Sastra

Lakon-Lakon Awal

coba

21.02.2010 00:03:23 WIB

Oleh PUTU WIJAYA

Di kelas VI SD (SR I, Tabanan) dalam pelajaran mengarang (dilakukan masih di atas batu tulis) saya pernah membuat sebuah cerita seperti berikut. Seorang anak manja sangat menyusahkan orang tuanya, karena permintaannya macam-macam. Semakin dilarang, ia semakin banyak menuntut. Akhirnya orang tuanya mengambil sikap mengabulkan apa saja yang dimintanya. Anak itu terkejut. Sejak itu ia tidak pernah meminta apa-apa lagi. Pak Brata, wali kelas, tidak tertarik oleh cerita itu.

Mungkin ia menyangka saya hanya menuliskan kembali apa yangt pernah saya baca. Soalnya sebelumnya saya pernah menceritakan sebuah komik strip dengan 4 gambar dari majlah Star Weekly. Seseor4ang terkejut bangun, lalu tanpa mandi, dia menyambar tasnya dan lari ke kantor. Ternyata Minggu, kantor tutup. Pak Brata ketawa membaca cerita itu dan menyuruh saya membacakan di depan kelas. Tapi ketika ia tahu itu adalah penceritaan kembali, ia kecewa.

Saya juga kecewa. Dan itu berulang di kelas 2 SMP. Dalam pelajaran mengarang, saya me nulis tentang suasana musim semi di negeri 4 musim. Tentang bunga-bunga serta kupu-kupu dan sarapan di padang yang terbuka. Guru saya mengecam cerita itu di depan kelas. Beliau menganggap itu khayalan yang tridak berguna. Mengarang harus menceritakan peristiwa nyata yang diteemukan sehari-hari.

Ada lagi kekecewaan yang lain di SMP. Dalam pelajaran menggambar, saya melukis sebuah kaleng cat dengan permukaan yang tidak mulus elip. Saya sengaja pleat-pleotkan seperti kaleng rusak, karena saya anggap itu lebih artistik dari elips yang mulus. Ketika diberi punten, saya mendapat nilai rendah. Gambar elip itu diperbaiki dengan tinta merah, ditunjukkan bagaimana elip yang seharusnya. Waktu itu saya tidak berani membantah, tetapi saya yakin saya tak salah. Tapi saya tidak ingin guru saya yang memberi pelajaran baku kepada teman-teman saya terganggu. Orang lain mungkin membutuhkan ilmunya.

Bertahun-tahun kemudian, ketika dua buah rekaman sandiwara televise (masih hitam putih) Teater Mandiri tidak disiarkan meskipun sudah direkam, saya anggap itu resiko dalam melancarkan kritik sosial pada penguasa. Saya bikin yang lain. Juga ketika kata “lapar” tidak boleh diucapkan, saya terima sebagai ketakutan pemerintah yang mengandung jebakan. Saya tidak tertarik masuk perangkap dan tak merasa kebebasan saya dihalang-halangi. Karena saya bisa mencari cara lain untuk mengucapkan lapar itu. Bahkan mungkin hasilnya lebih efektif. Bagi saya karya seni tidak bisa dipasung. Sebut seribu larangan, kreativitas tetap akan mampu lolos dan berkelit.

Setelah reformasi, koran Republika menurunkan tulisan-tulisan tentang kemerdekaan dan kebebasan berekspresi. Dipertanyakan, mengapa tuntutan kebebasan berekspressi yang berteriak akibat dikepot penjegalan di massa Orde Baru, tidak dikuntit dengan limpahan karya sesudah reformasi. Dari sudut pandang saya, besar kemungkinan banyaknya larangan dan sensor di masa lalu, sudah menolong kemalasan mereka yang tidak kreatif, untuk bisa berfmalas-malas. Buktinya di masa banyak tekanan itu seniman kreatif seperti Rendra, Arifin, Teguh, Nano, terus aktif, tidak kalah produktifnya dengan masa sesudah refomasi. Kesulitan dalam pemahaman saya, justru sering merangsang untuk meloncat jauh melebihi kapasitas rata-rata. Penindasan dapat melipatkan kekuatan. Tinggal mau atau tidak, mampu atau tidak, lihai tidak senimannya.

