21.02.2010 01:19:39 WIB
Oleh PUTU WIJAYA
1. DALAM CAHAYA BULAN
Ditulis sekitar tahun 1965. Mengikuti struktur drama satu babak Chekov. Dimainkan pertama kali di kampus. Pemain utamanya Ashadi Siregar. Tentang seorang lelaki tua yang suka duduk-duduk di taman. Di situ ada orang pacaran Ada nenek yang mencari cucunya yang hilang. Komedi ini ditulis sebagai novelet dan dimuat bersambung di majalah Minggu Pagi. Di salah satu bagian pemain NENEk pernagh protes, karena tokoh itu sempat mengatakan cucunya sudah mati, tapi nyatanya kemudian hidup, ada. Saya tak berusaha memperbaiki itu menjadi “bener”, saya pikir apa salahnya tokoh dalam cerita itu berbohong (kepada penonton). Hal yang sama terjadi pada drama Kieke. Karena Kieke dibuat untuk dimainkan oleh beberapa mahasiswi di asrama Satya Wacana, bangunan dramatinya saya telateni, tetapi kemudian ceritanya tidak logis. Saya bingung. Teman saya Buddi Satria bilan g b iarin saja, apa salahnya tidak logis. Saya terperanjat, tapi pernyataan itu mencerahkan. Ketidaklogisan yang sengaja dibiarkan terasa berbeda dengan ketidaklogisan sebagai kesalahan.
2. BILA MALAM BERTAMBAH MALAM
Pada 1964 bersama Ikra Nagara saya membawa drama keliling beberapa kota di Bali. Pulangnya saya singgah ke rumah Ikra di Negara dan bertemu dengan seorang pemain drama setempat. Beberapa bulan kemudian saya kem bali ke Denpasar dan menyelenggarakan Fetival Drama LDN. Bertemu kem bali dengan pemain drama itu. Dan saya jatuh cinta. Dalam percintaan itu dia menakutkan hubungannya dengan saya, sebab saya berasal dari keluarga kesatria. Untuk menenagkan perasaannya bahwa masalah kasta tidak perlu lagi dijadikan alasan untuk membatalkan cinta, saya tulis sebuah drama. Drama ini pertama kali dimainkan dalam Parade Drama di Gedung BTN Jogya. Kemudian saya tulis dalam bentuk novel untuk mengbikuti sayembara IKAPI bersama dengan naskah nov elet Dalam Cahaya Bulan. Keduanya menang sebagai naskah yang akan diterbitkan. Tetapi kemudian menurut Ajip Rosidi, Ketua IKAPI saat itu, naskah Dalam Cahaya Bulan hilang. Bila Malam Bertambah Malam kemudian terbit saya buku saya yang pertama dalam bentuk novel. Drama ini pernag direkam oleh TVRI dengan PD Deddy Setiadi dan termasuk sering diputar ulang. Saya memainkan tokoh Wayan.
3. MATAHARI YANG PENGHABISAN.
Ketika menyelenggarakan Parade Drama di BTN yang antara lain mementaskan Bila Malam Bertambah Malam, setiap malam kami tampilkan 2 drama. Pada malam kedua, saya merasa dua drama yang kami suguhan agak datar. Lalu saya mendorong diri untuk mementaskan sesuatu di antara kedua pertunjukan itu. Hari itu juga saya mereka-reka bloking. Saya menceritakan seorang yang sedang menghadapi hukuman mati. Dalam kesepiannya dia bicara dengan kecoak dan bekas pacarnya. Dia begitu gagah dan tidak kenal takut. Pada akhirnya dia mencekek dirinya sendiri karena tidak sudi dibunuh. Saya namakan lakon itu MATAHARI YANG TERAKHIR kadang-kadang MATAHARI YANG PENGHABISAN. Monolog itu berjalan mulus. Mengangetkan semua orang, termasuk saya sendiri. Waluyo DS minta pada saya naskahnya. Edsoknya buru-buru saya buat sambil mengingat-ingat apa yang sudah saya lakukan. Saya kirim naskah itu ke Majalah Horison, tapi tak ada kabar. Kemudian saya mainkan monolog itu bersama pameran keliling Sanggar Bambu. Pada tahun 1992 saya menuliskannya kembali dan ikut termuat delam kumpulan monolog DAR-DER-DOR yang diterbitkan oleh Grasindo (KOMPAS) dengan nama yang baru.
4. ORANG-ORANG MALAM
Orang-Orang Malam saya buat pada 1966. Muryoto Hartoyo, teman saya sekelas waktu masih di ASRI adalah anggota Sanggar Baru yang sedang galak-galaknya. Dia “menghasut” saya untuk membuat pementasan. Ia ingin memajang poster di Tembok Netral di Malikoboro. Tembok itu merupakan ukuran sebuah hajat besar saaat itu. Saya terprovokasi. Enersi Muryoto menggeraklkan adrenalin saya. Saya coba respon Malioboro yang pernah terkenal oleh film Sepanjan g Malioboro (Usmar Ismail).Waktu itu di sepanjang jalan Malioboro masih banyak pohon asam dan waru. Jembatan Gondolayu gelap pada malam hari dan sudah tyerkenal oleh lakon N asyah Djamin dengan judul yang sama. Malam hari dalam rintik hujan, naik sepeda pulang dari rumah teman ditempa angin sambil mencari akal bagaimana akan menggedor pintu indekosan yang pasti sudah ditutup, adalah bagian-bagian pentying dalam rutin kehikdupoan saya semasa di Yogya. Judul Orang-Orang Malam, saya tangkap dari siaran sandiwara malam hari yang diprosukdi oleh Sumardjono. Saya menemukan sebuah plot. Bagaimana membuat penonton penasaran, karena apa yang diduga atau diharapkannya tidak terjadi. Tokoh-tokoh di dalam Orang-Prang Malam berpapasan tapi tidak pernah tahu betul hubungan mereka dengan yang lain. Penonton karena melihat semuanya, menduga lelaki dan pelacur yang ternyata suami istri itu adalah orang tua gelandangan kecil yang malang-melintang sejak awal cerita. Tapi sampai akhir lakon semuanya dibiarkan terus papasan. Saya mementaskan Orang-Orang Malam di Gedung BTN bekerjasama dengan Sanggar Bambu Arifin C Noer yang juga suka nongkrong di Sanggar Bambu (waktu itu belum saya kenal) ketika melihat foto-foto pertunjukan, heran, karena dia merasa itu masih amatiran. Saya kecil hati, tapi menerima kritik itu. Itu terjadi karena semangat kompromi dan “Bertolak Dari Yang Ada” yang terlalu berkompromi dan seadanya. Juga tidak ada ambisi untuk “hebat”, hanya asal jalan. Saya memang masih seorang amatir. Namun, kelak ketika menulis esei “Bertolak Dari Yang Ada” untuk buku yang diterbitkan DKJ (1980), saya kembali memikirkan kata “amatir”. Lalu mencoba melihat di samping kekurangannya, apa sebenarnya kekuatan dan kelebihannya.
