Internasional

Awal Baru Bagi Petani Kecil?

coba

16.11.2009 18:06:05 WIB

Oleh MOHAMED FOFANAH

SIERRA LEONE (IPS) – Mereka memanggil ia “Marie Nerica”, seperti jenis padi baru.

Namun ketika jenis baru padi itu –yang dikembangkan oleh Monty Jones, seorang peneliti peraih penghargaan asal Sierra Leone– diperkenalkan di wilayahnya oleh menteri pertanian, Marie Kamara tak ingin menggunakannya. Dia akhirnya mencoba beberapa gantang selain beberapa varietas lokal dan dia puas dengan hasilnya.

“Sekarang saya menanami lima hektar lahan. Dan saya menghasilkan begitu banyak (padi) yang saya jual kembali ke pemerintah untuk bibit bagi petani lain. Saya juga menjualnya untuk umum dan membayar petani lain yang bekerja di lahan saya,” ujar Kamara.

“Kami semula menolak padi baru sebab berasal dari orang putih. Kami khawatir kami tak punya keahlian untuk menanamnya. Selain itu kami tak ingin untuk menghabiskan seluruh musim tanam untuk panen percobaan, khususnya jika musimnya lagi jelek.”

Kamara adalah satu dari ribuan petani Sierra Leon yang diuntungkan atas pembaruan kerja pengembangan pertanian yang dilakukan Kementerian Pertanian Sierra Leon.

Menteri Pertanian Dr Sam Sesay mencoba mengarahkan kerja kementeriannya sejalan dengan empat pilar African Union's Comprehensive Africa Agricultural Development Programme (CAADP): penelitian pertanian, pengembangan akses pasar, peningkatan produktivitas petani-petani kecil, serta mengembangkan manajemen tanah lebih baik dan sistem distribusi air yang bisa diandalkan.

Negara ini baru saja menandatangani kesepakatan CAADP, yang secara resmi mengadopsi prakarsa Uni Afrika, yang disusun di Maputo pada 2003, yang bertujuan menjamin pembangunan pertanian di Afrika sebagai katalisator pertumbuhan sosio-ekonomi. Secara keseluruhan, tujuan CAADP adalah untuk menghapus kelaparan dan mengurangi kemiskinan melalui pertanian.

Penerapan CAADP di kementerian ini, ujar Sesay, akan dilakukan melalui Rencana Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Nasional (National Sustainable Agriculture Development Plan). “Kabar baik soal NSADP adalah ia menjjadi tema mainstream sebagaimana isu gender dan pemuda.” Dalam wawancara dengan IPS, Sesay menekankan bahwa perempuan jadi prioritas karena di Sierra Leon mereka adalah mayoritas petani, yang menghasilkan sebagian besar makanan di negeri ini dengan menggunakan metode dan alat-alat tradisional. Sedangkan laki-laki umumnya menguasai pengerjaan ekspor hasil panen yang menghasilkan pendapatan.

“Ini berarti perempuan tak diuntungkan,” ujar menteri, “karenanya kenapa mekanisasi dimasukkan dalam subprogram NSADP, yakni untuk meningkatkan produktivitas melalui teknologi yang tepat.”

Brima J Bangura, asisten direktur menteri pertanian urusan pengembangan dan operasi lahan, mengatakan bahwa Kamara dan sebagainya di wilayahnya bukan satu-satunya target kementerian.

“Kami mentargetkan 195 organisasi petani di seluruh negeri, dan terutama dari kelompok perempuan. Kami menyediakan traktor buat mereka, pasak, pemindah, alat pemotong untuk tanaman makanan seperti beras, jagung dan singkong; tanaman eksport macam mente, kopi, dan coklat. Dan kami juga memberi mereka pupuk dan insektisida,” ujar Bangura kepada IPS.

Marie Kargbo, yang menanam padi pada 6 hektar lahan di distrik Kambia, mengatakan dia mendapat dukungan penuh dari pemerintah.

“Pemerintah mengirim satu traktor untuk membajak sawah kami dan sawah anggota asosiasi kami; mereka juga memberi kami dua gantang bibit padi, pupuk, dan pestisida.”