Selama perjalanan saya dalam teater, beberapa orang teater mendapat kesulitan. Misalnya lakon Domba-Domba Revolusi (kemudian ganti judul: Tanpa Nama) tidak bisa dipentaskan. Rendra masuk penjara. Pementasan Teater Kecil dan Teater Koma dilarang. Saya pernah dipanggil ke KOMDAK karena ada yang telanjang dalam pertunjukan LHO, tapi tak mendapat hambatan lain. Ada kelompok mahasiswa di Semarang tidak diperkenankan mementaskan lakon saya yang berjudul FRONT, sementara saya sendiri tak pernah mengalami hambatan mementaskan lakon yang sama. Di Amerika setelah pertunjukan Yel, seorang professor ahli politik yang pasih berbahasa Indonesia menanyai saya, apakah pertunjukan Yel dapat izin keluar dari pemerintah. Dengan heran saya bilang ya, lalu bertanya kenapa. Dia hanya tersenyum. Belakangan dia bercerita pada Umar Khayam, kalau pemerintah tahu betapa kerasnya kritik dalam tontonan itu mestinya mereka akan melarang Yel.

Terus-terang saya penakut. Saya tak siap kalau harus berkonfrontasi frontal di luar teks dan pementasan. Jadi dari awal saya selalu mengantisipasi, mencegah segala kemungkinan yang memungkinkan saya terhambat. Salah satu caranya adalah dengan melakukan kompromi. Banyak orang menganggap kompromi adalah pertanda kelembekan sikap. Saya sering berkilah untuk menyembunyikan rasa malu dengan mengatakan, karena belajar hukum, saya tahu mana yang boleh mana yang tak bisa dilakukan. Jadi saya sudah melakukan sensor sendiri, sebelum sensor memotong perejalanan sata. Tetapi kemudian seorang teman memberikan argumentasi yang men arik. Baginya kompromi bukan kelemahan, tetapi justru tanda kemenangan dan kekuatan dalam melakukan tawar-menawar. Dia tidak menyepelekan institusi kompromi, karena dalam keberagaman tak mungkin tidak, hanya kompromi kemudian yang bisa menyelamatkan.

Saya mulai menulis semam sandiwara radio di SMA. Itu utuk mengisi siaran sasatra di RRI Singaraja. Penuturan seorang wanita yang sedang menunggu pemuda yang disukainya dalam pesta ulang tahun. Setelah lama sekali yang ditunggu datang. Lalu kamik mainkan dialog. Pemuda itu memberi kejutan dengan mengutarakan cintanya. Tetapi itu sebenarnya hanya hasrat dari pemuda itu, yang melawan takdirnya. Ternyata kemudian ketahuan ia meninggal dalam tabrakan, sebelum sampai di rumah pacarnya.

Teater Indonesia pimpinan Mat Dhelan masa itu (1961) sedang mempopulerkan bentuk drama arena yang bisa dimainkan di mana saja, pada siang hari). Dengan pemain Rondang Tobing, M.Nizar dan Idrus Ismail, sutradara Motinggo Boesye, mereka memainkan BADAK (Anton Chekov, terjemahan NAsyah DJamin ) di aula SMAN. Pertunjukan itu meneror kami semuanya. Saya begitu terpesona. Lalu menulis sebuah lakon berjudul “Si MATA KERBAU”. Tanpa pengalaman panggung, naskah itu dicaci oleh teman saya sebagai curahan anak manja. Saya marah sekali, tetapi kemudian diam-diam menyadari kritikannya.

Ketika pindah ke Jogja (Fakultas Hukum UGM) dalam masa peerkenalan ketika masuk ASDRAFI saya menulis naskah pendek berjudul “BUAYA”. Disusul beberapa judul “GUA”, “GERIMIS TENGAH MALAM.”SURAT JALAN UNTUK MATI”, semuanya masih merupakan latihan. Ada juga “KIEKE” dan kemudian “INVALID” yang mendapat hadiah ketiga lomba penulisan naskah DIRKES Jogja.

Lakon yang saya anggap sebagai debut saya adalah “DALAM CAHAYA BULAN” yang ditulis mengikuti tradisi pingpong dialog Chekov. Lakon ini kemudian dimuat bersambung di majalah Minggu Pagi dalam bentuk novelet. Sering dipentaskan di kampus dan saya bawa pameran keliling bersama Sanggar Bambu menjelang tahun 70. (bersambung)

Foto: robbypatria.blogspot.com

Komentar


Berita Terkait