23.01.2010 19:39:14 WIB
Oleh FLORENCIA MARCELINA RAMADHONA
"Saya sudah lebih dahulu membaca naskah novel Angin sebelum menjadi novel, menurut saya alur cerita dalam novel ini cenderung meloncat-loncat, dan juga Toton sebagai penulis terlalu panjang dalam penjabaran sebuah istilah dalam isi cerita novel ini," ujar Arif Ardiansyah dalam pemaparannya sebagai narasumber pada diskusi novel "Angin" karya Toton Dai Permana, Sabtu (23/01/2010), di Aula STISIPOL Candradimuka, Jalan Swadaya, Jalan Basuki Rahmat, Palembang.
"Namun pada novel ini ada juga sebuah kritik terhadap sistem kewartawanan, bukan hanya persoalan kemanusiaan dari kehidupan seniman atau wartawan," tambahnya.
Sementara dalam sudut pandang Rapanie Igama, narasumber yang lain, mengatakan novel "Angin" lebih cenderung memiliki gaya penulisan skenario sinetron. "Toton adalah penulis sekenario sinetron, tidak aneh jika gaya penulisannya lebih terasa seperti mononton sinetron," ujar Rapanie.
"Cerita yang mengalir, dangan gaya cerita deskripif, Toton dapat membuat pembaca seperti langsung melihat kejadian dalam cerita," tambahnya.
Rapanir juga mengatakan bahwa 90% isi cerita "Angin" adalah cerita yang menyenangkan.
Ismail Djalili, seorang budayawan, mengatakan,"Saya harap novel ini dapat menjadi motivasi bagi teman-teman yang lain untuk berkarya."
"Saya minta seniman si Sumsel dapat saling mendukung karena yang saya rasakan seniman kita mempunyai kecenderungan tidak saling mendukung atas karya seniman lain," tambahnya.
