26.07.2011 01:18:29 WIB
JUDUL : Akulah Musi
ISBN : 978-979-97642-2-5
EDITOR : Ahmadun Yosi Herfanda, Anwar Putra Bayu, Isbedy Stiawan
PENERBIT : Dewan Kesenian Sumatera Selatan, Palembang
CETAKAN : I, 2011
TEBAL : 624 halaman
UKURAN : 13,5 x 20 cm
Musi bukan sekadar metafor kebudayaan sungai, karena melahirkan berbagai peradaban, khususnya kebudayaan Melayu di Palembang. Dari segi histori, Musi merupakan sungai terbesar di Pulau Sumatera yang menyimpan catatan keagungan Sriwijaya, kerajaan maritim terbesar di Nusantara. Sungai Musi merupakan salah satu peradaban asli Indonesia.
Ungkapan pikiran dan perasaan manusia tentang Sungai Musi kembali diabadikan. Kali ini dalam bentuk kumpulan puisi yang terhimpun dalam buku Akulah Musi yang diluncurkan pada pembukaan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) 5 atau International Poet Gathering, 16-19 Juli 2011 di Palembang.
Buku setebal 624 halaman, ukuran 13,5 x 20 cm, dengan sampul berwarna merah maron dan ilustrasi cover lukisan seniman Amri Yahya diterbitkan Dewan kesenian Sumatera Selatan (DKSS). Walaupun terdapat satu huruf ”A” yang hilang pada leher buku, yakni kata NUSANTRA seharusnya NUSANTARA, tentu tidak bisa langsung dikaitkan dengan pengerjaan yang tergesa-gesa, apalagi sebatas proyek. Buku yang diproduksi dengan anggaran kesenian Sumatera Selatan, dikabarkan ada yang dijual dengan harga Rp50.000,- hingga Rp100.000,- per eksemplar. Idealnya, buku tersebut dibagikan secara gratis ke perpustakaan dan dewan kesenian kabupaten/kota untuk meningkatkan minat baca masyarakat Sumsel
Setelah ditafsir berdasarkan hermeneutika Paul Ricoeur lewat bukunya De l’Intrepretation (1965), ruh dari buku kumpulan puisi Akulah Musi bertolak dari puisi T. Wijaya, penerima Anugerah Batanghari Sembilan tahun 2010 kategori bidang sastra, berjudul ”Oi Melayu, Akulah Sungai Musi”. Bukan seperti yang diungkap pada pengantar bahwa buku ini diterbitkan melalui kurasi dan pengeditan, di mana sebagian besar maknanya mengungkapkan Sungai Musi. Intinya, buku puisi tersebut bersumber dari satu puisi, yakni Oi Melayu, Akulah Sungai Musi, kemudian ditambahkan puisi-puisi ”rekomendasi” tiga editor hingga menjadi kumpulan puisi. Sangat disayangkan, editor dan penerbit lupa menyebutkan apalagi sampai memenggal puisi T. Wijaya yang menjadi sumber inspirasi judul buku tersebut. Untuk memaknainya, cukup dengan menganalisis satu puisi saja.
Oi Melayu, Akulah Sungai Musi
Duhai batu jadilah Sungai Musi. Duhai lumpur,
jadilah Sungai Musi. Duhai pabrik, jadilah Sungai
Musi. Duhai matahari, jadilah Sungai Musi. Duhai
mobil, jadilah Sungai Musi. Duhai parang, jadilah
Sungai Musi. Duhai pempek, jadilah Sungai Musi.
Duhai hotel, jadilah Sungai Musi. Duhai kekasih,
jadilah Sungai Musi
Sungai. Sungai. Sungai. Sungai. Ratusan sungai.
Ribuan rumah panggung. Jutaan kepala. Miliaran
tenaga mencangkul sawah, berkebun, menjaga
sumur minyak, melindungi perempuan-perempuan
berparas kuning. Memeluk lelaki-lelaki berambut
ombak. Membesarkan anak-anak yang pandai
berperahu.
