26.04.2010 22:54:45 WIB
Oleh JIMMY ZEHESKIEL GINTING
Harga bahan baku baja naik bertahap hingga Juni 2010 dengan besaran rata-rata dua kali lipat. Kenaikan terutama lebih disebabkan oleh naiknya bahan baku baja dunia di semester I-2010 yang berpengaruh terhadap tingginya biaya operasional produsen baja.
"Kenaikan harga tahun 2010 berbeda dibandingkan tahun 2008, karena tahun 2008 lebih didorong demand pull dan sebagian merupakan spekulasi. Sedangkan tahun 2010 kenaikan harga didorong oleh cost push," kata Co-Chairman Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Irvan Hakim dalam acara press conference di Jakarta, Senin (26/04/2010).
“Tahun 2008 lalu industri baja memberi diskon sampai 85 persen karena industri tiarap. Sekarang mereka pikir sudah saatnya menaikan kembali harga baja, selain itu memang ongkos produksi bahan baku juga naik," ujarnya.
Ia mengatakan, salah satu faktor pendorong naiknya ongkos produksi karena pertimbangan kebutuhan bahan baku dengan kandungan biji besi (Fe) yang bagus. Sementara bahan baku tersebut tidak cukup memenuhi kebutuhan yang ada sehingga penambangan dilakukan di lokasi lain atau dengan cara pengolahan (enrich) yang membutuhkan biaya logistik tambahan.
"Kalau selama ini bisa ditambang dekat dengan pelabuhan, sekarang harus lebih jauh ke dalam sehingga ada tambahan ongkos logistik," imbuhnya.
Selain itu, biaya pengiriman memakai alat transportasi berbahan bakar minyak juga terpengaruh oleh kenaikan harga minyak mentah dunia.
Perubahan kontrak iron ore dari tahunan menjadi kuartalan juga dinilai menjadi pemicu naiknya harga bahan baku baja internasional. Belum lagi perekonomian China yang terus membaik sehingga meningkatkan aktivitas konstruksi dan industrial production.
Para pebisnis, tampaknya, harus siaga menghadapi lonjakan harga baja, karena kenaikan bahan baku baja di pasar internasional hampir pasti akan mengerek harga baja lokal. The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) memperkirakan, setiap bulan, harga produk baja domestik akan naik Rp 100 - Rp 200 per kilogram. Jika dibandingkan akhir 2009, sampai kuartal III-2010, harga baja akan naik antara 16%-40%. Makanya, Irvan buru-buru mengingatkan agar para konsumen baja dan pemilik proyek secepatnya menyesuaikan penghitungan biaya proyek mereka.
Harga iron ore di triwulan II-2010 sebesar US$ 196,77 sen per dmtu, naik 103 persen jika dibandingkan tahun 2009 lalu sebesar US$ 96,99 sen per dmtu. Sementara perkiraan di triwulan III-2010 sebesar US$ 200 sen per dmtu.
Harga scrap di triwulan II-2010 sebesar US$ 458 per ton, naik 88 persen dari tahun 2009 sebesar US$ 243 per ton, di triwulan III-2010 nanti diperkirakan sebesar US$ 500 per ton.
Sedangkan harga slab di triwulan II-2010 sebesar US$ 735 per ton, naik 116 persen dibandingkan triwulan III-2010 sebesar US$ 340 per ton. Sementara di triwulan III-2010 diperkirakan US$ 750 per ton.
Industri baja nasional saat ini berkejaran dengan waktu untuk mengetahui formula kenaikkan harga di kuartal selanjutnya. Di negara-negara lain kenaikkan harga bahan baku baja periode Juni 2010 sudah terjadi yakni di Jepang sebesar 93% dan Korea sebesar 113%.
Irvan Kamal Hakim yang juga menjabat sebagai Direktur Pemasaran KS menjelaskan, untuk Krakatau Steel sendiri sampai saat ini demand stabil, permintaan baja fully booked sampai Juni 2010. Sementara untuk gambaran harga di bulan Juli akan diumumkan sekitar minggu pertama Mei. Dan produksi pabrik dalam kondisi running full capacity.
KS berkomitmen tetap memberikan full support untuk perhitungan enam bulan ke depan terutama kepada national projectseperti proyek infrastruktur.
Berikut harga produk baja domestik dalam rupiah/kg:
Produk 2009 April Estimasi Q3
HR/Plat Hitam 7.600 8.700 9.200
CR/Plat Putih 8.300 9.000 9.650
Batang Kawat 6.400 7.600 8.200
Paku 7.700 8.500 9.100
Besi Beton 6.400 8.100 9.000
Wire Mesh 7.000 8.200 9.050
Seng/Lembar 31.250 32.000 36.500
Foto: rangkaatap.com