5. LAUTAN BERNYANYI
Ketika Hotel Bali Beach didirikan di pantai Sanur Bali, banyak keajaiban terjadi. Sanur di masa lalu dikenal sebagai pusat pembelajaran ilmu hitam (pengeliakan ). Hotel itu sendiri bekas kuburan. Ketika pemindahan kuburan kelompok Olahraga Hidup Baru (Orhiba) ikut berperan. Almarhum Rujito pernah menceritakan ikut proses pemindahan itu. Ia menghaku melihat semacam pertempuran, api yang turun di pohon kelapa. Sebuah kapal yang membawa perlengkapan pembangunan kandas di daerah Padang Galak. Kaptennya tidak mau turun. Waktu pulang liburan dari Yogya, saya bersepeda ke pantai dan melihat kapal itu. Saya seperti merasakan kenapa Kapten itu tidak mau turun. Dan ketika keponakan saya minta dibikinkan hadiah, saya tulis cerpen Lautan Bernyanyi di harian Bali Pos. Cerpen itu kemudian dimainkan sebagai drama pendeak oleh Yudha Paniek dan Abu Bakar. Saya tulis kembali untuk Majalah Minggu Pagu untuk 2 kali pemuatan. Pada 1967, ketika ada sayembara penulisan lakon oleh BPTNI, saya adaptasikan menjadi lakon panjang. Kebetulan sat itu Teater Muslim dengan sytradara dan pemain utama Arifin C Noer memainkan Caligula di gedung PPBI. Saya terpesona oleh monolog-monolog Caligula. Percakapan wajar sudah ditinggal. Yang diokejat bukan pingpong yang tangkas dan wajar seperti dalam Badak atau Pinangan Chekov. Pentas menjadi pengembaraan pikiran. Drama bukan laku perbenturan watak, tetapi geliat dan lukisan pikiran. Saya pulang dan merasa men jadi filsuf. Mungkin itu sebabnya dialog-dialog Lautan Bernyanyi dianggap oeleh juri dirasakan sebagai lonataran pikiran-pikiran yang masih mentah. Meskipun hanya merebut tempat ketiga (Pemenang kedua Mega-Mega karya Arifin C Noer, pemenang pertama tak ada) Lautan Bernyanyi menjadi passport saya kemudian untuk berteman dengan Arifin, Goenawan, Pramana dan bahkan Rendra. Terus-terang situasi politik di Yogya masa itu sangat panas. Saya pendukung Buyung Karno, banyak seniman-seniman yang merasa BK terlalu memanjakan komunis. Ketika Lautan Bernyanyi saya mainkan, Minggu Pagi menganggap Kapten Leo tokoh eksistensialis. Di Denpasar, orang tua pemain yang kami rekrut di sana, menyatakan menemukan inti pikiran Bali dalam lakon itu. Ada ketika tak ada dan tak ada ketika ada seperti yang diucapkan oleh Kapten Leo katanya adalah “ana tan ana” yang merupakan salah satu dasar kehidupan orang Bali. Saya kaget, sama sekali tak menduga saya ternyata Bali, sementara saya sudah merasa sudah begitu rusak. Sejak itu perlahan –lahan merasuk keyakinan bahwa sekali kita lahir dari sebuah hulu, untuk seterusnya kita sudah terkutuk. Apa pun yang kita lakukan, pengingkaran apa pun yang kita upayakan, kita tidak akan bisa mengubah kutukan itu. Penemuan ini sangat melegakan. Saya tidak pernah lagi berusaha untuk menyangsikan akar saya. Dan itu membuat gerakan jadi enteng. Saya tanpa hambatan menulis apa dan bagaimana saja.
6. TAK SAMPAI TIGA BULAN
Pada 1966, ketika indekos di Jl. Numbak Anyar 44, Jogja, saya temukan seorang perempuan gila yang cantik di jalanan. Badannya bagus. Dia pendiam. Mukanya murung seperti hati yang hancur. Saya selalu bertanya-tanya mengapa ada perempuan seindah itu gila. Apalagi kemudian pada suatu hari saya terperanjat melihat perut wanita itu melending. Ia mengandung. Gila! Saya marah sekali. Siapa yang sudah berbuat sekeji itu? Perempuan itu mendorong saya menulis Tak Sampai Tiga Bula. Saya namakan dia Maret. Setelah dipentaskan, saya tulis lakon itu sebagai novelet di Minggu Pagi. Enam tahun kemudian, saya bongkar dan tulis kembali lakon dan novel itu di Jakarta. Pertentangan antara buruh dan majikan tidak lagi menjadi masalah sentral. Kehidupan Tirtotmodjo pribadi yang yang saya usut. Hitam dan putih yang kontras saya netralkan Dalam keadaan abu-abu, pabrik apa yang dipersoalkan dalam kisah itu tidak penting lagi. Yang utama adalah persoalan manusia-manusianya. Judul yang puitis (seperti Bila Malam Bertambahg Malam, Lautan Bernyanyi) sudah tak menarik saya lagi setelah tinggal di Jakarta. Novel itu saya namakan PABRIK. Saya tulis PABRIK bersamaan dengan menulis lakon ADUH, di Senen Raya 83, beberapa malam, sesudah kantor sepi. Saya selalu mengajak teman, karena takut pada hantu. Biasanya Almarhum Alimin Lasasi (aktyor senior Teater Mandiri) yang kebetulan susah tidur. Menjadi penduduk Jakarta sejak 1969, membuat saja berdandan baru. Romantisme sudah terhenti. Di dalam bus, pulang dari kantor, saya menemukan diri seperti penumpang asing di zaman orang lain. Saya harus berjuang untuk merebut tempat dengan meninggalkan apa yang tidak perlu. Tidak mudah untuk berhenti menjadi “penyair” untuk menatap realita yang lebih banyak berlawanan dari apa yang kita inginkan. Mulai dengan mengubah judul yang manis menjadi sepatah-sepatah kata yang pendek, kaku, tak popular sehingga jadi ganjil, lalu menjemput berbagai masalah yang biasanya tertimbun dalam sampah. Saya punya pekerjaan tetap sebagai wartawan yang tidak akan membiarkan saya mati kelaparan. Bahkan saya sudah dapat mengirimkan sebagian gajih ke orang tua yang jadi miskin karena digasak landreform. Jakarta menyebrangkan saya dari masa remaja jadi pekerja. Dialog-dialog yang panjang bertele-tele dalam Tak Sampai Tiga Bulan, menjadi percakapan biasa. Saya menuliskannya seperti membuat film.