Oi dada, jadilah Sungai Musi. Oi kepala, jadilah
Sungai Musi. Oi kaki, jadilah Sungai Musi. Oi mulut,
jadilah Sungai Musi. Oi rahim, jadilah Sungai Musi.
Oi mata, jadilah Sungai Musi. Oi bulu-bulu, jadilah
Sungai Musi.
Pulang, jadilah Sungai Musi. Pergi, jadilah Sungai
Musi. Tidur, jadilah Sungai Musi. Bangun, jadilah
Sungai Musi. Malam, jadilah Sungai Musi. Siang,
jadilah Sungai Musi. Gunung, jadilah Sungai Musi.
Bukit, jadilah Sungai Musi. Hutan, jadilah Sungai
Musi. Pantai, jadilah Sungai Musi. Sampah, jadilah
Sungai Musi.
Oi Arab, jadilah Sungai Musi. Oi Tionghoa, jadilah
Sungai Musi. Oi India, jadilah Sungai Musi. Oi
Minang, jadilah Sungai Musi. Oi Jawa, jadilah
Sungai Musi. Oi Sunda, jadilah Sungai Musi. Oi
Batak, jadilah Sungai Musi. Oi Bugis, jadilah Sungai
Musi. Oi Bule, jadilah Sungai Musi.
Oi Melayu, akulah Sungai Musi.
Semua hidup. Seperti Tuhan dengan ratusan ribu
mata airnya. Seperti Tuhan menjatuhkan miliaran
kali hujannya. Tapi, jangan kau makan sendirian
ikan seluang itu. Kita raja di bawah raja.
(T. Wijaya, Akulah Musi, 2011:462-463)
Bait pertama sudah memaparkan permainan kata berulang-ulang. Tapi tetap satu persoalan pada awalnya. ”Jadilah Sungai Musi duhai lumpur, pabrik, matahari, mobil, parang, pempek, hotel.” Tersirat bujuk rayu sesorang kepada kekasih. Dalam hal ini kekasih yang dimaksud bisa kekayaan sumber daya alam dan mineral yang senantiasa dieksploitasi berulang kali untuk kepentingan pribadi dan golongan tertentu.
//Perempuan-perempuan berparas kuning/ memeluk lelaki-lelaki berambut ombak/ Membesarkan anak-anak yang pandai berperahu//. Bait ini menunjukkan bahwa Musi bukan sekadar sungai, tapi menjadi rangkaian peradaban manusia dan kebudayaan asli Nusantara. Oposisi biner antara perempuan dan lelaki merupakan simbol reproduksi peradaban Musi untuk generasi masa depan (anak-anak yang pandai berperahu). Dapat ditafsirkan bahwa Sungai Musi sangat penting di masa lalu, tapi jauh lebih penting jika Sungai Musi bisa dimanfaatkan untuk masa kini dan masa depan.
Bangsa-bangsa di dunia, seperti Arab, Tionghoa, India, Minang, Jawa, Sunda, Batak, Bugis, bahkan orang bule pun, dihadapkan dengan pengakuan orang-orang yang hidup di sepanjang aliran Sungai Musi. Fatis ”oi” merupakan satu seruan menantang, khususnya ditujukan kepada rumpun Melayu. //Oi Melayu, akulah Sungai Musi// Artinya, kebudayaan di peradaban Sungai Musi telah banyak diklaim oleh bangsa lain. Karena itu, perlu disyukuri, //Tuhan dengan ratusan ribu mata airnya// memberi anugerah //Seperti Tuhan menjatuhkan miliaran kali hujannya// menjadi sungai yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. //Tapi, jangan kau (penguasa) makan sendirian ikan seluang itu// sebab //Kita raja di bawah raja//. Maksudnya, rakyat memiliki kekuasaan tertinggi, bukan penguasa.
