SEA Games 2011

Menaikkan Derajat ”Becak” pada SEA Games XXVI

coba

09.03.2011 19:34:33 WIB

ISLAM mengajarkan dan mengajak semua umat manusia selamat di dunia maupun akhirat. Oleh karena itu, setiap tindakan manusia, sekecil apa pun harus memberikan dampak positif bagi manusia lainnya. Termasuk pula penyelenggaraan SEA Games XXVI di Palembang yang harus berdampak
positif bagi masyarakat di Sumatra Selatan.
Gubernur Sumatera Selatan H. Alex Noerdin tahu betul akan kewajiban tersebut. Selain mendorong bidang usaha kecil yang akan menikmati pendapatan dari penyelenggaraan SEA Games XXVI, termasuk pula para pekerja kecil atau buruh lepas yang ada di Palembang. Misalnya para
penarik becak.
Biasanya, dalam berbagai event nasional maupun international di Indonesia, para penarik becak ”disingkirkan”. Becak dinilai mengotori atau membuat suasana kumuh, sehingga tidak layak ditampilkan di depan para para tamu yang datang.
Alex Noerdin memandang para penarik becak itu sebaliknya. Dia tidak mau selama penyelenggaraan SEA Games XXVI ini, rakyat kecil hanya menjadi ”penonton” atau tidak mendapatkan manfaatnya. Ini sama artinya penyelenggaraan SEA Games XXVI tidak sejalan dengan tujuan hidup
manusia seperti yang diajarkan Islam.
Oleh karena itu, para penarik becak ini akan dilibatkan sebagai tenaga transportasi para atlit dari berbagai negara di Asia Tenggara yang berada di kawasan venues SEA Games XXVI, Jakabaring, Palembang. Jumlah para penarik becak yang dilibatkan ini tidak sedikit, yakni ratusan
penarik becak, sekitar 350 tu
Selain memberikan dampak langsung kepada rakyat kecil, penggunaan becak ini juga sebagai wujud penggunaan kendaraan yang ramah lingkungan, dan tentunya tampak menarik dan santai bila dinaiki.
Apalagi becak ini bukan hanya sebagai kendaraan para atlit ke lokasi pertandingan, juga sebagai kendaraan buat berwisata atau jalan-jalan.
Sebagaimana diketahui, para penarik becak ini merupakan tenaga kerja nonformal yang tidak berbasis keahlian. Mereka yang memilih pekerjaan ini pada dasarnya hanya untuk bertahan hidup bersama keluarganya.
Sebagai wujud tanggungjawab sebagai umat muslim, yang mana Allah Swt mengharuskan setiap manusia mencari nafkah, seperti dalam firmanNya dalam Surat Al-Mulk Ayat 15 yang artinya: ”Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah
sebagian dari rezki-Nya.”
Atau seperti dalam firman Allah Swt pada Surat Hud Ayat 51 yang artinya, ”Wahai kaumku! Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan, melainkan Dia. Dia telah menciptakan kamu dari tanah (=bumi) dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya.”
Ujang (42), seorang penarik becak di Jalan Sentosa Plaju, Palembang, sangat mengharapkan dirinya terpilih sebagai salah satu penarik becak yang dilibatkan selama SEA Games XXVI. ”Mudahan bae aku banyak pendapatan selama SEA Games itu, biar uangnya digunakan biaya sekolah
anakku yang dua tahun lagi masuk SMA. Biaya sekolah memang gratis, tapi buku dan pakaiannya masih perlu dibeli,” kata Ujang.

Becak di Palembang
Di Palembang, jumlah penarik becak jumlahnya ribuan. Tahun 2008 lalu, ada sekitar 23 ribu penarik becak di Palembang. Umumnya mereka bukan tenaga kerja berpendidikan atau memiliki keahlian. Mereka menyebar di hampir setiap sudut kota Palembang.
Menurut data sebuah lembaga swadaya masyarakat di Palembang, para penarik becak ini merupakan tenaga kerja pendatang dari daerah. Mereka umumnya meninggalkan kampung halaman atau dusun buat mencari kehidupan yang lebih baik di Palembang.
Kaum miskin perkotaan di Palembang umumnya merupakan keluarga dari para penarik becak ini. Mereka menetap di sejumlah rumah yang tidak layak huni, seperti kamar-kamar sumpek dan lembab yang berada di kolong rumah atau di bedeng-bedeng.
”Jika ingin mengatasi kemiskinan di Palembang, langkah pertama yang harus dilakukan yakni memperkerjakan para penarik becak di berbagai sektor lain yang pendapatannya lebih baik,” kata Ruspanda Karibullah, koordinator Majelis LSM Sumsel.

Sekilas Sejarah Becak
Becak merupakan resapan dari bahasa Hokkien yakni be chia yang berarti “kereta kuda”. Becak terdapat di berbagai negara di Asia.
Di Indonesia ada dua jenis becak yang lazim digunakan. Yakni becak dengan pengemudi di belakang. Jenis ini biasanya ada di Jawa dan Palembang. Kemudian becak dengan pengemudi di samping, seperti di Sumatra Utara.
Nah, cara mengendarai becak juga ada dua yakni becak kayuh atau becak yang menggunakan sepeda sebagai kemudi. Kemudian becak bermotor yakni becak yang menggunakan sepeda motor sebagai penggerak.
Namun ada dua pendapat mengenai kendaraan ini. Becak memang dimengerti sebagai alat angkutan yang ramah lingkungan karena tidak menyebabkan polusi udara--kecuali becak bermotor. Selain itu, becak tidak menyebabkan kebisingan dan juga dapat dijadikan sebagai obyek wisata
bagi turis-turis mancanegara.
Meskipun begitu, kehadiran becak di perkotaan dapat mengganggu lalu lintas karena kecepatannya yang lamban dibandingkan dengan mobil maupun sepeda motor. Selain itu, ada yang menganggap bahwa becak tidak nyaman dilihat, mungkin karena bentuknya yang kurang modern. Jadi tak
heran, bila kota Jakarta sejak dasawarsa 1980-an melarang beroperasinya becak.
Kelompok yang menolak becak lainnya yakni menilai kendaraan ini merupakan “eksploitasi manusia atas manusia”.
Selain di Indonesia, becak juga masih dapat ditemukan di Malaysia, Singapura, Vietnam dan Kuba. Tapi di Singapura, becak kini hanyalah sebuah alat transportasi wisata saja.

Komentar


Berita Terkait