15.11.2010 21:00:48 WIB
SUMATRA Selatan sangat beruntung menjadi salah satu penyelenggara SEA Games 2011. Sebab jika dikelola secara baik, banyak keuntungan yang didapatkan Sumatra Selatan. Dapat dipastikan ke depan daerah ini tidak hanya dikenal dengan makanan pempeknya, kain songketnya, jembatan Ampera-nya, atau stigma sebagai lumbung bandit. Sumatra Selatan akan dikenal sebagai daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam beserta kebudayaan besarnya, yang tentunya akan memengaruhi percepatan pertumbuhan ekonominya.
Belajar dari berbagai event olahraga international yang diselenggarakan sejumlah negara, seperti piala dunia sepakbola, keuntungan yang didapatkan bukan hanya dari sektor pariwisata, perdagangan, juga investasi.
Tak heran, sebelum menjadi penyelenggara pembukaan dan penutupan, serta sejumlah cabang olahraga, Sumatra Selatan harus bersaing dengan sejumlah daerah di Indonesia, guna mendapatkan kepercayaan mengelola pesta olahraga antarbangsa di Asia Tenggara tersebut. Intinya banyak daerah di Indonesia yang melihat peluang tersebut.
“Kita benar-benar sangat beruntung. Mungkin kita harus menunggu minimal 20 tahun lagi event ini digelar di Indonesia, dan belum tentu diselenggarakan di Sumatra Selatan. Oleh karena itu, saya harapkan semua kekuatan di Sumatra Selatan bersatu guna mensukseskan event olahraga ini, sehingga dampak positifnya dapat dirasakan masyarakat Sumatra Selatan, juga bangsa Indonesia umumnya,” kata Alex Noerdin, gubernur Sumatra Selatan dalam sebuah kesempatan.
Mengenai keuntungan menjadi penyelenggara event olahraga pernah juga disampaikan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Rita Subowo, dalam sebuah sambutannya pada sebuah event olahraga. Menurut dia, pelaksanaan berbagai event olahraga baik nasional, regional dan internasional di Indonesia, selama ini mampu memicu pertumbuhan ekonomi bagi daerah penyelenggara. Jadi, event olahraga tersebut tidak lagi murni untuk kepentingan olahraga belaka.
”Kegiatan-kegiatan besar khususnya dalam bidang olahraga, memberikan dampak yang sangat baik dalam menggerakkan sektor perekonomian daerah penyelenggaranya,” kata Rita.
Pernyataan Alex Noerdin maupun Rita Subowo ini sebenarnya sudah dirasakan masyarakat Sumatra Selatan. Misalnya dampak penyelenggaraan PON 2004 lalu, yang mana memberi dampak pada pembangunan di Sumatra Selatan, seperti yang sangat terasa di Palembang dan Musi Banyuasin. Lalu investor datang berduyun-duyun ke Sumatra Selatan, buat menanamkan modalnya dalam berbagai sektor ekonomi.
Pelabuhan International Tanjung Api-Api
Alex Noerdin dengan gamblang menjelaskan dampak jauh dari penyelenggaraan SEA Games 2011 yakni terbangunnya pelabuhan international Tanjung Api-Api di Banyuasin, Sumatra Selatan.
Teorinya sederhana. Dengan digelarnya event international ini, maka Sumatra Selatan akan menjadi sorotan dunia international. Saat disorot itu, Sumatra Selatan akan dilihat dari berbagai sisi. Bukan hanya dari sisi profesionalitas dalam menyelenggarakan event olahraga, juga segala potensi yang ada. Baik potensi wisata maupun sumber daya alam di Sumatra Selatan, seperti migas, pertambangan, serta agrobinis.
Maka, dengan melihat khususnya potensi sumber daya alam yang besar itu, sangat diyakini para investor akan berbondong-bondong datang ke Sumatra Selatan buat bekerjasama dalam mengelolanya. Konsekwensi dari aktifitas itu dibutuhkan sebuah pelabuhan besar, pelabuhan international, buat menyebarkan hasil eksploitasi tersebut ke berbagai penjuru dunia. Nah, pelabuhan international Tanjung Api-Api menjadi solusinya.
Siapa yang akan menginvestasi pelabuhan tersebut? Dengan besarnya aktifitas pengelolaan sumber daya alam tersebut, maka diyakini pelabuhan ini akan mendatangkan banyak keuntungan. Melihat potensi itu, investor pun tertarik buat membangun dan mengelola bersama pemerintah Sumatra Selatan.
