15.04.2010 16:25:07 WIB
Catatan TAUFIK WIJAYA
Senja itu
Flamboyan berguguran
Seorang dara memandang
Terpukau ...
Satu-satu
Daunnya berjatuhan
Berserakan di pangkuan bumi..
Kutipan lagu “Bunga Flamboyan” milik Bimbo itu, seperti menggambarkan kondisi para pekerja seni dan budaya yang ada di Sumatra Selatan saat ini. Setelah Gahtmyr Senen yang berpulang beberapa bulan lalu, giliran budayawan dan sejarawan Djohan Hanafiah yang berpulang.
Djohan Hanafiah meninggal dunia di RSCM Jakarta, Kamis (15/04/2010) sekitar pukul 01.04, lantaran penyakit jantung. Djohan Hanafiah sering disebut sebagai bapak "penggali sejarah dan budaya Palembang", sebab dialah sosok yang banyak menulis artikel, buku, serta menjadi narasumber mengenai sejarah dan budaya Palembang.
Salah satu teori Djohan Hanafiah yang sudah diterima di kalangan akademisi yakni soal “Palembang bunting”. Tenryata ujaran “Palembang bunting” itu menunjukkan akar budaya Palembang yang arti negatifnya buntung atau tidak selesai, merupakan perwujudan dari perpaduan dua kebudayaan yakni Melayu dan Jawa.
Djohan dilahirkan di Palembang pada 5 Juni 1939 dari pasangan Raden Muhammad Ali Amin dan Raden Ayu Ning Fatimah.
Pada tahun 2004 lalu, Djohan menerima penghargaan Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Megawati Soekarnoputri.
Dalam pertemuan terakhir dengan saya, akhir Maret 2010 lalu, di rumahnya di Jalan Cipto Palembang, saat sakit jantung menyerangnya, Djohan menegaskan soal rencana kami sebelumnya yakni membuat Institute Djohan Hanafiah. Institute ini berupa perpustakaan atau pusat data mengenai semua pemikiran dan karya Djohan Hanafiah.
“Kalau tidak ada tempat, rumah ini dapat dijadikan kantornya,” kata Djohan.
Selain soal lembaga tersebut, Djohan Hanafiah, saya dan beberapa teman dari Balai Arkeologi Palembang seperti Nurhadi Rangkuti, Retno Poerwati, Erwan Suryanegara, Rahman Zeth, serta lainnya tengah mempersiapkan lembaga Srivijaya Society. Organisasi ini menjadi pusat informasi dan pendidikan mengenai sejarah dan budaya Sriwijaya (Srivijaya).
Walikota Palembang Eddy Santana Putra sangat tertarik dan mendukung pembentukan organisasi ini. Tapi, lantaran kondisi kesehatan Djohan Hanafiah saat itu memburuk, pembahasan lebih lanjut tertunda. Dalam kondisi sakit itu, Djohan juga menyebutkan Aman Ramli Hasan Basri bersedia menjadi anggota dewan penasehat organisasi tersebut.
Pesan terakhir sebelum Djohan pergi selamanya, ketika saya dimintanya menggantikan dirinya sebagai narasumber dalam sarasehan pendidikan karakter yang diselenggarakan Dikti sepekan lalu.
Setelah kegiatan itu, ketika saya dan budayawan Jalaluddin, berbincang di lobi hotel Swarna Dwipa Palembang, Djohan Hanafiah menelepon, “Siapkanlah pertemuan buat mambahas Srivijaya Society, minggu depan kita bahas. Senin (12/04/2010) Mamang operasi, jadi antara Jumat atau Sabtu Mamang pulang ke Palembang, Minggu kita bisa rapat. Salam buat Pak Jalal (Prof. Dr. Jalaluddin),” katanya.
