dipimpin oleh Phillip Zarilli.
Dalam kelas sastra Indonesia yang dipimpin oleh Prof. Ellen Rafferty, saya bertemu dengan Michael Bodden yang mempelajari ilmu perbandingan sastra. Saya minta Michael menerjemahkan Gerr, (kemudian Aum dan Tai). Mula-mula saya anjurkan dia membacanya. Kalau tertarik dan ia rasakan akan bisa dicerna penonton Amerika silakan diterjemahkan. Menurut Michael naskah itu akan bisa jalan, karena ia kerap kali ketawa waktu membacanya. Selesai diterjemahkan, saya ajak para mahasiswa membaca di situ saya percaya naskah itu bisa diterima. Dan setelah dipentaskan, saya mendapat bonus bahwa apa yang sudah saya lakukan, tidak perlu dibelokkan lagi, karena arahnya sudah tepat. Saya bertambah yakin, saya tidak sebagaimana yang diokecamkan oleh Rustandi Kartakusuma ketika menilai ADUH, ke Barat-Baratan dan mengabsur-absurdkan diri.
Rustandi Kartakusuma (penulis Prabu dan Putri) mengecam habis ADUH ketika menang dalam sayembara penulisan DKJ. Ia menganggap lakon yang mengisahkan antara lain, mayat yang tidak bisa diangkat itu seperti peniruan mentah-mentah terhadap lakon-lakon absurd Prancis. Goenawan Mohamad (juri) meladeninya dengan tulisan panjang. Saya sendiri menghadapinya sebagai perbedaan opini saja. Meskipun Rustandi sering datang ke Bali, tapi saya merasa ia tidak paham tentang Bali sebagaimana yang saya pahami. Kejadian di dalam ADUH sama sekali bukan sesuatu yang aneh bagi alam pikiran Bali. Tapi saya sempat bimbang juga. Apa saya memang sudah tercekoki oleh Barat, karena memang sempat main dalam Waiting for Godot (Bengkel teater, 1969) dan memang sangat tertarik oleh Beckett. Setelah mementaskan GERR di Madison keraguan saya pupus. Tak ada penonton yang menghubungkan GERR dengan absurditas. Mereka bahkan melihat pancaran yuang sangat Bali. Di situ kesadaran saya untuk menggali tradisi bukan dari sosok tapi dari
belahan jiwanya semakin mantap.
Sama seperti anak saya sekarang (Taksu, 14 tahun), saya juga tergila-gila pada kartun. Anatomi kartun sangat berbeda dengan tubuh manusia. Seperti dongeng, kartun lebih plastis, gila dan tidak punya batas. Kartun tidak perlu proporsi atau bayangan, gerakannya seenaknya. Bisa melawan logika. Emosinya tidak hanya dirasakan tapi bisa digambar. Saya terpesona oleh ketidakterbatasan dalam kehidupan dongeng dan kartun, lalu mengadopsinya, sehingga kebebasan saya tak ada batasan dalam membuat tontonan. Saya tahu mereka yang memulyakan emphati tidak suka ini. Mungkin mereka tak akan pernah tertarik untuk membaca atau mementaskan lakon saya, karena mereka tak pernah “terbawa” atau “larut”. Mereka mungkin sulit mengidentifikasi dirinya pada salah satu tokoh saya.
Untuk itu, saya sudah menerima nasib. Tapi kemudian muncul seorang anak muda seusai pementasan GERR di TIM (1981). Dia mengatakan bahwa dia ketawa ngakak melihat suami yang mati dalam lakon itu hidup lagi dan dikejar-kejar oleh keluarganya untuk dibunuh. Karena tidak jadi mati membuat semua orang repot. Tapi, kata anak muda dari komunitas teater di Bulungan itu, setelah ketawa aku menyesal, karena bukankah yang aku ketawakan itu diriku sendiri? Curhat itu menjelaskan empathi dengan cara yang berbeda.
Di lain kesempatan, setelah pentas ulang AUM di GKJ pada 1994, seorang mahasiswa mengampiri. Dia menjabat tangan saya dengan bersemangat. Aku dulu sudah nonton Aum di Teater tertutup TIM pada 1980, tapi aku tidak mengerti, apa maksudnya. Sekarang.setelah 14 tahun, aku senang sekali, aku mengerti. Ini kan kejadian yang sedang kita hadapi sekarang! Sekali lagi saya mendapat penjelasan bahwa emphatic bisa dijelaskan dari berbagai sudut pandang.
Seperti lukisan tradisional Bali. Saya sering mengambil sebagai contoh dan sekaligus pemeblajaran. Dalam lukisan itu, ruang tidak pernah ada sisa, penuh semuanya, Seakan-akan pigura pun akalau bisa akan digambari. Tidak ada perspektif, benda jauh dan yang dekat sama saja besarnya. Antara mimpi dan kenyataan nyampur, tumpang-tindah tanpa batas. Di tengah-tengah suasana dongeng/alam wayang tiba-tiba bisa muncul skuter atau mobil. Dalam suasana pertempuran hidup-mati seringkali di salah satu sudut ada orang berbuat jahil, mengobok-obok lawan jenisnya.
