Sastra

SAJAK-SAJAK IMRON SUPRIYADI

coba

24.10.2009 12:59:54 WIB

MALAM BISU
: bagi isteriku

Malam kelam
Di luar hujan mengguyur
Di kamar kami membisu
Ibu sudah lama terlelap

Lagu kenangan mengalun
Kami tetap mebisu
Senyum istriku rasanya basi

Di luar masih hujan
Kami tetap membisu
Lidah terasa kelu
Dan,
Malam tetap membisu

Simpang Keramat-Tanjung Enim, 6 Jan 2005


KAU ISTRIKU
: bagi pustri istriku
Kau isteriku
Itu yang ku tahu

Kau semangatku
Itu yang kumau

Kau buka matamu
Itu hanya untukku

Kau pelitaku
Itu harapanku

Kau membisu
Itu yang keliru

Kau membatu
Itu tak berpadu

Kau selembut salju
Itu yang kutunggu

Kau selalu tersenyum
Itu yang kurindu
Simpang Keramat-Tanjung Enim, 6 Januari 2005



PUISI UNTUK ACEH
TSUNAMI, AIR MATA KAMI *)


Airmata Papua,
Nabire
Dan Alor
masih menggenang,
Kini, air mata tumpah lagi

Tsunami, memecah bumi
Di Aceh
Di Sumatera Utara
Di Malaysia
Di Srilanka
Di India
Di Thailand
dan di sini, di tempat aku berdiri
air mata masih berurai menusuk hati

Tsunami,
Kau hanya utusan
Kau hanya angin dan air
kemudian menggumpal
bergulung-gulung
dan,
menghempas bumi

Kini,
Aroma kematian tercium dari sini
Empat puluh ribu lebih nyawa melayang
Di jalanan,
Di sudut-sudut kota
Di bawah puing-puing kehancuran
Masih terselip,
Tergeletak ribuan mayat
tanpa nama

Sampai kini,
Masih terdegar Jerit dan tangis mereka
Kelaparan
Kehausan
siap menerkam dan membunuh mereka

Tsunami,
Aku ingin kau bicara hari ini
Aku ingin kau kabarkan
tentang apa saja
sehingga musibah ini terjadi

Apakah ini Kemurkaan?
Apakah ini Teguran?
Atau
Ini pemeliharaan Tuhan atas dosa-dosa
Atau bahkan ini sebuah laknat?

Tsunami,
Sekiranya kau beritahu kami sebelumnya,
Mungkin kami akan memilih menjadi gunung dan tanah,
Sehingga kami tak menerima kepedihan ini

Sekiranya kau beritahu kami sebelumnya,
pasti, kami,
akan memilih tunduk dalam ketaatan
dari pada terbuai dalam keangkuhan

Tsunami,
kini telah terjadi
Ribuan nyawa kau serahkan kembali
Harta benda kau kembalikan ke bumi
Air mata anak negeri tak terbendung lagi

Mungkin,
Karena kedurhakaan kami
hingga Tsunami harus menyayat ibu pertiwi

Atau,
Mungkin karena kelalaian kami,
hingga Tsunami menjadi-jadi

Kini,
aku, kami dan siapa pun ia
hanya akan kembali menangis
menangis untuk yang ke sekian kali
dan besok,
aku harus berlari menuju Tuhan
dan berkata ; Tuhan, aku ingin kembali

Tanjung Enim, 26 Desember 2004
(Indonesia Menangis)


*) Dibacakan pada acara Peringatan Tahun Baru PTBA di Gedung
Serba Guna 31 Desember 2004 oleh Boni Sudarman Aktifis TEATER BATU HITAM TANJUNG ENIM.