7. ADUH
Di Jakarta saya hidup dari menulis resensi pementasan, sambil menumpang di rumah kakak misan di jalan Puloraya, Kebayoran Baru. Saya bergantung hidup dari ruang ke budayaan Kompas, Sinar Harapan atau kadangkala Angkatan Bersenjata. Setelah menjadi wartawan, saya tidak menjadi pemburu Mingguan, tapi diatur oleh dead line. Siang hari saya selesaikan tugas, selalu mendahului dead line. Di sela-selanya saya menulis. Malam hari sepenuhnya saya latihan teater. Sebelum pindah ke Jakarta 1969, setelah menyelesaikan fak hukum, saya pulang ke Bali. Dengan Yudha Paniek yang sudah jadi pengusaha penerbitan, saya berkomplot untuk mementaskan Monserrat. Tapi kemudian mendapat masalah yang memang penyakit laten dalam teater. Sulit mengumpulkan orang berlatih. Ada saja yang tak hadir dengan berbagai alasan. Kebetulan Fred Wetik yang bekerja sebagai art director dalam film joint production dengan Itali (The Virgin in Bali) mengajak bergabung sebagai petugas property. Dalam produksi film itu saya bertemu dengan Usmar Ismail dan Frits Schats. Saya ingat betul Usmar memanggil saya di kolam renang Bali Beach, menanyakan masalah lapangan dan mengorek siapa saya). Monserrat saya tinggalkan, tak peduli banyak yang marah karena sudah beberapa kali saya ajak latihan improvisasi di Gedung Lila Buana.) Kelak dialog-dialog simpang-siur dan kehebohan latihan itu memberi inspirasi saya menulis ADUH. Sekelompok orang bekerja. Lalu ada orang sakit mengaduh minta ditolong. Yang bekerja merasa terganggu dan tertpaksa bertanya-tanya (tanpa sempat menolong) sampai yang mengaduh mati. Lalu semuanya datang bertubi-tubi. Aneh tapi itu pengalaman batin yang nyata di dalam kehiduan menghadapi orang banyak. Ketika menulis lakon itu malam hari di lantai 2 kantor majalah TEMPO, Senen Raya 83, saya ditemani musik dan Alimin Lasasi. Kadang-kadang ada Budiman S. Hartoyo atau George Adi Tjondro (saya takut sekali pada hantu). Saya merasa tak perlu untuk menyebut nama tokoh, saya hanya menandai dengan perbuatannya. Karena lakon itu boleh dimainkan dengan sedikit atau banyak orang tanpa ada batgasan. Saya juga lebih senang menyerahkan pilihan pada sutradara dialog itu akan dibeerikan pada siapa. Tidak perlu dialog dibebankan kepada satu watak, kalau kemampuannya menyampaikan dialog itu tak memadai. Jadi bukan watak yang menentukan, tapi kemampuan pemainnya. Saya sangat menyhukai psikologi, tapi teater tidak harus menjadi budak psikologi. Saya orang lapangan yan g melihat berbagai keterb atasan di lapangan yang akan membatasi naskah, kalau naskah mengikuti pola naskah yang baku. Sebagai penulis saya merasa berkewajiban men yediakan ruang bermain yang semakin banyak kemunghkinan, akan semakin baik. Ini memang berhubungan dengan kretivitas. Sutradara atau pemian yang tidak kreatif tidak akan kebagian apa-apa dalam lakon saya. Lakon ini memenangkan hadiah pertama sayembara penulisan lakon DKJ. Beberapa kali lomba sebelumnya, tak ada pemenang utama. Dewan Juri (Goenawan Mohamad dkk) mengatakan, juri mengacu pada standar nilai pada yang sudah dicapai Kapai-Kapai karya Arifin. Pergelaran pertama lakon ini dilakukan oleh Teater Ibukota yang disutradarai Abdi Wijono. Itulah pertama kali saya meluhat lakon saya dimainkan orang lain . Abdi Wijono menafsirkan dan memimpin timnya menyuguhkan pertunjukan yang bagus. Tangkas, mulus dan lucu. Setelah itu banyak kelompok yang memainkan ADUH hasilnya sembarangan. Yang keluar hyanya hiruk-pikuk dan garis besarnya. Lelucon dan perenungan yang terselip di bawah dialog-dialog pemain yang “bodoh”, tak keluar. Naskahnya jadi terasa bodoh karena pementasannya bodoh. Dalam sebuah lokakarya di Calcuta dengan kelompok teater rakyat, saya memimpin aktorf-aktor desa dari sebuah kelompk teater rakyat mem ainkan lakon itu secara iomprovisatoris. Yang sakikt adalah actor dari kelompok The Black Tent, Tokyo. Ketika kami main, tiba-tiba gerombolan sapi atau kambing (saya agak lupa) lewat. Kami semua berserahy m enyelam atkan diri. Peristiwa itu menjadi kenang-kenangan yang aneh. Teringat waktu main di Nancy. Karena tenda sirkus panas pada siang hari, kami lalu main di luar tenda di langit terbuka. Ketika saya main, binatang-binatang (kebetulan tenda sirkus itu didirikan di kebun binatang) dalam kandangnya pada bersuara. Rasanya gerakan-gerakan primitif yang saya buat bersama seperti merangsang insting binatang-binatang itu. Dalam pikiran saya nyantel satu pikiran. Sebuah pementasan adalah sebuah kejadian pelepassan enersi dari pemain-pemain. Bila enersi itu bagus, akan masuk langsung pada penonton dan merangsang adrenalinnya. Penonton akan mengalami ketegangan emosional tapi sembari menerima, mereka juga akan mengeluarkan enersi yang mengisi enersi para pemain di panggung. Dalam sebuah pertunjukan yang berhasil, tak akan ada pihak yang lelah. Penonton maupun pemain sama-sama akan segar seperti dapat pasokan enersi. Barangkali untuk itu biaya produksi harus direlakan dan penonton menyisihkan uang untuk membayar kebugarannya.
