Pariwisata

Getah Nyatu yang Ajaib

coba

07.01.2010 01:15:10 WIB

Oleh JACKO AGUN

Cuaca mendung yang menyelimuti Kalimantan Tengah beberapa hari terakhir, tak menyurutkan niat kami menyambangi sentra kerajinan berbahan baku getah. Nyatu, demikian masyarakat dayak menyebutnya. Sedangkan bagi para pelancong yang sempat singgah di Kalimantan, tentunya sudah tidak asing lagi dengan aneka kerajinan yang dihasilkan dari getah tersebut.

Terletak di Kuala Kapuas, tepatnya di Desa Dahirang, Kab. Kapuas, Kalimantan Tengah, kami berhasil menemukan para perajin getah nyatu yang masih setia dengan profesi ini. Profesi yang mulanya hanya sebagai selingan saat tak turun ke sungai.

Namun, krisis ekonomi yang mendera pada tahun 1997 silam sempat membuat bidang usaha ini mengalami kemunduran. Harga bahan baku seperti minyak tanah dan getah nyatu melambung tinggi, memaksa banyak pengrajin gulung tikar alias bangkrut, lalu beralih ke bidang lain, sebagai buruh tani atau pun nelayan.

Hanya sedikit orang yang berani bertahan. Salah seorang diantaranya adalah kakek berusia 75 tahun. Dialah Tinga K Jaffar, pemilik ‘Toko Souvenir Antik’, sekaligus perajin yang masih eksis memproduksi aneka buah tangan berbahan baku getah nyatu.

Menurut penuturannya, usaha ini di rintis sejak tahun 70-an dengan modal sendiri dan dengan cara yang sangat sederhana. Penjualannya pun dilakukan secara ‘door to door’. Biasanya selesai produksi, dengan bersemangat ia akan menjajakannya ke pasar, ke rumah-rumah ataupun di emperan-emperan toko di Banjarmasin, ibukota Kalimantan Selatan. Banjarmasin dipilih karena jarak yang lebih dekat dengan kediamannya di Dahirang, ketimbang harus berdagang di Palangkara, Ibukota Kalimantan Tengah.

Aneka Kerajinan.

Hujan rintik yang mengiringi perjalanan kami seakan tak ingin berhenti. Pak Tinga, pemilik Toko Souvenir Antik ternyata telah menanti. Dengan ramah ia mempersilahkan kami berkeliling, untuk melihat aneka kerajinan yang ia jual.

Di teras depan terpampang aneka jenis tas yang berasal dari daun genjer, berpadu dengan aneka kerajinan kayu berbentuk kepala burung rangkong, serta tak ketinggalan beberapa buah tameng dari kayu dengan berbagai ukuran. Tak kalah seru dengan tampilan bagian luar, bagian dalam pun dipenuhi aneka kerajinan yang lebih mahal, seperti: mandau (baca: golok Dayak), sumpit, tombak, ukiran, tikar rotan hingga batu-batu alam, seperti kecubung dan merah delima.

Sementara disamping rumah, aneka kerajinan dalam ukuran lebih kecil di pajang indah di dindingnya. Dan, keriuhan pun terjadi di situ. Ternyata, para perajin yang kebanyakan orang tua, telah berkumpul dan sibuk mempersiapkan sesuatu. Yup, mereka sedang asyik bekerja rupanya.

Ada yang merendam getah di dalam kuali yang panas, ada yang mencampur pewarna dari Kesumba, ada yang menghaluskan getah dengan benda berbentuk silinder, ada yang memilin-milin getah dalam ukuran kecil dan ada pula yang mulai membentuk perahu dari beberapa bahan yang telah siap.

Kelihatannya, terampil betul mereka mengerjakan setiap detil yang dibutuhkan untuk membentuk perahu dalam ukuran sedang (baca: 30 cm). Miniatur perahu ini pula yang akhirnya diserahkan pada kami sebagai kenang-kenangan atas kunjungan tersebut.

Berbagai bentuk dapat di buat dari getah yang elastis ini. Namun, yang paling banyak di rangkai adalah miniatur perahu, rumah betang khas Kalimantan dan patung dayak dalam berbagai ukuran. Serta tak ketinggalan berbagai bentuk gantungan kunci.

Kesulitan Bahan Baku

Getah nyatu sebagai bahan baku pembuatan kerajinan ini berasal dari hutan-hutan lebat yang ada di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Namun seiring perkembangan, hutan di Kalimantan Selatan mengalami laju deforestasi yang begitu dahsyat, sehingga keberadaannya menjadi langka. Sedangkan di wilayah Kalimantan Tengah, pohon nyatu hanya tersisa di beberapa tempat, diantaranya di Pangkalan Bun, Kota Waringin Barat. Wilayah yang dulunya diperuntukan bagi kaum transmigan tersebut, ternyata memiliki kualitas getah yang amat baik. Setidaknya itu yang diamini Tinga K Jaffar.