KEPADA PARA PENGUASA

Aku dengar,
Hari ini kalian masih makan nasi
Hari ini kalian masih berak tai

Lalu,
Kemarin kalian juga masih butuh matahari
Dan malamnya,
Kalian masih ingin pelukan istri

Tapi kabar dari koran,
Kalian sudah menjadi pemakan besi
Kalian juga menjadi perusak alam hayati
Kalian juga yang membuat kelaparan menjadi-jadi

Dan kalian juga,
Lebih senang menebar paku dan jarum ke lubuk hati
Lebih senang berpangkutangan tanpa rohani
Lebih senang menumpuk materi tanpa henti

Dengar,
Dengar para penguasa
Kini, aku tak lagi sendiri
Kini aku bersama buruh, nelayan dan petani

Menyatu dalam satu hati
Berbaris dalam satu janji
Dan mulai hari ini,
Kami akan teriakkan : enyahlah dari negeri ini
Atau kalian harus kami masukkan ke dalam peti mati


Desa Telatang-Lahat Sumsel, 12 Mei 2004


30 TAHUN BERTANYA KEPADA TUHAN

Tuhan,
30 tahun kuhirup udara-Mu
30 tahun kujalani taqdir-Mu
30 tahun kuselami ayat-ayat-Mu
dan,
30 tahun kusetubuhi dengus napas-Mu

Tapi, hingga kini,
Napasku masih tersumbat senyum masam ayahku
Kakiku masih tersantuk kerikil dan bebatuan
Lalu aku terperosok ke dalam lubang nestapa

Tuhan,
Sekiranya Engkau mengizinkan-ku
Sekiranya Engkau bersedia memindahkan
Wewenang permintaan Muhammad kepadaku

Maka,
Akan kubalikkan pabrik-pabrik menjadi hamparan sawah
Akan kugulung perkebunan kelapa sawit

Lalu,
Akan kulemparkan para penguasa-penguasa bedebah itu
Lantas kuperintahkan mereka
Agar menjilati pantat para buruh dan petani
Agar menjilati jari jemari para perempuan pengumpul tanah perkebunan

Tuhan,
30 tahun kucari taqdir-Mu
30 tahun kunaiki cahaya-Mu
30 tahun ku-dzikir-kan ayat-ayat Mu

Tapi, sampai hari ini
Aku, kau dan kami semua masih terus menanti

Desa Telatang-Lahat Sumsel, 12 Mei 2004


LAPORAN KEPADA TUHAN

Tuhan,
Kemarin aku sudah mulai tersenyum
Dadaku yang penuh
Secara perlahan sudah kukeluarkan, kulepaskan
dengan bersiul
dengan batuk
dengan berteriak
atau kukeluarkan melalui kentut

Aku lihat,
Beberapa hari yang lalu
Belaian kasih dan sayang-Mu menebar
Ke setiap dusun
Ke rumah-rumah kumuh
dan kurasakan lewat tenggorokanku

Dan kemarin,
Kutangkap cahaya-Mu dengan tangan kecilku
Kupeluk erat rahman dan rahim-Mu
Lalu kutebarkan kepada siapa saja
Yang sedang menangis
Yang sedang lapar
Yang sedang haus
Atau yang sedang dalam ketertindasan

Tapi, Hari ini
Aku laporkan kepada-Mu
Ambon berdarah lagi
Ambon menangis lagi

Dari sana,
Kulihat ratusan daging terbakar
bau anyir darah menyengat ke setiap meja makan
dan air mata, keringat telah menjadi darah

Tuhan,
Aku yakin
diatas singgasana-Mu
Engkau telah mencium bau amis darah ini
Engkau juga telah mendegar tangisan sejuta nyawa yang tak berdosa

Dan Engkau juga pasti mendengar
Berapa puluh manusia yang tertawa diatas ambon berdarah

Tuhan,
Laporanku ini sudah pasti tak berkenan untuk-Mu
Sebab saat aku lahir,
Aku sudah berjanji untuk memelihara bumi yang Kau titipkan padaku

Tapi,
Maafkan aku Tuhan
Sekali lagi maafkan aku,
Karena manusia sebangsaku
Telah melumuri bumi-Mu
dengan darah dan air mata

Maka,
Dari laporanku ini,
Akan kukatakan
kepada langit
kepada bumi
dan kepada laut
Kalau memang kedamaian bumi ini
harus membutuhkan kematianku
membutuhkan darah terakhirku
Maka hari ini,
Ambillah
ambillah aku sekarang juga
Dan jangan lagi
kalian nodai bumi ini
dengan duka
dengan tangisan
dan dengan darah

Jl.Simanjuntak-Palembang, 3 April 2004


KETIKA ENGKAU RINDU
: bagi kawanku Warman P

Kawan,
Kau memang tak lagi dikejar senja
Kau juga tak lagi dihimpit naluri kelelakian
sebagaimana aku
Bulan, matahari dan langit
Atau Panji dan Nia
menjadi saksi atas ke-khalifahanmu

