17.12.2009 08:30:13 WIB
Oleh SUMARDONI
HAMPIR semua orang mengenal Italia dan tak ada pengenalan khusus untuk tim ini. Setelah Brasil, Italia adalah tim yang paling banyak meraih gelar juara dunia, yakni empat kali. Piala Dunia 2006 di Jerman menjadi sukses terakhir mereka, meski pada saat itu Italia tak pernah menempati unggulan utama.
Setelah Euro 2008 dan Piala Konfederasi 2009 yang mengecewakan, fans Italia tak yakin pasukan Marcello Lippi bisa kembali mempertahankan gelar juara mereka. Sikap skeptis ini bisa menjadi senjata bagi Italia, atau bahkan menjadi bumerang.
Dua laga sebelum pertandingan terakhir, Italia sudah memastikan melenggang ke Afrika Selatan setelah bermain imbang melawan Irlandia. Tak ada yang menarik dan semuanya dijalani dengan enteng.
Timnas Italia juga tidak memainkan sepakbola yang mengagumkan di fase kualifikasi. Tak jarang juga keberuntungan memayungi Azzurri, termasuk saat melawan Siprus dan Georgia.
Marcello Lippi mengandalkan kesolidan di timnya, kekuatan kolektif skuadnya, tim. Dia tidak suka pemain individual. Karena itulah kohesi antarlini menjadi hal yang sangat penting di timnas Italia.
Italia juga memiliki pertahanan yang terkenal kuat. Saat ini posisi poros halang dihuni oleh trio Juventus, Fabio Cannavaro, Giorgio Chiellini dan Gigi Buffon sebagai tembok terakhir. Ketiganya sejauh ini masih bisa diandalkan.
Lini serang Italia dinilai sejumlah pihak kualitasnya cukup buruk. Mereka tak punya pemain seperti Lionel Messi, Zlatan Ibrahimovic atau fernando Torres. Alberto Gilardino, Vincenzo Iaquinta dan Giuseppe Rossi memang bagus, tapi penampilan mereka kerap angin-anginan. Mungkin kembalinya Francesco Totti atau Antonio Cassano bisa membawa perubahan untuk tim.
Pelatih Marcello Lippi adalah jaminan mutu. Pengalaman yang dimilikinya di berbagai level kompetisi sudah menjadi bukti tersendiri. Dia juga terkenal memiliki prinsip yang tegas dan rencana yang jelas untuk timnya. Meski kebijakan dan keputusannya tidak populis, hampir semua tugas dituntaskannya dengan memuaskan.
Inilah bintang Italia:
Gigi Buffon (Juventus, Italia)
Setelah beristirahat lama karena cedera, Buffon kembali menunjukkan performa terbaiknya dan menjadi kiper nomor satu di dunia lagi. Jika dia berada dalam kondisi 100 persen, dijamin gawangnya tidak akan kecolongan.
Giorgio Chiellini (Juventus, Italia)
Berdiri di bawah bayang-bayang Cannavaro tidak membuat talenta Chiellini tertutupi. Dia tetap tampil lugas dan menjadi salah satu pemain belakang terbaik Italia saat ini.
Andrea Pirlo (AC Milan, Italia)
Jika Pirlo bermain bagus, maka tim yang dibelanya juga akan bermain apik juga, dan aturan ini berlaku di Milan dan timnas Italia. Lippi juga memberinya tempat dan peran khusus di timnya untuk membebaskan Pirlo mengeluarkan kemampuan terbaiknya
Tahun 1982 dan 2006, kala Italia menjadi juara dunia adalah momen yang tidak terlupakan. Bahkan di tahun 1982, Italia tampil begitu meyakinkan sebelum menyegel titel dengan mengalahkan tim kuat seperti Argentina, Brasil dan Jerman. Di Jerman 2006, Italia menunjukkan performa yang kurang lebih sama.
Juara dunia harus bisa kembali menjadi juara dunia buat menyamai Brasil yang meraih juara sebanyak lima kali, tak ada target lain dan memang target itu dijunjung tinggi skuad Italia. Tersingkir sebelum semi-final sudah pasti akan membuat banyak fans mereka kecewa berat.
Penampilan di Piala Dunua: Juara 1934, Juara 1938, 1950, 1954, 1962, 1966, final 1970, 1974, 1978, Juara 1982, 1986, tempat ketiga 1990, final 1994, 1998, 2002, juara 2006. (goal/dll)