Pada 2003 dalam pengumuman hasil Festival monolog di STSI Bandung, sebuah kelompok teater yang semua perempuan, memainkan fragmen ADUH, itulah yang kedua kali saya melihat ADUH ditampilkan bagus. Saya sendiri memainkannya sebagai debut Teater Mandiri di TIM pada 1994. Saya mencantumkan dalam folder, kami akan memainkan dengan gaya “gobloh-goblogan”. Semua dialog dilontarkan polos, langsung tak ditahan-tahan (baca: didramatisir). Tiga hari pertunjukan di Teater Arena, penontonnya bagus. Teguh Karya suka pertunjukan itu. Tapi Slamet Raharjo menganggapnya banyak kekurangan. N. Riantiarno juga menulis resensi. Waktu itu saya menyadari bahwa konsep realisme juga akan tetap menyeret akar budaya. Jawa, Bali, Sumatra dan sebagainya punya kecendrungan berbeda-beda. Slamet berkembang menjadi actor kelas satu. Riantiarno menjadi aktor dan sutradara yang bisa menembuskan pertunjukannya sampai hampir satu bulan. Tapi saya juga bertahan dengan jenis “realisme” yang saya kira pancaran akar budaya saya sebagai orang Bali.
8. SANDIWARA
Ketika menuliskan ADUH untuk mengikuti sayembara, saya tak bisa mencegah diri saya dengan menuliskan semua karakter hanya dengan SESEORANG, SALAH SATU, SALAH SEORANG, YANG MARAH dan sebagainya. Peduli amat nanti yang mementaskan. Tapi keinginan untuk menang, menyebabkan saya menyertakan juga sebuah naskah lain yang ditulis biasa. Judulnya SANDIWARA. Saya sudah lupa apa ceritanya. Tapi lakon yang memkenangkan hadiah harapan ini kemudian dipoentaskan oleh Umar Machdam (BOGOR). Pementasan itu sama sekali mengubah naskah, menjadikannya hanya pijakan. Selanjutnya Umar Machdam seperti jalan sendiri. Pentas menjadi dunia homoseksual. Saya muak menonton. Bukan karena naskah itu diacak-acak, tetapi karena menganggap Umar Machdam menjadi seperti orang yang berkendrungan eksibisionis. Saya diwawancarai ditanya mengapa tidak marah naskah diperlakukan seperti itu. Saya katakana bahwa saya tak tersinggung apabila seorang sutradara hanya terisnpirasi oleh nasklah saya, lalu menjadikan hanya sekedar melakukan sesuatu yang dimauinya. Kalau sudah begityu, hasilnya tentu tidak ada hubungannya lagi dengan saya. Itu sudah menjadi karya dan tanggungjawabnya. Di Bali, seperti yang diceritakan Umar Khayam pada para pelukis Kamasan, setelah karya selesai, pelukis memajang karyanya depan publik dan dibiarkan dikomentari oleh masyarakat. Saya melihat lebih jauh, setelah karya digelar, posisinya sudah menjadi milik bersama. Dia seperti gunung, pohon dan bagian alam yang lain. Menirunya, menciptakan dengan berbagai sentuhan lain, tidak akan menjadi pelanggaran hak cipta. Karya itu sudah seperti alam yang boleh ditiru. Penjelasan seperti ini, ketika menyangkut jumlah uang kecil, menang tak jadi masalah. Tapi memasuki bisnis, industri barang kesenian, ketika karya menjadi barang komoditi, ketika hak cipta menyangkut jumlah uang besar, lain lagi persoalannya. Saya melihat teater (setidaknya yang menyangkut lakon) Indonesia belum sampai ke situ. Memang ada baiknya mulai bersiap mengatur, jangan sampai terjadi kecolongan karena keterlambatan, seperti pada musik. Banyak hak cipta yang sudah tidak di tangan penciptanya lagi, karena keteledoran pengurus di awalnya. Saya paham. Hak cipta mesti dilindungi dan dihormati.
9. LHO
Setelah pementasan ADUH yang berhasil, saya gagal dalam pementasan ANU. Sekitar 10 bulan saya meninggalkan Teater Madniri ( 8 bulan di Iowa City, 2 bulan di Belanda dan Paris). Pulang ke Indonesia, saya kembali ke majalah TEMPO dan jadi juri FTRJ (Festival Teater Remaja Jakarta). Kalau semua kegiatan sudah berhenti, pertunjukan selesai, bioskop STAR di TIM sudah padan lampunya, saya mengadakan latihan di belakang TIM (sebelum dibangun kampus IKJ). Dengan penerangan lampu dari scooter, saya putra musik dan mengajak orang bergerak. Satu dua orang ikut. Mahasiwa IKJ yang tidur di kampus berdatangan. Pelukis Nashar, yang setiap malam mengintip latihan, saya rangkul ikut dalam produksi. Setelah empat bulan, muncul bentuk-bentuk yang rasanya sudah cukup untuk membuat pementasan. Itu teater senirupa saya pertama. Judulnya LHO. Sesuatu yang yang terduga. Pementasan itu dim ainkan di Teater Arena dengan musik Kompyang Raka. Wayan Diya juga ikut. Selama 3 malam pertunjukan, penonton penuh sesak. Di akhir pertunjukan, saya minta penonton keluar gedung. Pemain dimasukkan ke dalam gerobak telanjang bulat dan dijatuhkan ke dalam kolah. DI kolah beberapa orang berak sambil berbicara tentang politik. LHO tidak memakai cerita, tidak memakai dialog. Saya menulis esei TEATER LUKA untuk mengantar pertunjukan itu. Tak lama kemudian saya dipanggil KOMDAK karena Ali Sadikin marah-marah ada adegan orang bugil. Ketika ditanya wartawan waktu hendak ke KOMDAK, saya jawab, kalau saya jadi Gubernur saya juga akan memaki-maki seperti Ali Sadikin.