Semua kenyataan di atas, kalau di vonis dengan teori menggambar akan kelihatan bahwa, pelukisnya tiak mengerti komposisi. Tidak bisa membuat fokus. Tidak punya kesadaran pada kesatuan suasana. Ada anakronisme, kesalahan fakta. Dan kacau. Tapi kalau dijelaskan dengan cara memandang orang Bali, semuanya itu wajar saja. Bagi orang Bali fokus itu banyak. Semua yang ditatap akan langusng menjadi focus. Jadi terserah pemirsa. Kenyataan dan impian juga memang tidak dibedakan, karena dalam praktek kehidupan semuanya hadir berbareng. Anakronisme adalah semacam penanda bahwa masa lalu atayu kehidupan dongeng dengan masa kini dan kehidupan nyata itu terkait. Kesatuan suasana justrui ditampilkan, karena tak ada kehidupan yang benar-benar hanya satu aktivitas. Di dalam keadaan melarikan diri dikejar musuh, seorang pencinta kucing, masih tetap akan mencoba menyelamatkan kucingnya, sementara nayawanya sendiri bisa terancam. Yang tidak masuk akal bagi orang lain, bisa saja logis bagi satu orang lain.
Melihat kenyataan plural di Indonesia, saya selalu mencoba mengamankan apa yang saya tulis, agar bisa berjabatan dengan semua orang. Karenanya saya cenderung tak memberi nama, tak memberi asal-susul, tak memperlihatkan agama pelaku, walhasil mengapungkan semuanya. Sebagai resikonya, semuanya menjadi sangat umum, tak terkait secara lekat dengan konteks. Saya hanya mendapat keuntungan bahwa saya bisa membawa lakon itu ke mana saja tanpa harus memberikan catatan referensi. Lakon AUM, GERR dan ADUH yang pernah dimainkan di Madison, misalnya, tidak memerlukan catatan dimainkan di depan penonton Amerika, karena bicara tentang hal-hal yang umum yang ada di mana-mana.
Yang umum adalah yang esensial. Tapi yang esensial, yang besar sudah digarap dengan sangat bagus oleh banyak penulis besar. Untuk menyamai apalagi mengalahkan, terlalu sulit. Tapi masih ada harapan. Saya lihat hal-hal yang remeh-temeh juga umum. Kejadian-kejadian sepele banyak sekali terjadi sama di seluruh dunia. Orang jalan menabrak.pintu kaca, tidak hanya terjadi pada orang dari Teges, Ubud, bali yang pergi ke Jakarta. Bisa terjadi di New York atau di Paris oleh penduduk setempat. Jadi bicara tentang yang umum (saya tidak berani memakai kata universal, meskipun sangat ingin) membuka peluang bisa berkomunikasi dalam areal yang lebih luas di masa global.
Yang aneh, konyol dan lucu, juga termasuk bisa mengkatagorikan sesuatu menjadi umum dan komunikatif (tak memerlukan referensi). Saya memanfaatkan ketiga hal itu sebagai “bahasa” saya dalam membuat “tontonan” “teror-mental” berdasarkan “bertolak dari yang ada”. Saya hanya berusaha membatasi ketiganya itu hanya kendaraan yang menolong saya untuk sampai ke hati penonton dan bukan tujuan. Memang sering saya tak akan mampyu mengendalikannya, karena dia lebih merupakan tujuan daripada berfungsi sebagai alat. Kalau sudah begitu saya rela memvonis diri saya gagal. Kendati di balik kegegalan itu ada janji bahwa itu bisa menambah kesempurnaan peralatan, dalam usaha mengejar tujuan di kesempatan berikutnya.
Seperti kata rekan saya Jimmy Supangkat, pematung yang kini menjadi kurator terkenal itu. Pada orang Bali berkesenian itu memang dharma. Sumbangannya pada kehadirannya dalam hidup. Bagi mereka (pelukis maksudnya) yang penting membuat karya terus-menerus. Apakah itu baik atau buruk itu soal nanti, atau tidak begitu penting. Kadang baik dan kadang buruk, tergantung desa-kala-patra. Jadi tidak ada obsessi untuk menciptakan master piece, kalaulah kemudian tercipta, itu memang sudah jalannya begitu.
Saya orang Bali. Tapi saya Bali murtad yang sudah terkontaminasi. Saya seperti disket yang salah format. Di satu sisi saya menulis (berkarya) sebagai dharma. Saya bangun pagi, kadang pukul tiga, rata-rata pukul lima, dan menulis apa saja. Seperti pabrik saya menghasilkan (banyak yang tidak percaya) lebih dari 100 cerpen dan mungkin hanya satu atau dua buah yang bagus. Kadang karena banyaknya orang lupa saya ini penulis. Mereka lebih melihat saya sebagai sutradara sinetron Walhasil
pandang kea rah saya jadi kabur. Sering saya ditanya Anda ini apa? Penulis, pemaian, sutradara, budayawan, wartawan atau apa? Belakangan saya suka menyebut diri saya pemulung. Saya memunggut tetek-bengek trcecer dari tong-tong sampah 9yang tidak dipakai orang) dan mencoba mengoptimalkannya menjadi sesuatu yang pantas dihargai.
Pada saya tidak murni karya itu hanya dharma. Sedikit banyak saya tertular virus liberalisme dan kapitalisme, meskipun kadang merasa diri sosialis, marxis di samping panca silais. Saya sejalan dengan Bung Karno yang memakai marxisme sebagai pisau analisa. Terus-terang saya rancu. Di samping menulis karena hanya itulah dharma yang bisa saya berikan saya juga diam-diam saya sangat ngebet untuk menciptakan master piece. Tapi gagal melulu. Sampai pengantar Riwayat Lakon-Lakon Teror Mental ini saya tulis, saya merasa sebenarnya saya hanya menulis sebuah novel, sebuah cerpen, sebuah esei, sebuah puisi, sebuah laporan, sebuah lakon yang tidak pernah selesai. (bersambung)
Foto: aamovi.wordpress.com