“kita sudah coba dari banyak tempat, tapi getah dari Pangkalan Bun yang paling liat dan paling gampang untuk di bentuk. Itu yang membuatnnya sebagai getah terbaik” ungkap pria yang sehari-harinya selalu menggunakan peci khas Kalimantan.

Selain itu, pada tahap awal dulu, mereka juga sempat mencoba beberapa getah pohon yang dianggap bisa menggantikan getah nyatu, seperti; getah Nangka, getah Jelutung dan getah Karet. Namun hasilnya tetap tak sebaik getah nyatu.

Ketersediaan di habitat aslinya pun semakin berkurang, karena untuk mendapat getah dari pohon nyatu, ada korbanan yang harus di bayar, yakni dengan menebang pohon tersebut. Berbeda dengan pohon lain yang getahnya akan keluar saat dilakukan penyadapan. Sementara upaya budidaya yang sempat dilakukan lembaga penelitian tak kunjung membuahkan hasil, karena tumbuhan ini hanya mampu berkembangbiak di lingkungan aslinya.

Sebatang pohon Nyatu berumur 10 tahun, umumnya bisa menghasilkan 5 kg getah Nyatu. Dimana per kilonya dapat menghasilkan kerajinan, berupa miniatur perahu berukuran 30 cm sebanyak 5 buah.
Kelangkaan getah elastis berwarna putih ini pula yang menyebabkan harganya melambung. Di tingkat produsen, menurut Suparno (51) –-seorang perajin--, harganya mencapai Rp. 45.000 hingga Rp. 50.000 per kilogram.

Setiap bulanya, kebutuhan getah Nyatu di kalangan perajin sangat besar. Bagi Tinga K. Jaffar yang membawahi 24 orang perajin, biasanya mampu mengolah getah hingga 400 Kilogram per bulan pada dua tahun lalu. Berbeda dengan sekarang.

“Sekarang ini, setiap bulannya kita hanya mampu mengumpulkan 100 kilogram saja. Itupun sudah syukur. Abis.., keberadaannya semakin sulit,” lanjut Tinga.

Mencoba Bertahan

Tingginya harga bahan baku dan tidak menentunya stabilitas permintaan kerajinan getah nyatu di pasaran, memaksa Tinga, --yang juga keturunan Dayak Ngaju-- memutar otak, agar usaha ini tetap berjalan.

Salah satu resep jitu yang dianggap manjur adalah dengan menjual barang-barang kerajinan ini keluar kota, seperti Samarinda, Pontianak, Balikpapan, Jakarta hingga Bali. Biasanya souvenir ini cukup diminati wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

“pantas saja, miniatur kapal yang kubeli beberapa waktu lalu dari Balikpapan –Kalimantan Timur--, ternyata berasal dari buah tangan Pak Tinga dan teman-temannya” ujarku membathin.

Saat kutanya, apakah semua kerajinan yang berasal dari getah Nyatu emang dihasilkan dari Desa Dahirang ini. Dengan tanggap Pak Tinga menjawab; “satu-satunya penghasil kerajinan getah Nyatu pada mulanya berasal dari kampung ini. Bukan dari tempat lain. Kalau pun ada, pasti orang sini yang membawanya keluar.”

Selain itu, untuk menunjang usaha yang kata(nya) kurang mendapat sambutan dari pemerintah setempat dalam hal permodalan, ia pun kerap menyempatkan diri ikut pada acara-acara pameran baik yang berskala lokal maupun nasional.

Biasanya dengan cara ini, ia mempromosikan hasil kerajinannya kepada para pengunjung. Jika berminat, tak jarang pembeli akan membeli kerajinan ini dalam partai besar untuk kemudian di jual kembali.

Di tingkat eceran, ia menjual hasil produksinya dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp. 1.000 untuk gantungan kunci hingga Rp. 550.000 untuk perahu berukuran satu meter yang telah dibingkai kaca.

Jika dihitung-hitung, omset penjualannya selama sebulan bisa mencapai Rp. 30 juta. “Tapi itu masih pendapatan kotor, lho, karena belum dikurangi biaya produksi”, jawabnya. Dihitung-hitung, ia masih bisa mengantungi keuntungan 10 – 15 juta rupiah per bulan. Tapi, kondisi ini bukan harga mati, karena ada saat dimana hasil kerajinanan tidak mengalami penjualan yang maksimal.

Hal kecil yang bisa dijadikan pembelajaran dari usaha Pak Tinga selama puluhan tahun hidupnya, yakni ‘bekerja keras dan berusaha’. “Setiap kerja keras yang dilakukan, kalo di lakoni dengan sungguh-sungguh pasti mendatangkan kebaikan, kok!” imbuhnya dengan wajah yang sumringah.

Walau terkesan singkat, pertemuan kami selama dua jam itu telah memberi arti penting perihal perlunya menjaga tradisi. Keuletan Suku Dayak Ngaju memanfaatkan hasil hutan sebagai pendukung kegiatan ekonomi mereka, harusnya di dukung upaya pelestarian, sehingga pohon nyatu tetap lestari. (beritalingkungan.com)

Komentar


Berita Terkait