29.08.2009 15:43:33 WIB
PEREMPUAN-PEREMPUANKU
Perempuan-perempuanku
simpul sutra halus dan lembut
yang mengurai anak rambut
ke bukit dan lembah pengembaraan
semenjak hawa diturunkan dari syorga
Perempuan-perempuanku
meramu sayur mayur yang kupetik
dengan sentuhan lembut dan lentik
agar tetap hijau warna daunnya
agar tetap merah warna sambalnya
lelaki mana yang tak membiarkan dirinya
terpenjara di ranjang-ranjang kemesraan
Perempuan perempuanku
beraroma asap dan minyak tanah
menyeruak dari tungku-tungku kehidupan
yang selalu hangat dan berkeringat
melenggak-lenggok di dalam darah dan urat nadi
genit dan manja kerling matanya
mendesah manakala aku putus asa
wahai, lelaki mana yang tak bergelora
menggugat takdir yang terukir
menumbangkan dinding-dinding kesengsaraan
dan akar kesia-siaan yang menjerat lehernya
Perempuan-perempuanku
Sandarkanlah kepalamu di dadaku
agar lebih kau pahami hati lelaki.
Palembang 8 Desember 2007
DI KINTAMANI
Seperti dedaunan aku menggigil
Hujan kabut menyelimuti tubuhmu, kekasih
Dek, di kintamani gadis-gadis kecil tak mengeeling
atau melenggok gemulai di altar para dewi
tangan-tangan kecilnya memeluk patung telanjang
yang dipahat para lelaki
Aku kehilangan langkah kecil
dan tawa renyahmu
kecemasan menyelinap dalam dada
manakalah menghitung jarak
Kintamani yang dingin
dan beranda kecil penuh cinta
Sudah kau hias rambut pirang boneka berbimu, dek ?
Seperti dedaunan aku menggil
Siapa yang peduli ?
Kintamani februari 2008
JALANG
Kata dalam pikiran jalang nempuh kecemasan
titik koma
Jiwa sengsara tak terperikan
Lunglangi tangan
Menggenggam ragam cinta
Perangkap bawah sadar
Yang memaksamu tak henti bertarung
Apa harus dikalahkan dalam hidup ?
15 jan 08
JANJI
Bila kekasihmu menagih janji
Jangan lagi kau sembunyi
Rentangkanlah dua tanganmu
Peluklah ia dengan mesra
Menuju taman percintaan
Takdir manusia
Plg 29 maret 08
ULU MUSI
(kepada syamsu indra usman)
Kujejaki juga tanah airmu
yang kau banggakan selalu
dimana para lelaki menanam keberanian
pada bukit-bukit rawan
Kecemasan
dan kelebatan siwar
menyeruakkan aroma racun
dari sejarah para leluhur
yang menggerus hati
Kawan, aku tak tahu dimana kau berada
jalan-jalan sepi berliku
bersiteru dengan kerahasiaan pohon-pohon tua
Duhai, aku menemukan secarik puisimu
Tersangkut di dedaunan
Basah oleh embun
Tapi jelas kata-katanya
bahwa hidup tak boleh menyerah
nop 2008
