Budaya

Dari Kaligrafi Hingga Surealis

coba

27.11.2010 19:32:37 WIB

SEKITAR 50 lukisan koleksi pilihan Galeri Nasional (Galnas) Indonesia dan Perupa Sumsel dipamerkan di Hall IDA Bayumi, Kampus Universitas Ida Bajumi (IBA), Jalan Mayor Ruslan, Palembang. Pameran yang berakhir hari ini Sabtu (27/11/2010) dimulai sejak Senin (22/11/2010) lalu.

Pameran yang bertajuk “Aura Musi” dikunjungi peminat seni lukis, rata-rata 100 per hari. Baik pekerja seni, pelajar, mahasiswa, atau umum. Lukisan ini yang dipamerkan ini dikurator oleh Agus Burhan dan Erwan Suryanegara.

Khusus lukisan dari perupa Sumatra Selatan, karya yang ditampilkan sangat beragam dalam menandai “Aura Musi”. Mulai lukisan kaligrafi karya Usha Kishmada yang berjudul “Doa Nabi Adam” hingga lukisan surealis karya Fariz Fahlevi berjudul “Tak Lagi di Musi”.

Menariknya para perupa muda di Sumatra Selatan macam Fariz Fahlevi, lebih berani mengekspresikan diri dibandingkan dari perupa lebih tua usianya.

Lukisan “Tak Lagi di Musi” ini merupakan suatu rekaman bagaimana orang-orang di tepian sungai Musi, yang dulunya langsung membuang hajat ke sungai Musi di atas jamban, kini harus melalui wc di rumah. Padahal faktanya kotoran manusia itu akhirnya dibuang juga ke sungai Musi. Sebuah “akal-akalan” agar sungai Musi terlihat indah.

Beragam aliran dan objek lukisan ini menunjukkan keberagaman cara pandang para perupa memandang sungai Musi, yang memang banyak melahirkan berbagai pemikiran. Almarhum Amri Yahya sendiri, dalam pameran ini, ditampilkan karyanya berjudul “Lebak” yang dilukisnya tahun 1963. Lebak merupakan dataran rendah yang banyak terdapat di sekitar sungai Musi. Di lebak ini juga banyak terdapat penduduk yang menetap, yang memiliki tradisi yang sedikit berbeda dengan masyarakat tepian sungai Musi. Pada masa lalu masyarakat yang menetap di lebak sangat dimarginalkan oleh masyarakat perkotaan, yang sebagian besar menetap di tepian sungai Musi.

Berikut daftar lukisan yang dipamerkan itu:

Koleksi Galeri Nasional Indonesia:

1. Basuki Abdullah tahun 1978 Bercerita Kakak dan Adik,
2. S. Sudjojono tahun 1935 tentang Ibu Menjahit,
3. Affandi tahun 1974 tentang Bunga Matahari,
4. Haryadi Selobinangun tahun 1962 tentang Potret Diri,
5. Sudarso tahun 1977 tentang Wanita Desa sedang Duduk,
6. Sudjana Kerton tahun 1987 tentang Sendja,
7. Achmad Sadali tahun 1978 tentang Delta,
8. Popo Iskandar tahun 1975 tentang Kucing Hitam,
9. AD Pirous tahun 1990 tentang Beratapan Bumi dan Langit Amparan,
10. Widayat tahun 1954 tentang Gunung Merapi Wono Welo,
11. Fadjar Sidik tahun 19977 tentang Dinamika Keruangan,
12. O.H.Supono tahun 1963 tentang Pemotongan Hewan,
13. Abas Alibasyah tahun 1987 tentang Patung Tanibar,
14. Amri Yahya tahun 1963 tentang Lebak,
15. Sapto Hudoyo tahun 1954 tentang Gadis Bali,
16. Yusuf Effendi tahun 1961 tentang Mainan,
17. Aming Prayitno tahun 1974 tentang Rampongan,
18. Suwadji tahun 1977 tentang Topeng Primitif Merah,
19. Danarto tahun 1963 tentang Si Hitam dan Si Putih,
20. Mulyadi W tahun 1989 tentang Perjalanan,
21. Edi Sunaryo, 1984, tentang Ritme,
22. Hardi tahun 1988 tentang Pedagang Asongan,
23. I Gusti Ngurah Nurata tentang The Search of Place,
24. Agus Kamal tahun 1983 tentang Anak Ayam dan Patung,
25. Boyke Aditya Krishna tahun 1991 tentang Dialog,

Perupa Sumsel

1. Usa Kishmada tahun 2010 tentang Doa Nabi Adam,
2. Tata Sarmanta tahun 2009 tentang Cemara Jajar,
3. Indra Kesuma tahun 2010 tentang Ketika Pagi Mulai,
4. Armada MS,Pb tahun 1998 tentang Mei 98,
5. Muhammad Natsir tahun 2008 tentang Deja vu,
6. Heru Andriansyah tahun 2009 tentang Mengatur Strategi,
7. Yulis Armita tentang Kesia-siaan,
8. Suparman S, tahun 2009 tentang Misteri Pulau Kemarau,
9. Askanadi, tahun 2009 tentang Untitle,
10. Heri Mulyadi tentang Awan Merah,
11. Ronald Apriyan tahun 2010 tentang Lonely Judge,
12. Rudi Maryanto tahun 2006 tentang Sungai Ku yang Hilang,
13. Emilson Saparudin tentang Permukiman Pinggiran,
14. Nawir Mc Pitt tahun 2007 tentang Masjid Tepi Sungai,
15. Rahman R. Hambour tahun 2010 tentang Banjir Bukan Penghalang,
16. Edy Fahyuni tahun 2009 tentang Bahayo Nang,
17. Amrul Hiban tahun 2009 tentang Kebiasaan di Dusun,
18. Fajar Agustono tahun 2010 tentang Satu Kita Kalah, Bersatu Kita Menang,
19. Baharizki Talibratta tahun 2009 tentang Ikan-ikan,
20. M. Azizi Al Majid tahun 2010 tentang Di bawah Jembatan Ampera,
21. Fariz Fahlevi Akbar tahun 2009 tentang Tak Lagi di Musi,
22. Halimatus Sa’diyah tahun 2010 tentang Misteri Pulau Kemarau,
23. Tiara Putri Utami tentang Perahu Kajang.
24. Suharno….
25. D’maah….

Komentar


Berita Terkait