21.11.2009 00:37:58 WIB
Oleh A. LATIF
DAPAT dikatakan hampir setiap hari, wong Palembang, baik yang asli Palembang maupun pendatang yang sudah lama menetap di kota tertua di Indonesia, itu makan pempek. Makanan dengan bahan baku sagu, daging ikan, yang kemudian dimakan setelah direbus atau digoreng bersama cuko.
Cuko bukan berati cuka. Cuko adalah kuah pempek yang terbuat dari gula aren, asam, cabai, dan garam, yang direbus bersama air. Rasanya asam, pedas, dan manis.
Nah, di Palembang begitu banyak warung pempek. Harganya pun bervariasi. Itu tergantung dari bahan baku ikannya. Yang menggunakan ikan laut, jauh lebih murah menggunakan ikan sungai seperti Belido, Gabus atau Putak.
Pempek yang dijual di warung pempek ini, tentunya tidak terjangkau oleh mereka yang punya penghasilan biasa saja. Maka, mereka pun akan membeli pempek yang dijual keliling oleh para pedagang pempek yang menggunakan bakul berlapiskan daun pisang.
Percaya atau tidak harga pempek ini dijual Rp1.000 per potong atau tiga potong dijual Rp2.000. Pempek yang dijual beragam, dari pempek telor kecil, pempek tahu, pempek adaan, pempek lenjer, hingga pempek kerupuk.
Selain di kampung, pempek ini juga banyak dijual di sekolah-sekolah. Pempek yang dijual tiga potong Rp2.000 itu biasanya di sekolah.
Para pedagang pempek keliling ini, ternyata tidak membuat sendiri. Mereka mengambil di sejumlah agen penjualan pempek. Artinya mereka hanya mengambil keuntungan dari selisih pembelian dan penjualan.
Salah satu agen pempek keliling ini adalah milik Nyimas Siti Hamzah, yang terletak di Lorong Kemasan RT.10, RW.09, Kelurahan 11 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1, Palembang.
Nyimas Siti Hamzah membuat pempek di dapur rumah panggungnya. Usaha ini dilakoni Nyimas Siti Hamzah selama 20 tahun.
Namun, sejak lima tahun terakhir, usaha pempeknya mengalami penurunan. Bila sebelumnya setiap hari sekitar 20 pedagang kililing yang mengambil, kini tinggal enam pedagang. Bahkan, kini dia bekerja sendirian, sebab empat pegawainya sudah diberhentikan lantaran produksinya menurun.
“Dulu dalam satu hari, saya mendapatkan keuntungan Rp650 ribu. Tapi sekarang berkisar Rp300 ribu. Padahal dulu harga pempek jauh lebih murah dari sekarang,” katanya.
Kenapa dapat menurun? Menurut dia kemungkinan sudah banyak orang yang menjadi agen pempek. Selain itu sudah banyak pula warung pempek yang cukup besar, membuka banyak cabang di Palembang. “Ya, kalah bersaing dengan mereka yang banyak modal,” katanya.
Pempek yang dijual kepada para pedagang pempek keliling itu yakni Rp400 per potong.
Meski mengalami penurunan, keuntungan Nyimas Siti Hamzah lumayan besar. Sebab modal yang dikeluarkannya per hari berkisar Rp300 ribu, dan pemasukan Rp600 ribu. Jadi keuntungannya menjadi agen pempek berkisar 100 persen.
