14.09.2011 20:29:23 WIB
Oleh Bachtiar Bae
Pekerja Sosial
Panas nian kemarau ini
rumput-rumput pun merintih sedih
Resah tak berdaya di terik sang surya
bagaikan dalam neraka.
Curah hujan yang dinanti-nanti
tiada juga datang menitik
Kering dan gersang menerpa bumi
yang panas bagai dalam neraka
Mengapa. Mengapa hutanku hilang
dan tak pernah tumbuh lagi
Mengapa. Mengapa hutanku hilang
dan tak pernah tumbuh lagi
PERADABAN manusia mengikuti sumber air. Mesopotamia yang disebut sebagai awal peradaban manusia berada di antara sungai Trigis dan Euphrates. Peradaban Mesir Kuno bergantung pada Sungai Nil. Termasuk pula Kerajaan Sriwijaya yang didukung Sungai Musi.
Sejumlah kota yang maju di dunia saat ini, seperti Rotterdam, London, Montreal, Paris, New York, Tokyo, Chicago, Shanghai, Hongkong, mendapatkan kejayaannya dikarenakan kemudahan aksesnya melalui perairan.
Ironinya, Kabupaten Musi Banyuasin, yang merupakan bagian penting Kerajaan Sriwijaya, justru pada 50 tahun terakhir, selalu mengalami krisis air setiap kali musim kemarau panjang. Mereka bagaikan hidup dalam “neraka”, seperti yang dialunkan The Rollies dalam lagu “Kemarau” di atas.
Tak heran, selama beberapa kali pergantian kepala daerah, baik di masa Orde Baru maupun reformasi, sebagian warga Musi Banyuasin menginginkan adanya perbaikan dalam penyediaan air bersih oleh pemerintah. Tragisnya, krisis air bersih ini masih dialami warga Musi Banyuasin pada tahun ini.
Terhadap persoalan ini, Alex Noerdin, saat menjadi Bupati Musi Banyuasin sangat memikirkannya. Tapi lantaran begitu banyak persoalan yang “tertinggal” di Musi Banyuasin, Alex Noerdin membangunnya secara bertahap. Misalnya mendorong pihak ketiga atau perusahaan swasta, membangun sumur bor di sejumlah dusun. Sementara pemerintah lebih memprioritaskan pembangunan fasilitas transportas seperti jalan dan jembatan, kemudian listrik, serta persoalan pendidikan dan kesehatan gratis.
“Lalu, saat saya menjadi Gubernur Sumsel, saya pun menitipkan program air bersih ini dengan Pahri Azhari yang saat itu menjadi wakil saya di Muba. Dia pun menyatakan siap. Ternyata itu tidak diwujudkannya,” kata Alex Noerdin, di hadapan sekitar 7.000 warga di lapangan sepakbola di Desa Transmigrasi B2, Kecamatan Tungkal Jaya, Kabupaten Musi Banyuasin, saat kampanye Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Dodi Reza Alex-Islan Hanura, Selasa (13/09/2011) kemarin.
Terhadap krisis air yang terus dialami warga Musi Banyuasin, Alex pun meminta Dodi Reza Alex untuk mengatasinya saat terpilih menjadi Bupati Musi Banyuasin Periode 2012-2017.
Selain persoalan air bersih, Alex juga mengatakan beberapa program yang dijalankannya belum berjalan lagi atau berhenti, seperti pembangunan jalan dan jembatan, pendidikan gratis, kesehatan gratis, dan listrik.
Pemimpin yang Benar, Pemimpin Peduli Air
Peradaban Mesir yang pernah berjaya itu, sangat bergantung pada Sungai Nil. Sungai Nil ini yang membuat kesuburan tanah di sekitar lembah sungai, sehingga sungai tersebut selalu dijaga dan dirawat keberadaannya oleh para pemimpin dan rakyatnya.
Selama ratusan abad, Sungai Nil yang mata air dari dataran tinggi Kilimanjaro di Afrika Timur, dan bermuara ke Laut Tengah, menghidupi jutaan rakyat Afrika, yang saat ini setidaknya berada Uganda, Sudan, Ethiopia dan Mesir.
Kejayaan Kerajaan Sriwijaya juga sangat ditentukan keberadaan Sungai Musi. Sungai Musi yang terdiri ratusan anak sungai, selain menjadi alat transportasi, juga sebagai sumber air bersih, dan pertanian. Berbagai tradisi dan budaya dilahirkan dari Sungai Musi, mulai pola pemukiman, sistem transportasi, perdagangan, hingga seni dan budaya.
Namun, dengan adanya perlakuan yang kurang baik dari manusia terhadap alam, khususnya hutan, sungai, dan rawa-rawa, keberadaan air di muka Bumi ini terganggu siklusnya. Pada saat tertentu air melimpah yang membuat banjir, pada saat lain air menghilang menjadi kering.
Menurut prediksi sejumlah ilmuwan, pada 2025, kelangkaan air akan lebih terlihat di negara miskin, yang mana sumber daya terbatas dan perkembangan populasi meningkat, seperti di Afrika, Timur Tengah, dan beberapa bagian di Asia.
Pada tahun yang sama, area urbanisasi yang besar akan membutuhkan banyak infrastruktur baru untuk menyediakan air yang aman dan sanitasi yang pantas. Hal ini diperkirakan akan menimbulkan konflik dengan pengguna air di pertanian, yang saat ini menggunakan sebagian besar air yang digunakan oleh seluruh manusia.
Beranjak dari sejarah pedaraban manusia yang terkait dengan air di atas, sangatlah heran bila ada pemimpin yang tidak peduli dengan air. Bahkan Kabah sebagai simbol utama agama Islam, tak lepas dari keberadaan Sumur Zam-Zam yang ditemukan Nabi Ibrahim di masa balita.
Kalau ada pemimpin yang tidak peduli dengan persoalan air, dapat dikatakan bukanlah seorang pemimpin.
Para pemimpin di Indonesia ke depan, termasuk pula di Kabupaten Musi Banyuasin, sangat dibutuhkan seorang pemimpin yang peduli dengan keberadaan air bersih. Jika dia telah gagal mengatasi persoalan itu, sebaiknya jangan lagi memimpin, sebab dia jelas akan membawa masyarakat Musi Banyuasin ke jurang kehancuran. Membunuh peradaban di Musi Banyuasin yang telah terbangun sejak di masa Kerajaan Sriwijaya. (*)