Jika ini berlangsung maka apa yang pernah diraih kerajaan Sriwijaya dengan pelabuhan besarnya di Banyuasin, akan terwujud. Sebab berdasarkan catatan seorang pengelana dari Cina di masa kerajaan Sriwijaya yakni I-Tsing, disebutkan ada sebuah daerah pelabuhan besar antara kerajaan Melayu (Jambi) dan Sriwijaya (Palembang). Daerah yang ditulis I-Tsing itu namanya Mohosin yang ramai dengan kapal-kapal niaga. Dari nama dan letak geografisnya kemungkinan besar Mohosin adalah Banyuasin.
Apa Itu Mungkin?
Ada sejumlah pihak meragukan event olahraga macam SEA Games 2011 mampu mendorong terbangunnya pelabuhan international Tanjung Api-Api. Keraguan mereka itu umumnya didasarkan pembangunan pelabuhan tersebut membutuhkan dana yang sangat besar. Mendatangkan investor dengan dana besar cukup sulit bila Sumatra Selatan hanya bermodalkan data mengenai sumber alamnya. Investor besar umumnya juga akan melihat dari sisi keamanan, infrastruktur, dan sumber daya manusianya.
Sebagai sebuah pendapat, keraguan tersebut sah-sah saja. Apalagi sampai saat ini di Indonesia belum ada pembangunan pelabuhan international yang mengandalkan investor dibandingkan dana pemerintah.
Namun, bila belajar dari Afrika Selatan yang mampu menyelenggarakan dengan sukses event sepakbola international yakni Piala Dunia 2010, tampaknya pemerintah maupun masyarakat Sumatra Selatan harus optimistis dengan target atau dampak positif dari penyelenggaraan SEA Games 2011.
Awalnya, banyak pihak meragukan kesiapan Afrika Selatan dalam menyelenggarakan Piala Dunia 2010. Selain besarnya biaya yang harus dikeluarkan, juga kondisi infstrastruktur maupun stabilitas ekonomi dan keamanan Afrika Selatan yang belum begitu mapan.
Mereka yang meragukan itu, membandingkan Afrika Selatan dengan Mesir atau Maroko yang menjadi pesaing dalam proses bidding Piala Dunia 2010. Tetapi FIFA melalui sekjennya Sepp Blatter selalu menanamkan optimisme tinggi bagi Afrika Selatan. Bagi Blatter segala sesuatu itu adalah mungkin terjadi.
Akhirnya keyakinan Blatter itu terbukti. Saat ini berbagai investor datang buat menanamkan modalnya di Afrika Selatan. Afrika Selatan pun mulai sejajar dengan negara-negara yang lebih maju di benua hitam tersebut, seperti Maroko dan Mesir.
Bukan itu saja keuntungan Afrika Selatan, investasi buat membangun infrastruktur sebesar Rp46 triliun—pemerintah Afrika Selatan hanya sanggup setengahnya—dengan cepat ditutupi di negeri yang sebelumnya dikenal sebagai negara “konflik rasial”. Mereka mendapatkannya dari hak siaran pertandingan, pariwisata, perdagangan, dan lainnya.
Memang, sejauh ini, seperti yang diungkapkan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Rita Subowo, banyak orang hanya melihat event olahraga seperti Piala Dunia, Olimpiade, ASEAN Games atau SEA Games sebagai ajang olahraga semata. Padahal dibalik itu semua itu, aspek ekonomi sangat menggiurkan, sehingga tidak heran kalau negara-negara berebut untuk menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan event olahraga international tersebut.
Korea Selatan, sebelum Piala Dunia 2002 yang diselenggarakan bersama Jepang, mungkin belum begitu dikenal rakyat Indonesia. Tapi berkat ditampilkan sosok Korea Selatan di layar televisi di seluruh penjuru dunia, mereka selain mendapat keuntungan dari hak siar, juga aspek pariwisata mendapatkan publikasi massif, serta citra positif tentang Korea Selatan.
Potensi Pariwisata
Sebenarnya, berdasarkan pengalaman negara-negara penyelenggara event olahraga international seperti yang diuraikan di atas, bukan hanya pelabuhan international Tanjung Api-Api yang dapat diwujudkan Sumatra Selatan, juga dari sisi pariwisata akan diraup banyak keuntungan, dalam penyelenggaraan SEA Games 2011.