10. ENTAH
Setelah LHO, saya meneruskan petualangan teatedr seni rupa. Kali ini dengan memakai kain yang menjadi bidang-bidang. Kata orang kami diawasi, tetapi saya merasa itu hanya didramatisir. Saya merasa tetap bebas, hanya tidak melakukan lagi adegan telanjang. ENTAH konsepnya sama dengan LHO, tetapi seperti kehilangan arah dan darah. Penonton juga tidak tertarik. Saya mengawal ENTAH dengan esei TEATER BODOH.
11. NOL.
Setelah ENTAH, saya mementaskan NOL. Saya mencoba melakukan sesuatu yang tanmpa tujuan. Pertunjukan terus berlangsung sampai penonton satu per satu habis. Itu konsepnya. Tapi penonton yang masih men gharapkan ada tontonan, cerita, kon flik dan sebagainya tak suka. Saya kehilangan penonton. Almarhum Satyagraha Hoerip memberfi komentar bahwa saya sudah menyia-nyiakan uang rakyat. Saya marah sekali tapi diam-diam memikirkan apa yang dikatakannya. Saya mulai memperhatikan penonton. Lalu banting stir memantaskan HUM-PIM-PAH
12. EDAN
Pengaruh wayang pada saya berkelanjutan pada sikap menghadapi msayembara. Sejak kecil saya senang ikut perlombaan melukis atau mengarang. Di dalam wayang para tokoh bisanya mendapatkan istri melalui sayembara. Selain hadiah uang, dalam kehidupan kreatif, sayembara adalah lembaga yang mempercepat sebuah karya tersosialisasikan dan terkenal. Penerbitan katya bukan masalah yang gampang di masa lalu. Tetgapi kalau menang sayembara, jalannya terbuka. Sayembara juga merupakan keuntungan, karena para peserta dapat menguji karya-karyanya tanpa harus menggaji yang menilai (juri). Dengan alasan seperti itu saya selalu mengikuti sayembara. Sering batas waktu penutupan sayembara tinggal satu dua hari. Saya buru-buru kerja lembur, karena “dead line” itu seperti memicu. Hasilnya mengangetkan. Meskipun tidak selalu menang, saya lebih sering bekerja dengan teenaga “dadakan” itu. Karena berulangkali kejadian, saya simpulkan barangkali memang jenis saya adalah jenis “maling kepepet” yang jadi sakti kalau sudah terpojok. Lakon EDAN tidak sepenuhnya diolah dengan metode maling kepepet. Waktu mendapat banyak waktu menulis selama mengikuti International Writing Program di Iowa, saya mulai menulis Edan. Bersamaan dengan itu saya tulis beberapa cerpen yang kemudian jadi bagian novel STASIUN. Kalau dalam ADUH saya mengadu antara individu dengan kelompok, dalam EDAN saya gelar kelompok pun berantem dengan kelompok yang lain. Jadi peperangan atau konflik laten dalam kehidupan, tidakhanya terjadi karena perbedaan jumlah, juga perbedaan kepentingan. Karena ada musuh individu, kelompok garangnya pada inividu, begitu sebaliknya. Tetapi andaikan tak ada invidu, kelompok denghan kelompok juga tak urung gontok-gontokan. Barangkali itu memang sudah dinamika kehikdupan, bagian darfi seleksi alam untuk menjaga populasi manusia yang semakin lama semakin meningkat. Entahlah. Saya hanya mencoba untuk melihat bahwa perang atau pertentangan hanya berakhir dalam cita-cita/angan-angan. Karena manusia/kehidupan punya konspirasi rahasia dengan perang itu untuk semacam “pelestarian”. Ini kedengaran kejam. Tetapi bukan sikap pesimistik. Justru upaya untuk menerima realita.. Hanya dengan berani menerima, kita akan mampu untuk mencegah atau paling sedikit menghambatnya. Manusia-manusia berbudaya dalam EDAN menghinakan perilaku biadab manusia lain yang tak beradab karena melakukan kanibalisme. Tapi ketika kesempatannya ada, atau katakanlah kesempatan memaksa man usia berbudaya itu melakukan kanibalisme, ternyata mereka menikamatinya. Ini men yedihkan dan menyeramkan. Tetapi kita harus berani menerimanya. Baik itu moral, pengetahuan, adab atau agama berusaha memperbaikinya, tetapi dalam perjalanannya, sering ada pengecohan dan plesetan yang menyebabkan hal-hal yang luhur itu melakukan hal yang sama, meskipun kita cepat-cepat dapat mengoreksinya, itu terjadi karena manusianya yang “eror” bukan Instrument itu sendiri. Naskah ini memenangkan juga sayembara DKJ. Sama seperti ADUH, saya juga menulis HUM-PIM-PAH untuk mengawal EDAN pada juri. HUM-PIM-PAH walau tak sepenuhnya biasa-biasa, juga mendapat penghargaan. Saya mementaskan EDAN dengan banyak bumbu visual. Tetapi para pemain saya masih belum terbiasa. Tambang, tongkat dan bendera belum mereka relakan sebagai peran. Para pemain masih merasa panggung adalah milik “aktor”.
13. HUM-PIM-PAH
Setelah menyelesaikan Fakultas Hukum, saya pulang dan menyerahkan ijazah pada orang tua. Setelah itu pamit, untuk meneruskan hidup saya sebagaimana yang saya kehendaki Saya sama sekali tak berminat menjadi pegawai negeri atau pejabat. Ayah saya, tidak memberikan komentar, tetapi saudaranya menasehati saya bahwa saya sudah keliru. Orang tua tidak hanya menginginkan anaknya lulus, tapi ingin anaknya bekerja.