Lantas,
Hari ini kau katakan padaku
Aku sedang rindukan malam di jalanan
Aku sedang rindukan bau ikan di sampan
Aku juga sedang rindukan debu
Atau suara mesin di atas Ampera

Tapi, Maafkan aku.
Sebab, hari ini
Aku sedang rindukan malam diatas ranjang
Aku sedang rindukan bau parfum pengantin
Aku sedang rindukan dengus napas

Dan malam nanti,
Aku masih ingin mencium bau keringat
Aku masih ingin mendegar desahan
Dan aku,
masih ingin menjadi ilalang

LPM IAIN RF.Palembang-14 Mei 2004


BUKAN AKU

Kalaupun
Dana BBM itu di gelebungkan
Sungguh, engkau bukanlah aku

Kalaupun,
dana kompensasi BBM itu diselewengkan
Sungguh, itu bukan aku

Kalaupun
dana abadi umat itu juga dikorup
Sungguh, engkau juga bukanlah aku

Lalu,
Kalaupun
dana reboisasi itu juga kau curi
Sungguh, itu juga bukan aku

Kalaupun
Menjadi Pegawai Negeri harus menyuap
Sungguh, itu bukan aku

Dan kalaupun
dana KPU juga kau buat menyuap
itu juga bukan aku

lantas, siapakah aku
aku adalah hati nuranimu

Pertengahan Ramadhan - Tanjung Enim, 17 Okt 2005


AKU KIRA

Aku kira,
Ramadhan ini kau berpuasa
Sebab, kau juga ikut berbuka

Aku kira,
Ramadhan ini kau juga tarawih
Sebab, kau juga ikut berjamaah

Dan tak kukira
Ramadhan ini
Kau tidak melakukan apa-apa

Ramadhan - Tanjung Enim, 17 Okt 2005


MANUSIA BATU

Kulihat,
Tubuhmu manusia
Kuraba,
Kulitmu manusia
Kucium,
baumu juga manusia

Badanmu manusia
Matamu manusia
Makanmu, juga seperti manusia
Tapi, Hidungmu
Telingamu
Mulutmu
Dan hatimu adalah batu

Kemarin, aku lihat,
kau bergaul dengan manusia
Bicara dengan manusia
Menikah dengan manusia
Beranak manusia
Selingkuh dengan manusia
Bekerja juga seperti manusia
Tapi, kau tetap batu

Dan aku juga melihat,
Kau tertawa seperti manusia
Kau berpikir seperti manusia
Kau duduk seperti manusia
Kau bersetubuh, juga seperti manusia

Tapi, gayamu
Ke-angkuhanmu
Ke-sombonganmu
Ke-dengkianmu
Dan ketulian mata hatimu
Persis seperti batu
Bahkan lebih dari itu

Tanjung Enim, RGBA- Ramadhan 1426 - 05 Oktober 2005


AKU TAHU SIAPA KAMU
: Puisi Buat Amerika

Aku tahu,
Aku bukan siapa-siapa
Tapi aku tahu kamu siapa

Aku bukan apa-apa
Tapi aku tahu mau kamu apa

Aku bukan raja api
Tapi aku tahu kau berman api

Aku tahu kau beri makan kami
Tapi aku tahu budimu setengah hati

Aku tahu kau kampayekan demokrasi
Tapi aku tahu kau ciptakan anarki

Aku tahu kau berikan nasi
Tapi aku tahu kau memberi duri

Kau kuras harta kami
Kau sadap hasil bumi kami
Kau sikat sawah ladang kami
Dan besok,
Kau mungkin akan hisap darah kami
Maka, kukatakan padamu : Amerika! Go to Heal!
Pergilah ke neraka!

