11.07.2011 15:05:46 WIB
Sajak T. WIJAYA
Aku tiba-tiba berada di ujung abad ini di dalam perahu istriku. Pasir menumpuk di ujungnya. Melaju, melewati bayangan rumah panggung, yang menyisakan gambar-gambar tua di dinding. Pasir melompati ruang tidur pemilik terakhir rumah panggung. Mengeras. Istriku menghilang. Perahunya terjual di bawah jembatan, yang di masa lalu orang sekampung mencucinya.
Ikan-ikan yang gagah, yang lolos dari hadangan pasir. Mereka merantau. Memakan perahu, memakan kapal, memakan hotel, memakan orang-orang, memakan nasib buruk, dan berakhir dengan membangun kubur yang di atasnya dipenuhi pasir. Bukan sia-sia. Pembangunan yang melahirkan pasir, kata istriku yang terus merindukan perahunya.
Istriku kemudian menulis dadaku di ujung abad ini, ketika malam selanjutnya aku membuat perahu:
Pohon duren biru, buahnya kuning. Pohon duku biru, buahnya putih. Pohon rambutan biru, buahnya juga putih. Kelapa sawit biru, minyaknya kuning. Pohon karet biru, getahnya putih. Pohon-pohon biru, pohon-pohon pasir. Pohon-pohon mengeras. Kayuagung.
2011