Saya tak pedulikan itu. Tetapi belakangan, saya dikejar-kejar oleh perasaan bersalah. Sudah begitu banyak yang diinvestasikan bapak saya untuk membuat saya menyelesaikan sekolah, kenapa saya sia-siakan. Dalam mempersiapkan pertunjukan Waiting for Godot di Bengkel Teater, saya jalan-jalan sore hari dan curhat pada Rujito. Jawaban Rujito memberikan ketenangan. Dia bilang, mengaplikasikan hukum yang sudah mahal-mahal dipelajari tidak hanya terbatas di meja hijau, tapi di tempat lain juga. Kau seorang penulis, apa yang kau lakukan sebenarnya sudah penrusan dari yang kau pelajari, kata Rujito. Saya setuju dengan pendapatnya. Karena tanpa saya sadari juga tulisan yang saya buat pada hakekatnya semacam upaya untuk menemukan kebenaran, keadilan yang begitu kusut dalam masyarakat. Lakon HUM-PIM-PAH adalah salah satu contoh (Yang lain, DOR). Saya bingung melihat kebenaran ternyata tidak satu. Bertumpuk dan berlapis-lapis. Beda dan bisa bertentangan satu sama lain. Masalah yang terbesar mungkin bukan dalam mencari kebenaran, karena sudah jelas sekali kebenaran berbeda dengan ketidakbenaran. Yang menjadi bahan pertengkaran dan kemudian permusuhan adalah perbedaan-perbedaan di antara kebenaran itu sendiri. Apalagi dalam masyarakat plural seperti Indonesia. Benturan-benturan kebenaran itulah yang menjadi bencana, karena para pendukungnya berjuang dengan sepenuh hati membela kebenaranya. Sebagai penulis, yang menonton kontes kebenaran itu, saya selalu akan ditarik ikut membenarkan salah sau kebenaran. Kalau saya memilih satu, selebihnya akan menjadi musuh. Kalau tidak memilih, supaya semuanya jadi kawan, tidak akan munngkin. Saya akan ditolak oleh semuanya HUM-PIM-PAH mencoba memaparkan situasi itu. Ketika semua keben aran dengan alasannya masing-masing sama kuat, yang mana harus diikuti oleh seseorang yang diharapkan bisa jadi pahlawan? Mencari seorang pemim pimimpin adalah obsesi saya di masa 70-an itu. Saya lihat banyak orang mampu bicara bagus, bahkan indah tentang kebenaran. Tapi tak ada yang berhasil mempraktekannya. Seakan kebenaran itu hanya cocok dirumuskanh, tapi tidak diwujudkan. Karena kaliber manusia yang ada belum sepadan dengan besarnya masalah yang kita hadapi. Kita bukan tak punya pemim pin, tapi kalibernya tidak sesuai dengan kelas persoalan kita. Beda dengan di masa sebelum kemerdekaan. Kita punya tokoh-tokoh yang kalibernya pas untuk menjadikan Indonesia merdeka.
14. DAG-DIG-DUG
Ketika di Yogya saya indekos di rumah pasangan suami-istri yang putra-putrinya keduanya dokter. Mereka dibantu oleh seorang pembantu yang sebenarn ya asal satu kam pung di Bantul. Keduanya menghabiskan waktu dengan percakapan-percakapan di meja depan sambil minum pagi dan sore. Seperti sedang membunuh waktu, menunggu saat solat atau makan, percakapan mereka seperti ke sana-ke mari, unik sekali. Ketiga tokoh itu adalah jembatan saya untuk meresapi Jawa, khususnya Jogja. Suara mereka terekam di benak saya dan sering berulang. Di Ittoen Kyoto, saya mulai menulis lakon dengan model ketiganya, tetapi sama sekali bukan tentang mereka. Tokoh utama saya sebenarnya Mbah Ko, pembantunya.DAG-DIG-DUG adalah kenang-kenangan saya pada Yogya dan seorang wanita yang sudah ditinggal suami yang kemudikan bekerja di rumah wanita yang awalnya adalah istri pertama almarhum suaminya.
Teater Populer pernah memainkan naskah ini dengan sutradara Slamet Raharjo. Peran pembantunya dimainkan oleh aktor bernama Prio. Saya sendiri tak mampu memainkan naskah itu, karena tidak punya pemain yang memiliki kemampuan individual tinggi. Teater saya adalah teater kelompok. Saya tulis DAG-DIG-DUG memang bukan untuk saya pentaskan sendiri, tapi untuk membuat naskah bagi pemain-p-emaian yang sudah jadi. Dalam Festival Remaja Jakarta, Dag-Dig-Dug pernah dimainkan oleh kelompok yang berusaha mendekati “karakter” Jawa dengan tempo lamban. Pertunjukan itu membuat semua juri tertidur dan baru berakhir menjelang pagi. Seandainya saya suatu ketika akan mementaskan DAG-DIG-DUG saya bayangkan durasinya tidak akan lebih dari 180 menit. Bahkan kalau bisa saya tekan maksimal 2 jam. Rata-rata pementasan saya hanya 90 menit.
15. ANU
Seperti sebelumnya, bersamaan dengan DAG-DIG-DUG, saya menyertakan ANU dalam sayembara lakon DKJ. Ini adalah bagian ketiga dari trilogy ADUH-EDAN-ANU. Kalau dalam ADUH inidvudi berhadapan dengan kelompok, sdang Edan kelompok dengan kelompok, ANU adalah individu sebagai bagaian dari kelompok. Pelajaran etnologi di SMA yang mengatakan manusia sebagai mahluk individu dan mahluk sosial terus menjadi obsesi saya. Dikotomi itu saya usut dan menemukan lapisan dikotomi lain di bawahnya. Kelompok berhadapan dengan individu. Individu sendiri adalah anggoto dari kelompopok. Sebuah kelompok di antara kelompok-kelompok yang lain, berhadapan dengan koalisi kelompok-kelompok. Kelompok kemudian seakan-akan adalah individu-individu. Dan seterusnya. Dalam mementaskan ADUH.
