Selama 30 Tahun Sumsel Mendapat Pemasukan Pajak

RS Siloam Palembang
Menurut Gubernur Sumsel Alex Noerdin, pembangunan RS Siloam di Palembang menggunaka sistem BOT.

Yang dimaksud BOT atau build operate and transfer adalah bentuk kerjasama dimana Pemprov Sumsel memberikan hak penguasaan aset lahan, sementara Siloam berkewajiban untuk membangun, kemudian berhak mengoperasikan dan pada jangka waktu tertentu (dalam hal ini perjanjian Pemprov Sumsel-Grup Lippo selama 30 tahun) seluruh bangunan dan aset Siloam Hospital (RS Siloam) diserahterimakan dari Lippo ke Pemprov Sumsel.

Rumah sakit itu bisa tetap dikelola Siloam dengan syarat ada perjanjian terlebih dulu sebelum habis masa kerjasama BOT tersebut.

Dalam masa 30 tahun itu Pemprov juga mendapat pemasukan antara lain dari pajak, dan yang terpenting bisa menyerap tenaga kerja lokal. “Tidak ada provinsi yang bisa menarik Siloam dengan sistem BOT, baru Sumsel saja,” kata Alex.

Seperti diketahui saat ini Siloam ada di tujuh tempat yakni Siloam Lippo Village, Kebun Jeruk, Jakarta, Cikarang, Jambi, Surabaya dan Samarinda. Desember 2011, Siloam Makassar dibuka, sedangkan di Palembang akan diresmikan unit emergency lebih dulu untuk menyongsong SEA Games, November 2011 mandatang.

Rencananya, menurut CEO Siloam Hospital Lippo Village DR Andrey, dalam lima tahun ke depan bakal dibangun 25 rumah sakit di berbagai kota di Indonesia. Hal ini sesuai dengan misi Reach Scale yakni melayani kesehatan masyarakat dari segala lapisan.

Ditanya tentang demo kontra pembangunan Siloam, Andrey mengungkapkan penyebabnya karena kurang informasi dan komunikasi. “Kami merasa kurang memberikan informasi dan komunikasi sebelum pembangunan. Karena tuduhan yang dialamatkan ke kami tidak benar, tidak ada misi agama, kami murni berusaha di bidang kesehatan untuk segala lapisan masyarakat,” paparnya.

Di Palembang, selain membangun Rumah Sakit Siloam, Lippo juga membangun undermall dan sekolah internasional. Kompensasinya, Lippo merenovasi kolam renang Lumban Tirta serta membangun venues menembak untuk persiapan SEA Games. Juga merenovasi lapangan parkir Stadion Bumi Sriwijaya yang sebelumnya berkapasitas 400 mobil menjadi 800 mobil.

“Daripada sempit dan ditumbuhi rumput kan mending diperindah dan bisa menampung lebih banyak mobil. Kegiatan lain juga bisa dilakukan di sana,” papar Alex Noerdin.

Semakin Lengkap
Jika pembangunan Siloam Hospital Palembang lancar, diperkirakan semakin melengkapi rumah sakit yang ada. Selain RSMH, RS Charitas, RSI Muhammadiyah, RSI Siti Khadijah, RS Bari, RS Hermina, RS Siloam diperkirakan akan memudahkan warga memilih rumah sakit dan spesialisasinya masing-masing. Dan tentu saja kehadiran Siloam akan meningkatkan semangat manejemen rumah sakit lain untuk memperbaiki manajemen dan meningkatkan teknologi kesehatan.

Dokter Spesialis Bedah Pencernaan Siloam Surabaya, Prof Abdus Sjukur (69) mengungkapkan semula dia ragu ketika RS Budi Mulia diakuisisi Lippo Group dan dijadikan RS Siloam.

“Saya dan kawan dokter RS Budi Mulia akan mundur jika ada misi agama, ternyata gak benar. Semua agama dihormati di sini, bahkan 50 persen dokter di Siloam Surabaya beragama Islam, karyawannya 60 persen Islam. Kami juga punya musola di kompleks rumah sakit,” katanya.

“Kalaupun ada misi agama, saya yang paling pertama protes ,” tambah Abdus Sjukur, dokter paling senior di RS Siloam Surabaya.

Tentang pembangunan Siloam Palembang, Abdus Sjukur enggan berkomentar tapi dia berharap Siloam bisa dibangun di Palembang. Menurutnya, Siloam selalu memperbarui pelayanan kesehatan. Misal, Speak Up yang mengajak pasien tidak malu dan ragu untuk bertanya pada dokter atau rumah sakit tentang pengobatannya.

Juga jika pasien diberi obat ditanya dulu identitasnya untuk menghindari keliru memberi obat.
“Para dokter terus diberi kesempatan untuk updating ilmunya sehingga pasien pun semakin cepat sembuh,” ujar Abdus Shukur yang masih tampak energik ini.