Muara Enim, 12 Juli 2008
RAMADHAN ITU

Jelang ramadhan
Panitia masjid
Ustadz, santri dan kaum moralis
Berkumpul

Ia bersalam-salaman
bertemu
Tersenyum
Dan mulutnya
Tak lepas dari istighfar

Satu hari ramadhan
Ustadz dan para santri masih berkumpul

Ia bertemu
Bersalaman
Tapi tak lagi senyum
Mulutnya juga diam

Satu minggu ramadhan
Mereka tetap begitu

Jelang lebaran
Ustadz, dan para santri
Sudah sepi
Tak ada di masjid

Sorenya temui mereka di pasar

Tanjung Enim 17 Okt 2005
TAK ADA KERJA

Bosku,
hari ini tak ada kerja
Kemarin,
juga tak ada kerja
Lusa, mungkin tak ada kerja
Sebab,
Bosku memang tak bisa kerja

Tanjung Enim – 5 Oktober 2005 – Ramadhan 1426 H


MEMBURU TAQDIR

Langkahku terayun memburu taqdir-Mu
Senandung doa slalu kulantunkan untuk-Mu
Kuhalau karang dan ombak dengan Cinta-Mu
Tapi denyut napasku tersantuk batu

Ku ingat slalu baris kata dari langit-Mu
Sebagai tanda Cintaku pada-Mu
Kubiarkan diriku tetap dalam penjara-Mu
Tapi kini kuteteskan noda dalam surga-Mu

Tuhan,
Jangan terbangkan kembali Cinta-Mu ke awan
Walau nama-Mu baru sebatas kata
Jangan biarkan diriku dalam nestapa
Walau nista masih membalut rasa

Tuhan,
Rengkuhlah aku yang kini hampa
Kupasrahkan jiwa yang kini fana
Lambaikan tangan-Mu sebagai kata maaf saja
Sebab hanya doa dan tangisan yang aku punya

tiga dini hari
di Palembang, 12 Okt 2009


REMBULAN CINTA

Senyum rembulan menembus malam
Bersinar terang diatas mega-mega
Kerlip bintang turut menyambut ceria
Hadirkan warna dalam cinta

Dengus napas membawa luka
rembulan cinta tertusuk ilalang
Nyanyian surga tlah bernada sumbang
Karena rembulan tak lagi perawan

Tersenyumlah rembulan walau terluka
Kejarlah surga diatas langit cinta
Noda dan dosa hanya kealpaan belaka
Pintu taubat masih terbuka
menuju keabadian Cinta

Palembang, 17 Okt 2009


CINTAMU BUKAN GINCU

Cintamu hadir di sepanjang waktu
Bersenandung slalu dalam kalbu
Cintamu adalah cahaya bagiku
Tapi entah mengapa
Hatiku masih terbalut debu

Ku yakin cinta-Mu bukanlah gincu
Seperti nyanyian pilu dalam sumpah palsu
Ku yakin cinta-Mu datang dari surga-Mu
Tapi entah mengapa
Senandung rindu slalu membisu

Tuhan,
Bukan maksudku melukai langit-Mu
Tapi pongahnya dunia
Tlah menutup cahaya cinta-Mu
Bukan kerinduan semu yang aku mau
Tapi nafasku masih beriring nafsu

Tuhan,
Kerinduanku kini kembali menderu
bersenandung dalam taubat pilu
kusujudkan diri diatas sajadah-Mu
tuk menebus luka nestapa atas kelupaanku

Palembang, 17 Okt 2009


LUKA CINTA

Saat mentari menyambut pagi
Kusemai Melati diatas Musi
Bersama hujan dan Minyak Kesturi
Tuk meraih cinta sejati

Separo waktu Mentari tenggelam kembali
bersembunyi di balik besi
nyanyian pilu terdengar dari serambi
menyayat luka dalam hati

Melati,
Mengapa kau biarkan bibir mu membisu
Mengapa kau biarkan hatimu membeku
Berkatalah untuk memecah batu
Berkatalah untuk menebus luka

Melati,
Kini cintaku hanya berbalas dusta
Semua jan jadi saksi di jembatan ampera
ribuan kata tak jua membuatmu ceria
Biarkan kita nanti bertemu di Surga

Palembang, 17 Okt 2009


Biodata :
Imron Supriyadi, pelaku seni, alumnus IAIN Raden Fatah Palembang tahun
1998. Lahir di Magelang, 18 Mei 1973. Hijrah ke Sumatra sejak tahun
1989 sampai sekarang. Bersama dua orang anak dan (baru satu) istri
tinggal di Palembang.

Komentar


Berita Terkait