16. DOR
Benar kata Rujito, apa yang saya pelajari tak lari jauh. Naskah DOR berbicara tentang pengadilan yang tak bergigi, karena ada berbagai hal yang terp[aksa harus ditolerir. Tokoh HAKIM dalam DOR diprovbkasi oleh media dan masyarakat untguk menghukum putra Gubernur yang membunuh seorang pelacur. Tapi hati nurani hakim merasa yang terbunuh adalah man usia bejat yang pantas mati. Pada akhirnya keadilan tak bisa diterapkan karena mengganggu, sehingga terpaksa diapungkan. Saya mendapat peengalaman menarik dalam pemenmtasan DOR, karena Rujito minta membalik set hanya 2 hari sebelum pementasan. Hakim yang tadinya menghadap penonton di Teater Arena TIM, jadi membokongi. Saya hampir menolak, tapi kemudian ingin mencoba. Akhirnya saya mengakui Rujito betul. Pengalaman itu, mengajarkan pada saya untuk berakrobatik. Hasilnya luar biasa, sudut pandang baru memberikan sesuatu yang segar.
17. AWAS
Awas adalah naskah peserta sayembara yang gagal yang memang saya tarik karena pendapat Dewan Juri (Rustandi Kartakusuma) sangat bertentangan dengan pemahaman saya tentang teater. Naskah ini memvisualkan secara ekstrim ide-ide.
18. BLONG
SAFARI mengadakan sayembara penulisan lakon yang bertema kebangsaan Saya ikut dan menulis naskah berjudul HITAM-PUTIH. Naskah ini bergaya lenong. Ketika dipentaskan saya mengubah judulnya menjadi BLONG. Tentang bendera pusaka yang hilang ketika hendak dikibarkan. Saya mementaskannya di Teater Terbuka yang memuat 2000 penonton. Saya mengerahkan rombongan drum band, kungfu, vocal grup dan para mahasiswa teater IKJ. Pertunjukan yang diikuti sekitar 100 pemain itu menjadi semacam hiburan ringan.
19. AYO
BAKOM (Badan yang mengupayakan integrasi masyarakat Tionghoa di tingkat mahasiswa) menyelenggarakan sayembara penulisan lakon. Saya membuat metafora tentang peresmian sebuah jembatan. Saya tak pernah mementaskan naskah ini. Naskahnya juga dipinjam oleh kelompok mahasiswa yang hendak mengadakan festival dan tidak dikembalikan. Mungkin masih bisa dicari di Bank naskah DKJ
20. LOS
Ketika ada pelaksanaan hukum mati terhadap Kusni Kasdut (karena membunuh polisi), terhukum punya permintaan terakhir. Makan bersama keluarganya. Ketika itu dilaksanakan, saya sangat terharu. Tak habis pikir darimana hak manusia mengakhiri hidup manujsia lain. Lalu saya tulis lakon LOS. Terhukum mati yang tidur sampai hukuman dilaksanakan. Dlam keadan tidur ia ditembak. Tapi jantungnya terus berdetak tak mau diam, sehingga seluruh kota terganggu. Terhukum saya buatkan boneka besar, sehinga bgisa disksa dan dihajar. Kami menamakannya BANDOT. Tokoh boneka BANDOT terus ada dalam pertunjukan kami sampai sekarang.
21. AUM
LOS ternyata adalah tetralogi. Sebagai kelanjutan LOS, saya menulis AUM. Waktu itu ada aksi bunuh diri missal di Guyana. Di koran saya lihat ada foto ular berkepala dua. Ada suku di Afrika yang tak mampu menbghadapi perubahan zaman, satu per satu mati dan diperkirakan aklan punah. Di Banglades seorang ibu melahikrkan kembar sembilan. Ada sejenis burung yang melakluklan bunuh diri beramai-ramai dengan menabrtakkan dirinya ke tembok. Semua fenomena tak masuk akal itu membuat saya gelisah. Saya ingin tahu apa jawabannya. Lalu saya tulis AUM. Sebuah masyarakat menghadap bupati karena ada lelaki yang bunting, ada warga lahir dengan tangan banyak, ada yangt kepalanya suka terbang. B upati tak sanggup menjawab. Suku itu menghadap Gubernur. Kalau Gubernur tak bisa menjawab, mereka akan bunuh diri. Saya memainkan drama ini di Wesleyan danMadison dengan mahasiswa kemudian membawanya ke LaMaMa off off Broadway.
22. GERR
Kehidupan keluarga saya juga mengalami kegoncangan. Saya merasa diri saya terbunuh. Memjandang ke kacva, saya tidak lihat lagi wajah saya. Lalu saya tulis GERR. Tentang seorang suami yang mati tetapi bangun dan hidup lagi. Seluruh keluarga yang sudah menangis 3 hari tiga malam terkejut. Terlal;u sulit buat mereka untuk menerima perubahan itu harus dikembalikan lagi. Lalu mereka mengejar lelaki itu untuk dibunuh, supaya sem,uanya berlanjut. Lelaki itu menjerit minta tolong. Lakon ini bermula adalah sebuah cerita pendek berjudul TOLONG. Dalam lakon, p[enggali kubur muncul dan menasehati agar lelaki itu bertukar nama supaya selamat..
23. ZAT
Tetralogi LOS-AUM-GERR saya akhiri dengan lakon ZAT. Di lakon ini ada mahluk luar angkasa datang. Ada badut-badut.. Ada pemimpin suku.
24. TAI
Keretakan kehidupan keluarga saya memuncak pada tahun 1983. Saya sudah benar-benar hancur. Lalu saya tulis TAI. Tentang penulis sejarah yang hendak menuliskan kembali sejarah, dengan memenangkan manusia. Pementasan berakhir di malam tahun baru. Saya memasuki tahun 1984 yang diramalkan oleh George Orwel akan membawa perubahan. Dan hidup saya berubah. Selama 1984 kegiatan teater saya berhenti.
25. FRONT
Masuk 1985, saya memasuki babak kehidupan baru. Dewi menanyakan mengapa saya berhenti berteater. Lalu saya menulis FRONT. Idenya dari peristiwa Tanjung Periuk. Saya bercerita tentang kerajaan yang hendak membersihkan negerinya. Pahlawan-pahlawan dipancing supaya menumpas pemberontakan anak muda, agar mati semua. Saya mengajak WARKOP PRAMBORS main.
