11.10.2009 06:12:37 WIB
Hampir Aku
Aku hampir. Hampir aku. Merangkul mata air di dinding hati. Sia-sia yang tak boleh hak aku. Tuhan cukup memberi awal masa lalu.
Mata air itu muncratkan sungai. Melengkung, melilit sembilan, sehingga perahu-perahu milik nenek moyangku gagal memberi batas. Batas yang menggugurkan ilmu pengetahuan dari Tiongkok dan Persia. Kini aku membaca perbedaan, dan aku hampir. Hampir aku.
Mata air itu keringkan daun-daun. Bakar pohon-pohon. Kabut asap mengepul bagai tak terbayangkan dari ruang tamu istana Sriwijaya. Saat itu, aku hampir. Hampir aku.
Beberapa abad kemudian, hampir aku. Aku hampir. Cium-cium rambut Ratu Sinuhun, yang selalu basah tak memiliki mata air.
Hampir aku. Aku hampir. Melaju tanpa mata air.
2009
Berapa Lama
Berapa lama kita di jalan ini? Seseorang terjatuh, terjatuh, terjatuh, terjatuh, terjatuh, terjatuh, ke sungai, hingga sulit menemukan rasa sakit itu.
Tak ada pilihan arus di perahu ini. Seakan. Pilihan mendayung terus membunuh. Berhenti mendayung, kita terbunuh.
Lalu, pertemuan di perahu ini merupakan awal kesedihan, dan perpisahan awal dari kerinduan, lalu tenggelam awal sebuah keabadian cinta kita.
Berapa lama?
2009
Bangun Tidur Terbang
Bangun tidur di tengah kota yang semuanya terbang. Tak ada yang terjatuh. Yang terindah melayang-layang. Segala daya meraih tanah. Tanah terbelah dan menjadi bubur. Sulit menguburkan diri. Sulit berziarah. Sulit menanam bunga.
Siapa yang berada paling atas itu?
Tak ada yang terjatuh. Semua ditiup para pendatang yang berguling di tanah. Mereka membela tanah, menjadikannya bubur, memerasnya, dan nisan-nisan ikut terbang. Melayang. Tangan Tuhan masih jauh. Menunggu di ujung penerbangan.
Siapa yang berada di inti tanah?
Tidur.
2009