Kargbo adalah ketua organisasi petani beranggota 54 orang, dan pemimpin kelompok perempuan dari All Peoples Congress Women's Wing di Kambia. “Sebelumnya hidup sebagai petani perempuan sangatlah sulit. Tapi kini produksi padi sudah sangat baik setelah kami mendapat pasokan bibit padi, bajak, pupuk, dan pestisida dari pemerintah.”

Meski tinggal di distrik yang sama, pengalaman Marie Kamara agak berbeda.

“Saya diberi sebuah traktor setelah mendesak kementerian. Saat mereka datang dengan traktor, kami sudah menyewa orang untuk membajak, karena berpikir traktor itu tak akan datang dan hujan sudah mulai turun,” ujarnya.

“Kami dijanjikan sebuah traktor. Tapi ketika traktor itu tiba di distrik, saya tak diberi, dan hanya sedikit orang yang dipilih dan boleh (menggunakan) traktor itu.”

Dia juga punya keluhan lain. “Saya sekarang butuh gudang untuk menyimpan padi setelah panen. Saya juga perlu mesin penggiling sebab Nerica sulit untuk merontokkan gabah. Ada kehilangan besar pascapanen yang tak bisa terus ditanggung jika saya mau jadi petani komersil yang mapan.

Pengalaman di Kamara menunjukkan dukungan pertanian musti diberikan kepada para petani.

Maseray Conteh, petani padi di Makeni, bilang kepada IPS bahwa wilayahnya sudah mendapatkan bantuan teknis dari kementerian. Awal tahun ini, traktor-traktor sudah membersihkan tiga hektar lahan miliknya untuk persiapan musim tanam.

“Padinya bagus, dan saat panen saya bisa mendapat mesin pemanen dari kementerian. Tapi sayangnya, mesin itu merusak padi saya. Saya hanya bisa menyimpan 40 gantang padi, dibandingkan 70-80 gantang saat saya panen secara manual,” keluhnya.

“Mereka bilang jika saya menanam padi seusai lajur, mesin pemanen tak akan merusaknya. Saya harap mereka menunjukkan pada kami bagaimana caranya.”

Menteri Pertanian Sam Sesay bilang dia suka tantangan. “Semua situasi ini telah ada sejak lama dan kami menganggapnya sebagai tanggungjawab kami sekarang,” ujar menteri.

“Persoalannya akan segera diatasi. NSADP baru saja dimulai dan saat dilaksanakan sepenuhnya kami akan memperhatikan semua persoalan yang kini dihadapi para petani.”

Tujuan NSADP, tandas menteri, adalah meningkatkan produktivitas pertanian, mempromosikan pertanian komersial melalui sektor swasta, mengembangkan riset dan jasa pengiriman, dan mempromosikan manajemen sumber daya yang efektif dan efisien.

Dalam anggaran tahun depan, sekitar US $2,5 juta akan diarahkan untuk 442 organisasi pertanian, naik dibandingkan proyek yang saat ini berjalan dengan 195 organisasi.

Sesay menambahkan, sejalan dengan NSADP/CAADP, mereka telah membangun sebuah skema komersialisasi petani penggarap, yang menekankan bahwa “ini adalah program yang khususnya ditujukan untuk kelompok petani perempuan agar secara perlahan bekerja layaknya perusahan terbatas dan menjadi tulang punggung sektor swasta di Sierra Leone.

“Kami akan segera mengadakan pelatihan bagi perempuan-perempuan ini dalam hal agrobisnis, hingga mereka mampu menjalankannya sebagai entitas bisnis berbadan hukum.”

“Ini harus dicoba. Kami akan fokus pada irigasi. Dan para petani, yang umumnya perempuan, akan bisa menanam tiga kali setahun sementara kami memperbaiki gudang dan fasilitas pengolahan.”

Marie Nerica dan ribuan petani perempuan di Sierra Leone menanti penerapan NSADP selanjutnya, untuk memberikan wajah baru bagi pertanian di negeri ini.*

Translated by Imam Shofwan
Edited by Budi Setiyono
* ) Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS.

Foto: Wikipedia

Komentar


Berita Terkait