20.11.2009 00:21:47 WIB
Monolog Matahari
: bung
kau akan mengerti
saat daun berhenti menarik matahari
sampai sesajak di sini
ataukah kolam dan laut
yang tak kembali ikanikannya
dan asin di sana menggumpal ribuan garam
mengering, dan mengkristal
sampai sesajak di sini
kau dan matamu adalah isyarat menuju matahari
atau selangkah menceburkan diri
dan sampai pada dirimu
kau mulai membaca jalan di situ
inilah waktu dengan terik matahari
yang terbatas
di pinggulmu, nasib akan sampai
di puncaknya yang paling lengkung
lalu pusarmu adalah segala lingkar
yang akan menafsirkan
segenap waktu matahari
sampai sesajak di sini
sekayu, 16 nov '09
Senja di Gubukmu : Juga Usia
Aku lebih mengenalmu sebagai bapak tua
menahun menua dalam waktu yang terbakar
senjamu adalah gubuk rapuh yang musti dipasangkan pakupaku, kayukayu, jerami
supaya dapat kau berteduh
dan menyusun sisa pagi
yang masih ada untuk ditiduri
bila malam kau terjaga bersama bulan
katakanlah padanya aku ini anakmu yang perawan
sepuluh tahun menjadi kembang
mandi di kolam
bersama ikan dan air yang ranum dan lumutan
daundaun meluruh
burungburung menutup paruh
sambil menjaring ikan yang alit
: diburu di laut
disimpan di mulut
untuk anak yang nanti jadi pemagut
di tanganmu masih dapat kau getarkan
gelombang yang melemah
yang kadang menguat dan berdenyut
suara serigala di luar sana
dan bunyi kentongan peronda
serupa kopi yang harus kau minum
dan kau teguk ampasampasnya
kapan kau akan mengikat tali sepatumu
sedang hari merapat
dan kucingkucing yang mengaum
menunggu jasadmu terbakar
dan tetangga, batu, angin
telah menjadi tuli dan bisu
(waktu di sini telah mengurung mereka)
senja di gubukmu
: juga usia
waktu ini adalah seluruh penuh tertumpah
untuk dirapalkan dan difahami
ketika kau melangkah
di sanalah jembatan bagimu
untuk sampai di pelukan
yang dulu menumbuhkan benihmu
hingga kini memanenmu
untuk disadap lagi
sekayu, 16 nov '09
