09.11.2009 01:40:34 WIB
Oleh FLORENCIA MARCELINA RAMADHONA
PUISI atau sajak apa saja milik Ahmad Rapanie Igama yang ditampilkan dalam musik, gerak, senirupa, dan musikalisasi puisi, dalam “Konser Jangan Tiupkan Kebencian” di Graha Budaya, Jakabaring, Palembang, Sabtu-Minggu (07-09/11/2009) kemarin? Inilah sajak-sajaknya.
Barisan
karena kurus kering
dia terusir dari barisan
-banyak-banyaklah makan
aku tak punya selera
-coba satu kali pasti ketagihan
aku tak suka perutku mual
-kau suka setelah mencicip
tidak! haram di darahku
bukan untuk darahmu
tapi untuk
barisan
(dia memandang tubuhnya
yang mungil
lalu perlahan-lahan meninggalkan
barisan)
Palembang, 2002
Jangan Tiupkan Kebencian
jangan tiupkan kebencian
akan menutup jendela hati
menutup pintu silaturahmi
jangan tiupkan kebencian
akan perlahan memakan hati
menghembus kabut di matahati
jangan tiupkan kebencian
akan mengarungkan gelombang amarah
menghempas karang-karang kebajikan
jangan tiupkan kebencian
akan mendatangkan badai permusuhan
menerbangkan payung-payung kearifan
jangan tiupkan kebencian
akan ada darah bernafas tuba
mengalir pada bumi yang sudah lelah
membiak pada tanah-tanah persemaian
Palembang, 2004
Air Mata
Mau kutumpahkan
air mata hati menahun padamu
tetapi engkau kekasih dan cintaku
kutak mau engkau hanyut
terbawa bah air mataku
maka air mata diam
menjadi telaga kalbu
tergenang dalam sanubariku
2001.
Menjemputmu
Aku menjemputmu pada sebuah terminal akhir, jika telah mengetahui dari peron mana memasuki ruang dan memulai perjalanan menembus malam. Perjalanan gamang merunut masa lalu telah memakan kelam dan dendam, memakan tanah, sumpah serapah, dan darah para saudara. Perjalanan dalam pekat malam ini untuk memaknai seberkas cahaya yang telah lama terbenam dalam sanubari hitam, dan sayang, hingga kini tak kunjung kutahu dari mana memulainya.
Terlalu banyak simpang dan kegelapan dalam masa lalu kita.
Aku terperangkap kini. Setiap cahaya seolah bintang dalam sanubariku. Apakah peronku adalah cahaya dari air matamu? air mata yang tumpah dari langit pertiwi. Rona bianglalanya membuatku terpukau sebelum tragedi kekuasaan, tsunami, tanahretak, rayap-rayap memakan tiang kapal, tikus-tikus di lumbung, atau teman memakan tanahsendiri, yang selalu berujung pada bah air mata, menjadi danau darah dalam sanubari.
Tapi aku berjanji, akan menjemputmu setelah menoleh pada angka-angka keramat yang selalu kulafal untuk menggerakkan langkah. Dapuntahyang dan Gajahmada akan menuntunku pada sebuah gerbang yang indah. Aku masih yakin dapat menjemputmu beramai-ramai bersama anak-anakmu, melepaskanmu dari badai lautan hitam dan bumi terbakar yang terasa tak kunjung usai.
Tetapi, bersyukurlah, sebuah jendela masalalu selalu memberikan dirinya untuk kita.
Palembang-Depok, 2006
Keangkuhan -1
sebuah kata yang tak kumengerti
kau jadikan gelombang laut
membanting-banting bidukku
pada sungai kita
aku tahu
pada karang kau tega menghempasku
tetapi lupakah kau bahwa
aku pernah berumah di laut?
.2003-2005.
Keangkuhan - 2
sebuah warta dari gunung
bukan tempatmu tinggal
menjadi sorga jantung dan syahwatmu
sebuah kitab dari lembah sungai mengalir
pada tempat kediamanmu
bukanlah apa-apa bagimu
jadi apakah pengelanaanmu
menaklukkan gunung-gunung
dan menekuk sungai-sungai
hanya berguna mengukir kata-kata
pada dadamu yang telah membusung?
Palembang, 2003
Siapa Meminang Timur
Siapa telah meminang timur
tanpa salawat dan doa
tanpa tahajud dan tafakur
tanpa pinang dan sirih
Siapa meminang timur
dan menghanyutkannya
pada sungai tak bernama
Siapa meminang timur
tanpa arak-arakan perahu bidar
dan meninggalkannya
pada pulau tak bernama
siapa yang telah meminang
dan menelantarkan keturunannya
Mei, 2003
Mencair dalam dingin dan kegelapan
Di persimpangan lalu itu sebongkah salju meneriakkan keinginannya untuk bermandi matahari, disaksikan dinding-dinding besi yang angkuh. Lalu diam-diam dia pun membisikkan kebosanannya akan kebekuan kepada angin fajar di tengah badai yang murka.
Sayangnya, seusai suara-suara koor para orientalis dalam kubangan kota, salju itu terhimpit di antara gedung-gedung beku yang tinggi dan menutup matahari. Sementara di dalam gelap, reruntuhan nafas-nafas kemanusiaan hangus terbakar oleh pertikaian-pertikaian nafsu dan masa silam.
Akhirnya di persimpangan lalu itu, kini, dan di bawah suara-suara kemanusiaan, sebongkah salju mencair menyesalkan dirinya sambil mengutuk mimpi : matahari itu diam dalam selimut mimpi, matahari itu terhimpit suara-suara kepalsuan, matahari itu fatamorgana pada hamparan suara-suara mimpi, langit semakin redup, gelap, dan akan menutup cahaya. Matahari hanya akan hadir sebagai mimpi.
Di persimpangan masa lalu itu, kini, sebongkah salju mencairkan dirinya, tapi dalam dingin dan kegelapan malam, di antara tembok-tembok tinggi, tanpa matahari. Juga tanpa mimpi.
Palembang-Depok, 2006
Kepada Musi (1)
Tepian ini memberi fajar
menghangatkan tubuh kami
menerangi mata hati
dari menahunnya kabut dusun
Kota Musi tempat melabuh cinta
pasar bagi segala mimpi
rantai dari segala nyanyian
di sinilah benang emas songket kami
hingga tiada jengkal
di antara sembilan batanghari
Tepian ini menyimpan tua-tua
menyatu dalam kecipak air
seirama aliran darah kami
Dari uluan kami menghadap
pada degub jantung kami
.1993-1995.
Salamku Pada Muara
Aku mengembara
menguak rimba
negeriku sendiri
Dalam dahaga
kuhampiri gigir sungai
maka menguak pula
rinduku pada muara
Terbayang kau
kerabat-kerabatku
menanti, mengajakku
mengembara pada laut
,,Teruskan kamu,
laut memberi hidup
menuntun pada malam,
siang hari tiada tepian
pada mata hati,
bebas atas sungai
yang cuma di batas muara,,
Aku masih menguak rimba
negeriku sendiri
Salamku pada kalian
(maka kutepuk sungai
airnya memercik wajah
dingin)
,,Sampaikan salamku pada muara,,
Palembang, 1993