26. AIB
Setelah FRONT, saya ke Amerika selama 3 tahun. Saya menulis bebertapa buah drama: AIB, BAH, HAH, AENG, AUT, JPRET, JRENG-JRENG-JRENG dan BISMA. Yang terakhir itu hilamh. AIB saya pentaskan setelah kembali ke Indonesia pada 1988. Pementasannya gagal.
27. BAH
Tentang ada tangis dari dalam tanah yang terus menerus. Naskah ini semula mau saya pentaskan sepulangnya dari Amerika. Tapi kemudian teman-teman memilih AIB. Belum pernah dipentgaskan.
28. HAH
Naskah ini belakangan saya sadari mirip dengan MEGA-MEGA Arifin. Tentang pembohong yang men gaku menang lotre sehingga hikdup dalam khayalannya. Bel;akangan saya rewrite dan menjadi naskah yang membela nasib perempuan. Belum pernah dipentaskan.
29. AENG
Tentang suami istri yang melapor pada petugas keamanan, bayi dalam kandungannya hilang. Naskahnya lebih panjang dari durasi naskah saya biasanya. Mirip dengan DAG-DIG-DUG. Belum petrnah dimainkan.
30. AUT
Tentang tokoh wayang Begawan Bhisma yang muncul di proyek Senen. Ini juga dimulai dengan cerpen BHISMA.
31. BHISMA
Sebenarnya AENG-AUT-BHISMA adalah trilogi. Naskah Bhisma hilang entah terhapus atau bagaimana, waktu pulang dari Amerika. Kalau ada yang ketemu tolong kembalikan.
32. JPRET
Tentang TOKOH WARTAWAN. Belum pernah dipentaskan.
33. JRENG-JRENG-JRENG
Tentang mesin computer dan peran DALANG. Belum pernah dipentaskan.
34. DAM
Tentang pahlawan. Belum pernah dipentaskan.
35. 1991
Lakon kolosal anak-anak, mengikuti struktur BLONG. Dimainkan di ANCOL dalam men yambut 1991 dengan hampir 100 pendukung.
36. WOW
Lakon untuk anak-anak yang dipesan oleh Jos Rizal untuk dibawa dalam Festiv al teater di Jerman. Tentang anak-anak yang bermain di malam terang bulan.
37. PEACE
Lakon anak-anak pesanan Teater Tanah Air untuk diumaiknkan di Festival Teater Anak di Moscow.
36. ZERO
Lakon anak pesanan Jos Rizal untuk Festival Teater Anak di Jerman.
39. DAR-DER-DOR
Buku kumpulan monolog yang diterbitkan oleh GRASINDO/KOMPAS
40. WAH
Awalnya cerpen MALING. Dikembangkan menjadi lakon.
41. YEL
Pada 1989-1990, ada KIAS. Setahun kebudyaan Indonesia di Amerika. Teater Madiri main di 4 kota di Amerika. Saya memutuskan kembali pada LHO, teater senirupa. Tanpa dialoh, hanya gerak dan musik berbasis bayangan seperti wayang.
42. BOR
Perkembangan selanjutnya dari YEL. Peran layar semakin dinamis dan dom inan.
43. WAR
Masih merupakan perkembangan teater senirupa. Tetapi sudah memakai tema: PERANG
44. ZOOM
Melibatkan hampir seratus peserta workshop yang langusn g diajak main dalam pertunjukan yang tanpa cerita dan kata-kata.
45. ZERO
Ketika harus main di Taiwan, karena main di dalam tenda sirkus, layar besar tidak bisa dipakai. Layar dikembangkan di lantai dan para pemain masuk ke dalamnya. ZERO sudah dipertunukkan di Cairi, Praha dan Bratislava.
MONOLOG (46. Kemerdekaan, 47. Demokrasi, 48. Mulut, 49. Merdeka, 50. Poligami, 51.Memek, 52.Yogya Tersedu, 53. Zetan, 54. Surat Dari Zetan, 55. Raksasa, 55. Mayat, 56. Dukun, 57. Burung Merak) Monolog itu semua adalah penuturan improvisatoris berdasarkan cerpen-cerpen saya dengan judul yang sama. Kemudian saya tulis kembali dalam bentuk monolog bagi yang ingin memainkannya.
58. NGEH
Pertunjukan teater rupa untuk ART SUMMIT II
69. LUKA
Dalam Festival Teater di Tokyo saya memb ujat adaptasi monolog Kuo Pao Kun: The Coffin is too Big for The Hole. Saya men yeb utn ya LUKA
70. JANGAN MENANGIS INDONESIA
Ketika Harry Roesly meninggal, kami sedih sekali. Lalu saya menggabungkan teater seni rupa dan kembali kepada kata. Para pemain Teater mandiri sudah bosan main tubuh. Mereka ingin ngomong
71. ZETAN
Lakon yang ditulis b erdasarkan cerpen ZETAn yang sukses saya bawakan di banyak tempat.
72. CIPOA
Dalam rangka ulang tahun TVRI dan membuka lembaran b aru T VRI sebagai TV Publik, saya dimin ta membuat pertunjukan langusn g diu TV RI. Saya buat nasklah berjudul TVRI. Kemudian saya mainkan kembali di TIM dengan judul CIPOA. Layar dipakai, tetapi kata-kata diberikan ruang.
73. KROMO
Dokter Amoroso Katamsi semula inghin memperingati ulang tahunnya yang ke 70 dengan memainkan monolog. Saya diminta membuat lakon. Saya kebetulan banyak membawakan monolog sekitar PEMILU 2009. Monolog ini tak jadi dimainkan karena kesehatan Amoroso tidak memungkinkan. Belum pernah dimainkan.
DRAMA TV
(masih hitam-putih)
74. ORANG-ORANG MANDIRI (produksi pertama Teater Mandiri)
75. ADUH – tidak disiarkan karena ada Hansip mentung kepala orang
76. APA BOLEH BUAT
77. TIDAK
78. KASAK-KUSUK – tidak disiarkan (Selesai)
Astya Puri 2, Jakarta 16 Pebruari 2010
Foto: vibizdaily.com
