04.01.2010 01:42:41 WIB
Oleh FLORENCIA MARCELINA RAMADHONA
MENIKMATI sungai Musi, terutama jembatan Ampera, tampaknya tak pernah habis. Keindahan luar biasa, ketika memandang jembatan Ampera saat senja dari atas perahu ketek yang melaju di sungai Musi.
Dengan menyewa perahu ketek sebesar Rp60 ribu, saya dan tiga teman saya menyusuri sungai Musi pada Minggu (03/01/2010) sore. Kami melaju dari Plasa Benteng Kuto Besak, Palembang. Harga sewa ini sebenarnya cukup mahal, tapi kami pikir tak seberapa bila dibandingkan dengan keindahan yang akan kami dapatkan.
Kami melaju ke arah timur atau hilir sungai Musi. Kami memandang kehidupan di waktu sore di tepian sungai yang panjangnya berkisar 450 kilometer itu. Selain orang yang mandi, kesibukan juga tampak pada pemilik perahu tongkang, atau kapal-kapal lainnya.
Kebersihan mulai terlihat di sekitar Pasar 16 Ilir. Tepian mulai tertata rapi sehingga kami dapat melihat indahnya rumah panggung yang berusia ratusan tahun menatap kami dari tepian sungai Musi.
Kami pun berbalik pulang di depan pelabuhan Boom Baru. Kami melintasi tongkang-tongkang yang berukuran besar tengah melaju dan berlabuh di tengah sungai Musi. Tongkang-tongkang ini masuk ke pedalaman sungai Musi buat membawa batubara.
Nah, saat kembali ke arah Barat atau hulu sungai Musi, kami melihat keindahan luar biasa. Mentari senja yang menyinari jembatan Ampera seperti lukisan atau siluet yang begitu indah.
Kekokohan jembatan yang dibangun tahun 1964 itu, seperti memberikan pengalaman yang mendalam setelah "lampu besar" berwarna kuning menyinarinya, yang terlihat di antara dua tiang penyanggahnya.
Lalu, saat memandang sungai Musi dari arah hulu kami melihat cat orange jembatan Ampera bagaikan batangan emas saat disinari mentari. Sungguh indah.
Menjelang magrib, perahu ketek kami kembali berlabuh di Plasa Benteng Kuto Besak. Kemudian kami naik warung kopi di atas perahu juga di Plasa Benteng Kuto Besak yang dipenuhi pengunjung sore itu. Kami menghirup kopi atau teh hingga mentari senja tenggelam ditelan malam.