Potensi wisata di Sumatra Selatan, sangatlah besar, khususnya wisata sejarah. Bukti-bukti keberadaan kerajaan Sriwijaya banyak terdapat di Palembang. Meskipun tidak ada bukti berupa bangunan kerajaan atau candi, tapi prasasti-prasasti yang menunjukkan Palembang merupakan pusat pemerintahan Sriwijaya sudah menjadi potensi besar buat menjadi objek wisata international.
Sebagaimana diketahui, Sriwijaya merupakan kerajaan besar yang pernah berjaya di Asia, khususnya di Asia Tenggara. Banyak pengaruh, baik dari garis keturunan, budaya, maupun bangunan fisiknya sisa kerajaan Sriwijaya yang menyebar ke Asia Tenggara. Mulai dari Singapura, Malaysia, Thailand, hingga ke Philifina.
Para pendukung atlet dari setiap negara itu, tentunya bukan hanya ingin melihat berbagai event olahraga yang dilangsungkan di Sumatra Selatan, mereka juga ingin mengetahui soal pusat kerajaan Sriwijaya yang banyak memangruhi kebudayaan mereka. Misalnya wisatawan dari Malaysia, termasuk para atletnya, dipastikan akan mengunjungi Bukitsiguntang, yang diyakini sebagai simbol asal-usul leluhur mereka yakni Parameswara.
Sementara wisatawan dan atlet dari Thailand, akan melihat lokasi prasasti kerajaan Sriwijaya, yang pernah dikenal sebagai pusat pendidikan agama Budha, yang mana pengaruhnya sampai sekarang masih mengakar bagi masyarakat gajah putih tersebut. Tidaklah heran, bandara international mereka dinamai Swarna Bhumi, sebagai penghormatan terhadap kejayaan Sriwijaya.
Selain itu, bukti-bukti kejayaan kerajaan Islam Palembang dan Kesultanan Palembang Darussalam juga menjadi potensi wisata yang besar. Sebab kaum muslim yang berkembang di Singapura, Malaysia, Brunei, Thailand Selatan, maupun Philifina Selatan, sangat terkait dengan perkembangan Islam di Palembang dan sekitarnya. Tak heran wisatawan dan atlet dari sejumlah negara itu akan berbondong-bondong mengunjungi objek wisata yang terkait dengan kerajaan Islam Palembang dan Kesultanan Palembang Darussalam.
Bahkan, potensi patung-patung artefak di Pagaralam dan Lahat, sebagai bukti kejayaan Tradisi Megalitik Pasemah Bukitbarisan sekitar 2.000 tahun Sebelum Masehi, juga akan didatangi para wisatawan dari negara Asia Tenggara. Sebagian menyakini, nenek-moyang bangsa Asia Tenggara pernah berjaya di Bukitbarisan, sejalan dengan kebudayaan di Tiongkok, Mesir, Persia, maupun di Eropa Selatan.
Objek wisata lainnya, seperti kehidupan di sekitar sungai Musi, keindahan alam, juga menjadi potensi yang besar.
Yang tak kalah pentingnya, kuliner dan kain songket, diyakini akan membuat para wisatawan akan menghabiskan banyak uangnya buat berbelanja. Masakan Palembang seperti pempek, pindang ikan, ikan pepes tempoyak, memiliki kesamaan rasa dengan masakan wong Malaysia, Brunei, Thailand, dan Vietnam. Mereka pun dipastikan akan banyak menikmati masakan ini.
Kain songket yang diklaim sejumlah negara sebagai budaya mereka, juga menjadi daya tarik tersendiri. Mereka jelas akan memburu motif-motif klasik yang membuat di masa lalu Palembang terkenal dengan kain songketnya.
Ratusan hingga miliaran rupiah dipastikan uang mengucur ke sektor kuliner dan kain songket ini.
Maka, kunci mencapai target seperti diharapkan pemerintah maupun masyarakat Sumatra Selatan atas event SEA Games 2011 itu, tidak ada kata lain selain optimistis, yang diwujudkan dalam persatuan atau kekompakan. Baik saat membangun infrastuktur maupun dalam menjaga keamanan dan pelayanan. [*]
