Sastra

Sajak-Sajak "Serelo" Jajang R. Kawentar

coba

09.01.2010 19:34:06 WIB

Sajak-Sajak JAJANG R KAWENTAR

Kepada Bukit Serelo

Kepada Bukit Serelo yang mematungkan jempol
Anak-anakmu mulai besar
Menuntut ilmu janganlah segan
Di ladangmu satu garis nyawamu
Matilah kau andai dijual
Melayanglah silsilah payung puyang yang kau gengam
Ini era kapitalisme
Gepokan uang menjadi senjata mengelabui, terbang telanjang
Bila matamu silau, kubumu kian melarat
Mengais-ngais pekerjaan dalam perusahaan-perusahaan
Memeras tenagamu hingga keriput dan menyusuinya
Di ladangmu adalah perusahaan sesungguhnya
Matilah kau andai dijual
Menjadi budak-budak pabrik penghasil produk yang mengikatmu kemudian
Di bukitmu dirimu terpatri
Kehidupan menyenangkan sesungguhnya
Hentikanlah iklan-iklan yang mencumbumu setiap waktu, muslihat yang ditebarkan
Bacalah wasiat puyangmu
Amalkan nasihat puyangmu
Di ladangmu satu garis nyawamu
Jangan dijual
Tatap Bukit Serelo yang mematungkan jempol jangan menimpamu
Katakan, “aku akan menjagamu!”
Ganyang kekerasan di alammu
Di landainya lembah bukitmu,
Buah durian, kawe dan tembakau serta padi menguning
Percayalah di dadaku

Lembah Serelo, 2010














Kepada Anak-anak Lembah Serelo

Jangan tunjukkan udikmu pada bumi di wajah jaman
Karena arifmu dalam catatan puyang menjunjung alam di pundak anak-anakmu,
mengembara sendiri
Buku-buku yang tidak pernah kau baca akan melaknatmu hingga terbujur dan terhina
Karena kau campakkan di jalan menuju pasar setelah kau jual keringat atau warisan
Detak jantung yang hidup di dusun menghisap kawan tetangga sanak saudara
dan ini budaya padamu kini
Ini biasa padamu, gila padaku
Binasa di muka menganga dituntut juga

Alam tidak berkehendak bersetubuh denganmu, tetapi leburlah dirimu pada kehendaknya
Tantanglah jaman bukan hanya tempurung menjadikan rumahmu
Kau tau di luar mengubah bumi dari kamarnya sendiri
Kau masih bergumul dalam periuk nasi dan televisi
Fatamorgana membiuskan pada kepalamu yang mengerutkan otakmu menjadi recehan

Aku ingin mengajakmu bertamasya menyusuri kepala yang membuat iklan dan televisi
Pergi ke lorong-lorong rumah raksasa dan pasukannya yang segera menghancurkanmu
Ribuan truk dan eskapator memaksa dusunmu kelam
Peluklah aku erat-erat dengan kelembutan hatimu dengan keterbatasan dirimu yang kau terima
Serta keterbatasan yang kuberi untuk membukakan pintu di dirimu
Ayo kebodohan kita hancurkan
Ayo hentikan penggilasan


Sarang Semut, 2010

*) Menetap di Lahat, Sumsel

Komentar


Berita Terkait