Sungai Musi terletak di Kota Palembang, ibu kota Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia dengan panjang sungai sekitar 750 km. Akan tetapi, penelitian yang dirangkum dalam buku Jelajah Musi tahun 2010, panjang Sungai Musi sekarang hanya 720 km, terjadi penyusutan 30 km. Jika terus ditimbun, dikeruk hasil buminya, lambat laun panjang Sungai Musi semakin berkurang. Dampaknya, peradaban dan kebudayaan asli sepanjang aliran Sungai Musi akan terkikis. Untuk itu, penguasa dan rakyatnya wajib menjaga sungai terbesar di Pulau Sumatera itu.
Sumber mata air Sungai Musi dari Kepahiang, Bengkulu, dan bermuara di sembilan anak sungai besar, yakni Sungai Komering, Rawas, Batanghari, Leko, Lakitan, Kelingi, Lematang, Semangus, dan Ogan. Maka dari itu, peradaban Sungai Musi sering disebut Batanghari Sembilan. Sungai Musi membelah Kota Palembang menjadi dua bagian kawasan, yaitu Seberang Ilir dan Seberang Ulu. Selain Sungai Musi, banyak sungai kecil di kota Palembang dengan kehidupannya, sehingga bangsa Eropa menjuluki Palembang dengan sebutan Venesia dari Timur. Julukan lain Kota Palembang versi Belanda, yakni de stad der twintig eilanden atau Kota Dua Puluh Pulau. Pulau-pulau kecil itu terbentuk karena anak-anak sungai yang memotong lembah, di antaranya Pulau Kemaro dan Pulau Kerto.
Sehubungan dengan itu, Sungai Musi memberikan satu watak khas penduduk yang tinggal di sepanjang alirannya. Tenang di permukaan, tetapi menghanyutkan di bawahnya. Selain itu, arus pasang surut yang berbeda di permukaan sungai memengaruhi watak kontroversial penduduk yang lemah lembut, namun dapat bertindak di luar dugaan. Inilah stereotype masyarakat sepanjang aliran Musi yang dimaksud T. Wijaya.
Sebuah analogi yang kerap bersandingan dengan peradaban Sungai Musi, yakni Jembatan Ampera sebagai ikon penghubung Kota Palembang yang terbelah menjadi dua bagian. Jembatan awalnya dibanguan dan diberi nama ”Proyek Musi” sehingga sebagian masyarakat zaman bingen menyebut Jembatan Ampera dengan ”Proyek Musi”. Proyek Musi sesungguhnya bukan hanya sebatas jembatan, tapi harus lebih ditekankan pada pelestarian nilai-nilai budaya di aliran Sungai Musi hingga masa yang akan datang.
Terkait dengan buku Akulah Musi, disebutkan dalam pengantar editorial, bahwa buku tersebut diklaim menghimpun puisi-puisi paling mutakhir di Nusantara. Tentu sangat tidak relevan, karena subjektif dan untuk kepentingan tertentu. Dari 174 penulis dengan 310 puisi, terdapat puisi yang kadarnya belum bisa dikatakan standar. Kreativitas penyair nobody (bukan siapa-siapa) yang dihindari saat seleksi, mungkin jauh lebih terhormat dari bahasa editori yang terlibat dalam penyusunan buku ini. Boleh-boleh saja, buku Akulah Musi dikatakan sebagai kumpulan puisi paling mutakhir di Nusantara. Barangkali kemutakhirannya terletak pada kecenderungan menjadikan puisi sebagai proyek. Terlepas dari itu, kehadiran buku Akulah Musi di tengah masyarakat, diharapkan dapat menjembatani kebangkitan kritik sastra yang belum banyak diminati generasi muda. Dengan adanya kritik, kesusatraan Indonesia akan jauh lebih mutakhir. (Muhammad Azhari)
(Dimuat di rubrik Citra Budaya Harian Pagi Sumatera Ekspres, Minggu 24 Juli 2011)
