Pariwisata

Berwisata ke Punti Kayu

coba

17.10.2009 17:59:49 WIB

Oleh YASIR AMRI

JIKA Anda sekeluarga ini berliburan pada akhir pekan ini, tidaklah salah berkunjung ke Punti Kayu, Palembang. Selain berwisata alam, kita juga dapat berwisata binatang atau hewan.

Punti Kayu yang berada di jalan Kol. H Burlian Km 6,5 Palembang, selain menjadi hutan lindung, juga sebagai kebun binatang. Para pengunjung dijamin akan merasakan segarnya panorama hutan pinus, dan rasa kagum pada beberapa satwa yang ada penangkaran.

Hijaunya pepohonan dan keanekaragaman binatang yang ada di Punti Kayu ini menjadi refleksi bagi pengunjung untuk menghilangkan kepenatan setelah seharian bekerja lalu lalang hidup di tengah kota Palembang, yang kian hari kian panas dan padat ini.

Dengan uang Rp4.000 untuk dewasa dan anak–anak Rp2.000 per orang, pengunjung sudah bisa masuk di kawasan wisata alam ini dan dengan Rp1.000 per orang pengunjung bisa langsung menyaksikan atau melihat 20 macam binatang yang berada di dalam penangkaran seperti buaya muara, landak, macan tutul, beruang, bebek, ular, ayam kalkun, elang bondol, elang garuda, malu-malu, si amang, kelinci, burung kuntul perak, kucing hutan, merpati, monyet, lutung simpei, orang utan, angsa, biawak dan burung kasuari.

Bukan hanya binatangnya saja yang menarik. Banyak tempat–tempat rekreasi dan permainan keluarga yang tidak kalah serunya seperti permainan outbound yang menantang nyali pengunjung, dengan peralatan yang lengkap untuk menjaga keselamatan pengunjung. Dari ketinggian kurang lebih 7 meter pengunjung bisa melunjur kebawah melewati selah–selah pohon pinus.

Pada hari – hari biasa tempat wisata alam ini terlihat sepi, namun bila hari libur seperti Minggu (18/10/2009) besok, ratusan pengunjung akan berkunjung. “Setiap hari, rata–rata 800 orang, dan apabila pada hari raya seperti Idul Fitri, dapat mencapai 2.000 orang per hari,” kata Antoni Puspo, Humas Punti Kayu, Sabtu (17/10/2009).

Taman wisata alam ini akan terus dirawat dan di lindungi karena ini adalah taman wisata alam satu–satunya yang ada di Palembang, yang mempunyai luas kurang lebih 50 hektare, dan letaknya tidak jauh dari pusat kota.

“Namun, untuk perkembangan wisata ini sangat sulit karena ini adalah area hutan lindung yang tidak bisa didirikan bangunan, yang dapat merusak tanaman yang ada di dalamnya,” lanjut Antoni Puspo.

Komentar


Berita Terkait